The Institute: Sisi Gelap Institut untuk Pasien Gangguan Mental Kaya

Cinemathoscope

The Institute: Sisi Gelap Institut untuk Pasien Gangguan Mental Kaya

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kamis, 20 Jul 2017 11:06 WIB
The Institute: Sisi Gelap Institut untuk Pasien Gangguan Mental Kaya
Foto: youtube
Jakarta - Pasca kematian kedua orang tuanya, Isabel Porter merasa ada yang berbeda dengan dirinya. Menurut dokter pribadinya, Dr Turrington, respons yang diperlihatkan Isabel merupakan akibat dari rasa kehilangan yang sangat besar, apalagi karena kejadiannya terjadi secara mendadak.

Dokter yang sama kemudian memberikan saran agar Isabel menjalani pemulihan di sebuah fasilitas bernama Rosewood Institute.

Awalnya sang kakak, Roderick tak paham mengapa Isabel harus diinapkan di institut tersebut jika memang ia hanya butuh pemulihan diri. Roderick bisa saja mengajak saudarinya berlibur ke Italia. Namun Isabel menolak, sebab itu akan mengingatkan dirinya akan ayah dan ibu mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk meyakinkan Roderick, Dr Turrington mengatakan bahwasanya di Rosewood pengobatan yang diberikan tergolong mutakhir pada masa itu, lengkap dengan para staf yang telah terlatih dengan baik.

Ditambah lagi institut Rosewood telah lama dipercaya menangani masalah kejiwaan yang dialami keluarga-keluarga terpandang di AS, sehingga sudah terjamin pelayanannya.

Roderick dan Isabel kemudian diajak melihat-lihat Rosewood. Dengan didampingi seorang suster, mereka diperlihatkan sebuah taman yang tertata apik di mana ada beberapa pasien tampak tenang membaca buku.

Namun perhatian mereka kemudian teralihkan oleh sosok seorang wanita yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Penampilan wanita ini sedikit berantakan dan ia bicara sendiri. Bukan bicara tetapi lebih kepada seperti membaca syair.

Isabel merasa pernah mendengar syair yang dibaca wanita tersebut. Ia lantas menghampiri wanita ini dan bertanya, "Apakah kau mengutip salah satu buku Hawthorne?"

Sayangnya wanita ini tak memahami perkataan Isabel. Begitu melihat wanita ini, suster yang mendampingi Isabel juga segera meminta staf lain untuk membawanya pergi. Dengan wajah sedikit panik, sang suster berupaya menjelaskan bahwa itu adalah salah satu pasien mereka yang kondisinya lebih berat. Tetapi ia juga memastikan pasien seperti itu tidak akan berada satu gedung dengan Isabel.

Hingga akhirnya Roderick pun berpamitan, meski pria muda itu masih diliputi keraguan. Roderick lebih memilih menuruti keinginan sang adik dan sebelum pergi memastikan akan menjemput saudarinya jika ia mengaku tak kerasan.

Sebenarnya pengobatan seperti apa yang akan diperoleh Isabel di institut tersebut?

1. Hari-hari pertama

Foto: youtube
Begitu Roderick pulang, Isabel diantar ke kamar. Karena kelas sosialnya yang tinggi, maka Isabel pun memperoleh satu kamar tersendiri. Namun dalam perjalanan menuju kamarnya, ia penasaran pada tangga yang mengarah ke bagian gedung lain yang mereka lewati.

Meski begitu sang pengantar yang juga pesuruh di institut itu, Gunther, mengingatkan bahwa Isabel tak diperkenankan untuk berkunjung kesana.

Malam itu ia dikagetkan oleh kedatangan seorang pria. Pria berkumis lebat ini memperkenalkan diri sebagai Dr Cairn, yang tak lain adalah psikiater yang ditugaskan untuk menangani Isabel.

Cairn juga membawakan sebotol kecil cairan berwarna merah yang diklaimnya sebagai obat agar diminum oleh Isabel. Setelah meminum obat itu, Isabel mengaku dirinya sudah merasa lebih baik. Namun Cairn mengingatkan akan efek sampingnya, berupa mimpi yang seringkali terasa sangat nyata.

