dr Michael Nilsson dari University of Gothenburg, Swedia melakukan penelitian kepada 123 pasien stroke asal Swedia. Partisipan diminta untuk mengikuti terapi dengan olahraga berkuda dan mendengarkan musik selama 12 minggu.
Hasil penelitian menyebut 56 persen partisipan yang mengikuti terapi berkuda mengaku memiliki kondisi yang lebih baik. Sementara itu, mereka yang melakukan terapi musik 38 persennya juga merasakan hal yang sama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, hanya 17 persen dari kelompok kontrol yang tidak melakukan terapi berkuda dan musik yang mengalami perbaikan kondisi. Perasaan ini bertahan hingga lebih dari 6 bulan sejak berakhirnya masa studi.
"Bagi sejumlah besar pasien stroke, sangat tidak etis jika dokter mengatakan tidak ada yang bisa dilakukan meski sudah lebih dari satu tahun mengidap stroke. Perkataan tersebut bisa membunuh motivasi mereka untuk melakukan rehabilitasi lanjutan," tutur Nilsson, dikutip dari Reuters.
Baca juga: Kisah Elizabeth Tempuh 20 Km ke Puskesmas Terdekat untuk Atasi Stroke
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Stroke ini, peneliti menduga aktivitas fisik dari berkuda dan mendengarkan musik yang membuat para partisipan merasa lebih baik. Dengan perasaan yang lebih baik, para partisipan pun lebih semangat untuk menjalani terapi hingga selesai.
Dr Daniel Lackland, profesor epidemiologi dan neurologi dari Medical University of South Carolina, mengatakan hasil penelitian ini sangat menarik. Meski begitu, perlu dicatat bahwa merasa lebih baik tidak berhubungan dengan kemajuan terapi.
Baca juga: Lipatan Diagonal di Telinga Dikaitkan dengan Risiko Stroke
(mrs/ajg)











































