Minggu, 09 Jul 2017 18:09 WIB

Menangis dan Tertawa di Rumah Kedua

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: reza sulaiman
Jakarta - Pagi itu Dira terlihat sedikit murung. Senyum yang biasa menghiasi wajahnya hilang entah ke mana. Di pipinya terdapat bekas luka yang sudah mengering berwarna kecokelatan. Dengan sedikit gontai, Dira pun berjalan menjauhi ibunya menuju rak sepatu berwarna oranye, sembari bersiap-siap melepas sepatu pinknya.

"Maaf aunty, Dira hari ini mungkin agak sedikit rewel, soalnya bekas lukanya kadang masih suka gatal. Kemarin pipinya sempat kena percikan minyak goreng pas aku lagi masak," ucap Suci, ibunda Dira, sembari memberikan tasnya kepada seorang perempuan muda berjilbab oranye.

Aunty Erfi, begitu perempuan itu biasa disapa, melanjutkan percakapan dengan Suci soal kondisi Dira hari ini. Apakah tidurnya semalam nyenyak? Sudahkah Dira sarapan di rumah? Apakah Dira butuh perawatan tambahan untuk luka yang ada di pipinya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan sigap oleh Suci. Dira, balita berusia 2,5 tahun yang sedang diperbincangkan, sudah masuk ke dalam ruangan berwarna kuning dan krem ini untuk menghampiri teman-temannya.

Ya, Dira merupakan salah satu anak yang diasuh di Mandiri Daycare, sebuah unit Tempat Pengasuhan Anak (TPA) yang diperuntukkan bagi karyawan dan karyawati Bank Mandiri yang terletak di Plaza Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Kuningan, Jakarta Selatan. Setiap hari, Dira bersama kurang lebih 15 orang balita lainnya dititipkan oleh orang tua mereka di sana hingga jam kantor berakhir.

Sekitar pukul 9 pagi, seluruh anak sudah datang dan berkumpul. Para ibu termasuk Suci sudah naik ke lantai atas untuk bekerja di divisi masing-masing. Aunty Erfi mengatakan kepada saya bahwa hari ini ada jadwal anak-anak untuk mengunjungi taman direksi di lantai. Suara riuh dan ribut tanda antusiasme anak-anak pun terdengar. Dengan suara lembut namun tegas, Aunty Erfi meminta anak-anak untuk berbaris menjadi dua kelompok panjang.

"Agenda kita memang setiap hari Jumat dan Selasa itu ke taman direksi. Selain untuk memberikan anak pengalaman outdoor di luar ruangan, kita juga melakukan olahraga, memberikan makan ikan dan aktivitas fisik lain," ungkapnya.

Tak lama-lama di luar, sekitar 30 menit kemudian anak-anak sudah kembali ke ruangan daycare. Para pengasuh dan guru pun mulai menyiapkan peralatan yang akan digunakan dalam circle, istilah untuk menggantikan kata kelas bagi daycare, jam pertama. Anak-anak yang berusia di atas 3 tahun menuju ruangan belajar, sementara yang berusia di bawah 3 tahun tetap di ruang tengah.

Kegiatan circle bagi anak-anak di bawah 3 tahun yang disebut Super Tots cukup ringan. Mereka hanya diminta untuk menari dan bernyanyi mengikuti gerakan dan lagu yang diputar oleh para pengasuh. Lagu anak-anak, baik berbahasa Inggris maupun bahasa Indonesia, diputar selama satu jam.

Foto: reza sulaiman


Seorang bocah laki-laki bernama Rafa tiba-tiba menangis. Bocah lucu dengan rambut ikal itu menangis mencari mamanya. Seorang pengasuh mendekatinya dan menjelaskan bahwa ibunya saat ini sedang bekerja. Sembari menunggu ibunya menjemput, pengasuh bernama Sari itu pun mengajak Rafa untuk mengikuti kegiatan bersama teman-teman kelompok Super Tots lainnya.