Sesi pertama mereka dimulai keesokan paginya. Sebelum berkonsultasi, Isabel diminta meminum obat yang sama lalu menjelaskan keluhannya.

Isabel mengatakan semenjak kematian orang tuanya karena kecelakaan, ia merasa gelisah dan insomnia. Ia menambahkan keterangan dari Turrington tentang kepribadian Isabel yang sering disebut memiliki keinginan yang kuat dan terlalu ingin tahu, padahal ini tidak sesuai dengan karakter seorang 'lady'.

Pada masa itu, kesehatan fisik dan mental seorang wanita seringkali terabaikan. Mereka juga cenderung dikekang, apalagi jika ia berasal dari kelas sosial yang tinggi.

Isabel merasa keberatan dengan keterangan Turrington tersebut, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Untungnya Cairn sepakat dengan pendapat Isabel, bahkan memprediksi bahwa Isabel sebenarnya hanya ingin bebas. Di situlah Cairn menjanjikan akan memberikan terapi terbaik untuknya.

Hingga suatu malam, Isabel terbangun karena mendengar suara teriakan dari bagian gedung yang pernah ditanyakannya kepada Gunther. Karena penasaran, ia langsung mengambil lilin untuk penerangan dan menyusuri tangga tersebut.

Ia kemudian terhenti di depan sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka dan melihat seorang pria tengah melakukan sesuatu di atas meja. Betapa terkejutnya Isabel karena itu tampak seperti mayat yang masih mengeluarkan darah segar namun sudah tidak bergerak sama sekali.

Isabel berhamburan keluar dan bertabrakan dengan seorang psikiater lain di institut tersebut, Dr Jacobs. Ia kemudian menjelaskan jika pria tadi adalah Dr Lemelle, ahli bedah mereka.

Untuk meredakan rasa takut Isabel, Dr Jacobs mengajaknya menemui Dr Lemelle. Ternyata yang tengah digarap oleh Dr Lemelle bukanlah mayat manusia, melainkan bangkai seekor babi yang baru saja diambil otaknya untuk keperluan riset.

Belum sepenuhnya tenang, Isabel dikejutkan oleh hal lain begitu sampai di kamarnya. Tiba-tiba saja ada seorang wanita yang keluar dari lemarinya sembari mengacungkan sebilah pisau kepada Isabel. Ia adalah pasien yang ditemui Isabel sebelumnya di taman.

Ia berusaha tenang dan menenangkan wanita itu dengan mengatakan akan memanggilkan Dr Cairn untuknya. Tetapi upaya ini tidak mempan. Wanita itu terus berteriak-teriak meminta tolong kepadanya karena mengaku akan dipersembahkan kepada iblis.

Untung seorang perawat mendengar hal ini dan segera membantu Isabel mengamankan wanita itu bersama Gunther.

2. Kecurigaan Roderick

Foto: youtube
Beberapa waktu kemudian, Roderick mengunjungi sang adik. Ketika ditanya tentang perkembangannya, Isabel menjawab bahwa pengobatan yang dilakukan Cairn telah banyak membantunya.

Namun dari pandangan Roderick, adiknya tampak berbeda. Ia bahkan terlihat tidak fokus ketika diajak bicara. Meski begitu Isabel meyakinkan Roderick bahwa itu hanyalah efek samping dari pengobatannya.

Merasa ada yang tak beres, Roderick memutuskan menjumpai seorang detektif bernama Thomas. Ia menceritakan awal mulanya sang adik masuk ke Rosewood Institute dan bagaimana ia merasa ada yang janggal dengan tempat itu walaupun direkomendasikan oleh dokter pribadinya.

Mendengar hal ini, Thomas sempat terdiam. Namun setelah didesak, Thomas mengaku mendengar banyak rumor tentang fasilitas itu sejak lama. Hanya saja ia meyakinkan bahwa itu hanya rumor. Jawaban itu tidak memuaskan Roderick dan Thomas memilih untuk meninggalkan pria ini dalam tanda tanya.

