Beberapa orang memuji keberanian pasangan remaja tersebut untuk menikah, namun ada juga yang mencibir. Terlepas dari hal itu bila dilihat dari sisi kesehatan sendiri bagaimana komentar dari para ahli?
Baca juga: Marak Nikah Dini dan Seks Pranikah, Kehamilan Usia Remaja Meningkat
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ratih mengatakan ia beberapa kali menemui pasangan yang menikah terlalu muda bercerai di usia pernikahan yang baru seumur jagung.
"Kalau lulus SMA itu remaja akhir, biasanya butuh eksistensi diri. Tapi jika kemudian langsung menikah bisa jadi life stage yang tidak terisi 'minta diisi' suatu saat nanti," kata Ratih dalam perbincangan dengan detikHealth.
Kedua remaja ini menikah di usia 15 tahun. Foto: dok. Amanda Safitri (Facebook) |
""Kalau hanya sekadar 'nikah hajar sajalah' tanpa punya pekerjaan dan penghasilan yang sekiranya bisa membiayai hidup keluarganya, nantinya juga akan stres dan susah sendiri. Akhirnya minta uang lagi ke orang tuanya, atau malah utang sana-sini. Jadi sebaiknya jangan pakai prinsip 'gimana nanti' tapi 'nanti gimana'," lanjut psikolog yang praktik di RaQQi - Human Development & Learning Centre, ini.
Lalu dari segi kesehatan fisik, dr Arietta Pusponegoro SpOG(K) mengungkapkan di bawah usia 20 tahun, tubuh wanita belum siap untuk menerima kehamilan. Untuk itulah dianjurkan wanita untuk hamil dan melahirkan di usia 20 sampai 35 tahun.
Apa risiko yang bisa terjadi? dr Arietta mengatakan pada kehamilan remaja atau di bawah usia 20 tahun, risiko ketuban pecah dini lebih besar. Ketika ketuban pecah dini, maka terpaksa bayi dilahirkan prematur.
"Artinya bayi belum siap hidup di luar kandungan ibu karena organ-organnya belum matang. Terus misal ibu anemia, risikonya macam-macam, bisa perdarahan atau hipertensi," kata dr Arietta.
Baca juga: Catat, Ini Risiko Jika Wanita Hamil di Usia Terlalu Muda (fds/ajg)












































Kedua remaja ini menikah di usia 15 tahun. Foto: dok. Amanda Safitri (Facebook)