Rayuan Sari ternyata tidak manjur. Rafa masih tetap saja menangis. Ia pun merentangkan tangan ke atas, gestur untuk meminta gendong oleh pengasuh. Namun Sari bergeming, ia akhirnya meninggalkan Rafa dan melanjutkan kegiatan kembali. Tak mendapat respons yang diharapkan, Rafa pun berhenti menangis dan pelan-pelang beringsut mendekati kelompoknya.

Foto: reza sulaiman


Saya akui, melihat anak berusia 1 tahun menangis memang sedikit menyayat hati. Insting saya menyuruh saya untuk menggendong Rafa sembari berupaya mendiamkannya agar tidak menangis. Saya pikir wajar saja seorang anak menangis ketika merindukan ibunya, meskipun baru satu jam lalu mereka berpisah di depan pintu ruangan daycare.

Mendengar apa yang saya utarakan, Aunty Erfi tersenyum. Perempuan yang menjabat sebagai Koordinator II Mandiri Daycare ini menyebut masyarakat Indonesia memiliki adat ketimuran yang kental sehingga anak yang menangis selalu dianggap butuh perhatian dan harus dipenuhi segala keinginannya. Padahal di usia 1 tahun, anak sudah mampu melakukan komunikasi secara verbal, meskipun terbatas, dengan orang dewasa tanpa harus menangis.

"Kalau di sistem pembelajaran kami memang tidak disarankan untuk menggendong anak yang menangis, karena itu bukan merupakan cara komunikasi yang bagus dari anak ke orang tua. Di sini, kami mengajarkan anak-anak untuk mengutarakan apa yang mereka mau tanpa harus menangis. Bisa lihat sendiri kan, Rafa begitu dicuekin sama pengasuh nangisnya berhenti karena tidak mendapatkan respons yang ia harapkan. Mungkin dia menangis hanya karena bosan atau ngantuk, bukan benar-benar merindukan mamanya," urai Aunty Erfi panjang lebar.

Selain bernyanyi dan menari, anak-anak di circle Super Tots juga distimulasi motorik kasarnya dengan beberapa wahana halang rintang. Fungsi dari wahana ini adalah untuk mengembangkan kemampuan motorik kasar anak-anak dengan cara melatih keseimbangan, berjalan lurus dan teratur, serta mengikuti petunjuk.

Aunty Erfi mengatakan kegiatan circle Super Tots yang bernyanyi dan menari biasanya berakhir pukul 12 siang. Saya pun mengalihkan perhatian ke ruang belajar tempat kelompok Right Steps, anak-anak yang berusia di atas 3 tahun, melakukan circlenya.

Berbeda dengan circle Super Tots yang dilakukan di atas lantai, di ruangan luas, dengan jumlah anak 10 orang, circle kelompok Right Steps memiliki bangku dan meja kecil tempat anak-anak duduk. Tata ruangannya sedikit mirip dengan ruangan kelas bagi anak-anak TK dan PAUD, meskipun ruangannya lebih kecil karena hanya diisi oleh 5 orang anak.

Uncle Steven, guru sekaligus Koordinator I di Mandiri Daycare, sedang menjelaskan pada anak-anak soal garis. Menggunakan pensil warna, anak-anak menggambar garis lurus di atas kertas yang sudah disediakan. Setelah semua anak selesai, Steven pun mengeluarkan gunting plastik dan meminta anak-anak untuk menggunting mengikuti garis lurus yang sudah digambar.

Foto: reza sulaiman


"Fungsinya ini untuk melatih motorik halus anak. Tujuannya bukan hanya agar anak bisa menggunakan gunting dengan benar dan aman. Tapi supaya otot jari dan tangannya juga terlatih menggunakan benda-benda kecil. Ke depannya nanti anak jadi lebih mudah mengancing baju atau mengikat tali sepatu sendiri," ungkap Uncle Steven.

Memiliki pengalaman 14 tahun mengajar anak-anak membuat Uncle Steven bisa mengontrol kelompok Right Steps dengan tegas tanpa nada tinggi. Circle berlanjut dengan menggambar berbagai bentuk garis lain dan mengguntingnya sesuai gambar. Setelah itu, anak-anak diminta untuk mewarnai gambar dengan pensil warna yang sudah disediakan.