Di institut, Isabel yang masih penasaran menyusuri lagi bagian gedung yang tidak seharusnya didatanginya. Sampailah ia di dalam sebuah ruangan yang mirip bangsal dan dipenuhi pasien wanita. Semuanya asyik dengan kegiatannya sendiri-sendiri; ada yang berguling-guling di lantai, tertawa-tawa sendiri. Isabel sempat ketakutan berada di tengah-tengah mereka, hingga ada seorang wanita yang membantunya lolos.

Di depan pintu, keduanya bertemu dengan Suster Oaks yang datang membawa sediaan obat untuk pasien-pasien itu. Ia cukup terkejut melihat Isabel, namun ia berupaya tenang dan mengatakan pintu ruangan itu seharusnya terkunci lalu Isabel diantarnya keluar.

Cairn mendengar hal ini, dan ia menanyakan bagaimana Isabel bisa sampai ke bangsal yang disebutnya sebagai 'The Pit' itu. Cairn mengira gadis ini tersesat tetapi Isabel mengaku jujur bahwa ia hanya ingin tahu.

Dokter berkumis tebal itu sebenarnya tak mempermasalahkan keingintahuan Isabel. Ia malah kemudian menawari gadis ini dengan metode pengobatan yang digunakannya untuk pasien-pasien yang dirawat di The Pit. Tanpa pikir panjang, Isabel pun menyanggupinya.

Untuk itu Isabel dipindahkan ke ruangan yang baru, bahkan ia dipakaikan baju pasien seperti lainnya. Obatnya pun berbeda.

Suatu malam, Isabel terbangun dari tidur karena mendengar suara sejumlah orang seperti sedang merapal mantra dalam bahasa Latin. Setelah ditengok, mereka berada di sebuah aula dan di hadapan mereka ada seorang wanita yang sepertinya sudah tidak bernyawa ditidurkan di hadapan mereka.

Tampak pula Cairn dan Dr Lemell di sana. Cairn berdiri di tengah sekumpulan wanita, sedangkan Dr Lemell berada di depan mereka. Secara mengejutkan Lemell kemudian membuka kulit kepala wanita yang terbaring tadi. Melihat hal itu, Isabel syok dan berlari menjauh. Belakangan Isabel tahu jika itu hanya mimpi.

Mimpi ini kemudian ditanyakan kepada Cairn. Menurut Isabel, mimpinya tak hanya aneh, tetapi juga terasa sangat nyata. Tetapi Cairn meyakinkan bahwa itu hanyalah proyeksi dari pikiran isabel yang mencoba menghapus kesedihan yang dirasakannya.

Namun saat Cairn bertanya tentang efek obat yang diberikan kepadanya. Isabel mengaku kondisinya menjadi jauh lebih baik. Dari situ Cairn menyimpulkan bahwa Isabel dibawa ke fase pengobatan selanjutnya.

Sementara itu masih diliputi rasa penasaran, Roderick berkunjung lagi ke Rosewood beberapa hari kemudian. Tak disangka di depan pintu, ia bertemu dengan salah seorang kenalannya. Ternyata kenalan Roderick tersebut bersama istrinya datang karena ingin menjemput pasien yang pernah ditemuinya dan Isabel di taman beberapa waktu lalu. Roderick sempat menyapanya namun wanita itu hanya terdiam dengan pandangan kosong.

Kebetulan Isabel sedang bersama Dr Jacobs di dekat lobi rumah sakit. Begitu Roderick masuk dan mendapati penampilan Isabel yang berbeda, pria itu terkejut. Bahkan ia sempat mengomentari kuku-kuku Isabel yang kotor.

Saat mendapat kesempatan untuk bicara empat mata dengan Roderick, Isabel mengaku lebih rileks dengan pengobatan yang ada. Anehnya, Roderick mengaku tak bisa memahami setiap perkataan yang keluar dari mulut sang adik.

Ia pun langsung mengajaknya pulang tapi Isabel menolak, karena ia merasa harus tinggal di institut tersebut sampai sembuh. Isabel bahkan meminta kakaknya pergi begitu saja.

Meski keberatan, Roderick sempat mencuri sebotol obat dari kantong baju Isabel dan membawanya pulang. Malamnya, ia menuliskan surat kepada detektif Thomas dan memintanya untuk melakukan investigasi terhadap Rosewood.

