Seperti yang dipapar oleh dokter spesialis kanker paru dan ahli imunoterapi, dr. Sita Laksmi PhD, SpP(K) bahwa dari tahun ke tahun tingkat pasien kanker paru semakin meningkat, lain halnya dengan kanker-kanker yang lain justru menurun karena sebagian bisa dideteksi.
Dengan adanya pengobatan imunoterapi dapat memberikan pencerahan pada pasien kanker paru stadium lanjut (stadium IV). Imunoterapi adalah bentuk pengobatan yang mencegah interaksi antara sel T milik sistem imun dan tumor. Saat tumor dan sel T berinteraksi, sebuah protein di tumor yang disebut Programmed Death-Ligand 1 (PDL-1) akan melumpuhkan sel T sehingga sel-sel imun ini tidak dapat mengenali dan membunuh sel-sel kanker.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui imunoterapi, interaksi ini bisa diblok sehingga sel T bisa mendeteksi dan membasmi sel-sel kanker. Oleh karena itu, pentingnya melakukan pemeriksaan PDL-1 jika pengobatan sebelumnya seperti kemoterapi, radioterapi, atau pengobatan yang lainnya tidak berhasil.
"Kalau saat pemeriksaan PDL-1 hasilnya responsif maka bisa dilakukan imunoterapi," jelas dr Sita.
Apabila saat pemeriksaan PDL-1 hasilnya tidak responsif, maka tidak dapat dilakukan imunoterapi. Imunoterapi yang diterapkan di Indonesia adalah sebagai terapi lini kedua.
"Kalau FDA (badan pengawas obat dan makanan di Amerika) sudah approve pada orang yang memiliki ekspresif/responsif pada PDL-1 lebih dari 50%. Setelah dicek ekspresif PDL-1 nya lebih dari 50% imunoterapi boleh dijadikan terapi first line. Tapi di Indonesia indikasinya masih second line, stadarnya masih kemoterapi," tuturnya.
Baca juga: Bupati Sampang Tutup Usia, Dokter: Sakit Kanker Paru (up/up)











