Soal rapor dan penilaian, Mandiri Daycare memang memilikinya. Meski begitu Uncle Steven mengatakan sistemnya berbeda dengan rapor di sekolah yang ditulis dengan nilai. Di sini, anak-anak dinilai dengan tiga kategori, yakni belum mampu, sudah mampu dan mahir.

"Misalnya yang menggunting ini, anak dikategorikan sudah mampu. Maka stimulasinya pun naik tingkat ke yang lebih sulit, menggunting zig-zag misalnya. Sementara yang belum mampu masih akan mengulanginya sampai bisa, tapi tanpa paksaan ataupun hukuman," ungkapnya.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Circle pun diakhiri dan anak-anak bersiap untuk makan siang. Layaknya daycare-daycare lain di Jakarta, Mandiri Daycare menyediakan menu makan siang bagi anak-anak. Di ruang makan ini satu pengasuh mengawasi sekitar 4-5 anak yang sedang makan. Anak-anak di bawah usia 1 tahun masih harus dibantu dan disuapi makannya. Namun mereka yang lebih besar sudah bisa makan sendiri ddengan pengawasan pengasuh.

Sekitar pukul 12.30, anak-anak mengganti baju dengan piyama. Aunty Erfi mengatakan pukul 12.30 hingga pukul 16.00 merupakan waktu tidur siang wajib bagi anak-anak. Kelompok kamar dibagi menjadi dua bagian, satu kamar untuk anak laki-laki dan satu kamar lainnya untuk anak perempuan.

Waktu tidur anak-anak ini dimanfaatkan oleh para pengasuh dan guru untuk makan siang dan beristirahat. Saya pun berbincang-bincang dengan Uncle Steven dan Aunty Erfi terkait suka duka mengajar dan mengurus daycare seperti ini. Perbincangan pun menyinggung kondisi masyarakat saat ini yang mudah terpecah-belah dan diadu domba.

"Saya nggak cerita bohong. Tapi ada beberapa orang tua yang menolak anaknya diberikan materi yang berseberangan dengan keyakinannya. Misalnya penggunaan simbol agama atau kebudayaan tertentu, dia nggak mau, menolak untuk anaknya diajari soal hal itu. Padahal mengenal agama, ras, suku dan budaya lain di Indonesia penting bagi anak karena nanti ketika sudah besar, mereka akan bertemu dengan berbagai macam orang kan," ungkap Uncle Steven.

Tak terasa waktu sudah mendekati pukul 16.00. Sebagian anak yang sudah terbangun dari tidur siang mulai melepas bajunya dan menuju kamar mandi. Jadwal selanjutnya memang jam bebas yang biasanya digunakan pengasuh untuk memandikan anak-anak dan memberikan snack sore, sembari menunggu jam pulang kantor pukul 17.00.

Satu persatu ibu datang menjemput anaknya. Para pengasuh dan ibu pun kembali berbincang hangat soal kegiatan apa saja yang sudah dilakukan hari ini. Aunty Erfi menjelaskan kepada Suci bahwa Dira hari ini tidak serewel yang ditakutkan. Memang ada beberapa momen di mana ia sedikit rewel, namun dengan ajakan bermain dari teman-temannya, rasa sakit atau gatal karena luka di pipinya pun tidak terasa.

Suci yang sudah menitipkan Dira sejak usia 1 tahun pun mengaku puas dengan program, pelayanan dan fasilitas yang disediakan oleh Mandiri Daycare. Sudah satu setengah tahun Dira dititipkan di sana dan tidak ada sedikitpun niat Suci untuk mengeluarkan anaknya dari daycare.

"Daycare ini sudah kayak rumah kedua. Ibu-ibunya pun sudah saling kenal. Karena sebagai ibu pun kami tahu, waktu yang kami punya sama anak di rumah terbatas dan tidak bisa memberikan stimulasi maksimal. Dengan daycare, tumbuh kembang anak terjaga tanpa mengorbankan pekerjaan," tutup Suci. (mrs/up)