3. Metode pengobatan yang tak lazim

Foto: youtube
Keesokan harinya Cairn mengajak Isabel ke sebuah ruangan yang disebutnya sebagai Ruang Pengendalian. Dalam ruangan itu, kedua tangan Isabel diborgol ke atas. Kendati wajahnya penuh tanda tanya, Isabel berusaha percaya pada Cairn.

Namun Isabel semakin kebingungan ketika kemudian Cairn memanggil Suster Oaks dan memintanya melepas pakaian Isabel, lalu mencambuk tubuhnya.

Isabel berteriak kesakitan sambil menangis. Di sela-sela itu, Cairn memberinya obat lagi, sembari menjelaskan apa maksud dari terapi tersebut. Perlahan isabel mulai tenang dan tidak berteriak sehisteris sebelumnya.

Selepas itu Cairn mengucapkan selamat kepada Isabel karena dianggap telah berhasil masuk ke tahapan baru dalam hidupnya. Tapi Isabel masih belum memahami apa maksudnya. Karena penasaran, ia memutuskan menjumpai kepala perawat untuk menanyakan tentang metode yang diterapkan Cairn.

Si kepala perawat tidak memberikan jawaban yang mencerahkan. Ia malah menganggap Isabel gadis yang lemah karena seolah menyiratkan keinginannya untuk berhenti.

Saat makan malam, Isabel mencoba bicara dengan pasien lain yang pernah menolongnya beberapa waktu lalu. Isabel mempertanyakan mengapa sebagian besar pasien wanita disitu seolah tidak terurus. Menurut rekannya, kebanyakan dari mereka memang gelandangan dan tidak punya keluarga. Dokter tidak berupaya menyembuhkan mereka tapi mereka diletakkan di institut tersebut agar terisolasi dari dunia luar.

Kemudian rekannya balik bertanya tentang terapi Isabel. Isabel awalnya bercerita bahwa metode yang digunakan Cairn tidak lazim, tapi karena melihat reaksi temannya yang kebingungan, ia pun mengurungkan niatnya untuk bercerita.

Terapi Isabel dimulai lagi bersama Suster Oaks. Kali ini suster berwajah judes itu memulai terapi dengan menanyakan nama dan asal Isabel. Tetapi ketika Isabel menjawab apa adanya, Oaks malah mengatakan itu keliru. Sebagai 'hukuman', kaki telanjang Isabel disiram air panas.

Terapi itu diulang beberapa kali, tak peduli bagaimana Isabel mencoba menahan kesakitannya, namun Oaks meyakinkan bahwa itu adalah demi kebaikan Isabel. Begitu terapi selesai, malamnya Cairn berkunjung ke kamar Isabel dan memberinya obat. Di situ pula Cairn berpesan bahwa dalam waktu dekat, ujian terakhir untuk Isabel akan tiba.

Malam itu, Isabel berjalan seorang diri menyusuri lorong dan tangga menuju Ruang Pengendalian. Semakin dekat ke ruangan itu, semakin ia mendengar suara sejumlah wanita seperti merapal entah mantra entah doa. Ternyata mereka berdiri mengelilingi seseorang yang tangannya diikat ke atas. Ada juga Cairn di sana.

Begitu melihat Isabel, Cairn meminta sesuatu yang dikatakannya sebagai ujian terakhir untuk mengetes komitmen gadis ini. Ternyata wanita yang tangannya diikat di ruangan itu adalah Margaret, pasien yang menjadi teman baik Isabel dan beberapa kali membantunya.

Namun di hadapan Cairn, entah mengapa Isabel menuduh Margaret menanamkan kebohongan dalam dirinya dan mencoba mempengaruhi Isabel agar melawan sang dokter. Mendengar hal itu, Margaret memperlihatkan raut wajah kebingungan.

Untuk 'membersihkan diri' Margaret, Isabel lantas diminta untuk memecut tubuh temannya itu dengan sekuat tenaga. Punggung Margaret bahkan sampai berdarah-darah. Keesokan paginya, ganti Isabel yang kebingungan karena tak bisa menemukan Margaret. Namun gadis ini tak pernah terlihat lagi sejak saat itu.

4. Penelusuran Roderick

Foto: youtube
Di tempat lain, Roderick meminta bantuan seorang ilmuwan untuk mengecek kandungan dalam obat yang diberikan kepada sang adik. Menurut ilmuwan tersebut, cairan itu berisi ekstrak akar Indian dan bunga aconite/wolfsbane.

Kombinasi keduanya tak lain merupakan racun. Racun ini memang tidak mematikan, namun jika diberikan dalam kurun waktu yang lama maka ini akan memunculkan efek yang tidak menyenangkan pada pikiran yang meminumnya.

Berbekal obat itu, Roderick semakin yakin untuk menemui detektif Thomas lagi. Pria ini kemudian memberikan sejumlah informasi tentang Rosewood.

Rosewood rupanya disokong oleh sebuah kelompok rahasia bernama Acronite Society. Hanya saja Thomas curiga jika kelompok ini memiliki anggota orang-orang berpengaruh sehingga mustahil untuk disusupi. Roderick sempat menawarkan imbalan yang setimpal agar Thomas mau melanjutkan penelusurannya, tetapi Thomas bersikeras menolak.

Lagi-lagi buntu, Roderick memutuskan menemui kenalannya yang pernah bertemu dengannya di Rosewood. Namanya Baxter. Namun saat berkunjung ke kediamannya, kepala rumah tangga Baxter mengatakan tuannya sedang tidak berada di rumah.

Berikutnya Roderick nekat masuk ke kediaman Baxter melalui pintu masuk lain. Setelah berhasil masuk, Roderick menemukan sebuah ruangan di mana gadis yang pernah dijemput Baxter di Rosewood sedang terbaring di atas meja.

Sayangnya gadis itu sudah tak bernyawa dan di sekeliling tubuhnya terdapat buah-buahan dan makanan seakan-akan dia adalah bagian dari pemujaan. Tubuhnya pun bersimbah darah. Di sebelahnya ada juga sebilah pisau nampaknya dipakai untuk menghabisinya.

Tak hanya itu, Roderick juga menemukan sebuah undangan pertemuan dari Aconite Society untuk Baxter. Namun belum pulih dari syok, Roderick kembali dikejutkan dengan suara Baxter yang masuk ke dalam ruangan itu dalam keadaan nyaris telanjang, begitu juga dengan wanita yang bersamanya.

Keduanya mengenakan topeng etnik tetapi sama sekali tak terkejut melihat ada sesosok jenazah di atas meja. Mereka justru tertawa-tawa gembira sembari meminum segelas anggur. Tetapi belum selesai bicara, keduanya terkejut melihat Roderick.

Baxter langsung berupaya menghajarnya. Namun secara kebetulan Roderick membawa pisau yang kemudian ditancapkan ke bahu Baxter, dan seketika itu juga melumpuhkan pria ini. Sebelum berlalu, Roderick sempat mengambil topeng yang dikenakan Baxter dan membawanya pergi.

Ternyata dengan topeng itu Roderick mencoba menyelinap masuk ke dalam pertemuan yang diselenggarakan untuk anggota Acronite Society. Seluruh pesertanya mengenakan topeng etnik yang berbeda-beda, kecuali sejumlah wanita yang nyaris telanjang, seolah dipamerkan di hadapan para pengunjung.

Tak berapa lama seorang wanita menghampiri Roderick dan mengajaknya berdansa serta menenggak sebuah cairan yang dikatakannya sebagai racun. Tetapi Roderick menolak untuk meminum cairan itu. Wanita ini lantas membawanya ke suatu tempat.

Beberapa waktu sebelum pertemuan ini, Isabel diberi identitas baru oleh Cairn sebagai pertanda bahwa pengobatannya berhasil. Ia diminta berakting dan dipasangkan dengan pasien lain. Keduanya juga dijadwalkan untuk membuat pertunjukan.

Isabel masih bingung dengan apa yang diinginkan Cairn, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan sang dokter. Ternyata Isabel akan diperkenalkan di hadapan anggota Acronite Society sebagai bukti keberhasilan terapi pengobatannya.

Isabel pun muncul dan mulai terlibat dalam semacam ritual, disaksikan anggota Acronite Society. Di tengah ritual, Roderick berteriak dan berupaya menghentikan ritual tersebut. Beberapa pria kemudian berusaha menahannya dan membuatnya berlutut.

Anehnya, ketika melihat sang kakak, raut wajah Isabel tak berubah. Ia bahkan meminta Roderick diikat ke altar, lalu tanpa basa-basi, ia menghujamkan pisau ke dada Roderick dan berlalu.

Beberapa waktu kemudian Isabel baru menyadari apa yang telah ia lakukan kepada sang kakak, tetapi penyesalannya datang terlambat. Ia hanya bisa menangis. Namun kini ia diminta menjalani percobaan tambahan di mana ia dibaringkan di sebuah ruangan yang gelap dan dipapari kilatan cahaya beberapa kali.

5. Balas dendam

Foto: youtube
Di kamarnya yang gelap itu, Isabel semakin tak berdaya. Gadis cantik ini tak lagi punya nafsu makan. Isabel lantas memutuskan untuk meminta bantuan kepada Gunther, pria yang biasa mengantarkan makanan kepadanya. Ia mengatakan, "Tolong bantu aku. Jika tidak, bunuh saja aku, akhiri ini semua."

Gunther berupaya menenangkannya, sembari menyerahkan secarik kertas. Di kertas itu tertulis: taman di bawah jembatan, di tengah malam. Malam tiba, Isabel berhasil menyelinap keluar. Ternyata pengirim pesan itu adalah Margaret.

Masih berada di bawah kendali obat yang diminumnya selama ini, Isabel pun sempat tak mengenali Margaret. Namun Margaret berhasil menyadarkan temannya itu. Saat itulah keduanya berpelukan.

Isabel juga mengaku bermimpi membunuh Margaret. Margaret tak menjawab tetapi ia menunjukkan bekas luka di punggungnya. Isabel semakin sadar dengan apa yang telah dilakukannya ketika berada di bawah pengaruh obat-obatan. Ia pun menangis penuh penyesalan saat melihatnya.

Namun terlepas dari itu Margaret meyakinkan bahwa ia tetap mau membantu Isabel karena bagaimana Isabel adalah satu-satunya teman yang dimilikinya. Keduanya kemudian mencari tempat yang aman untuk bersembunyi dan berbagi cerita.

Menurut Isabel, karakter yang diperankannya adalah bagian dari terapi, tetapi berbarengan dengan itu, Isabel mengaku sering bermimpi buruk, termasuk menyakiti orang-orang dekatnya. Dari situ ia menyadari bahwa penyebabnya adalah Cairn.

Dengan bantuan Gunther, Isabel memperoleh informasi tentang apa saja yang akan ditemuinya saat pertemuan Acronite Society nanti. Pria bertubuh bungkuk ini juga memberinya sebuah kunci.

Isabel dan Margaret lantas menyelinap masuk ke tempat penyimpanan obat milik Rosewood dan mencari botol bertuliskan 'Wolfsbane', yang tak lain obat yang diberikan kepadanya selama ini. Tepat setelah mrk menemukannya, keberadaan Margaret diketahui oleh Lamelle. Margaret memang meminta Isabel untuk bersembunyi.

Malam itu juga Cairn datang menjemput Isabel dan mengatakan bahwa malam ini adalah saatnya memberi pertunjukan terbaik sembari memberinya obat. Begitu Cairn berlalu, Isabel memuntahkan obat itu. Lalu ritual yang dipimpin Cairn pun dimulai.

Di atas panggung itulah Isabel berpura-pura berakting sebagai karakter yang diinginkan Cairn. Tiba-tiba di tengah pertunjukan, Isabel berteriak ke seluruh peserta yang ada dalam ruangan itu dan mengatakan mereka akan dihakimi.

Tak berapa lama setelah Isabel mengatakan hal itu, satu-persatu peserta terbatuk-batuk dan berteriak kesakitan sembari memegangi tenggorokan mereka. Satu-persatu tumbang.

Cairn kemudian melarikan diri dan Isabel mengejarnya tetapi sempat dihadang oleh Suster Oaks. Sembari membawa sebilah pisau, tenggorokan Oaks disabet dan Isabel pun berhasil masuk ke ruangan Cairn, di mana pria ini terlihat mengemasi barang-barangnya.

Melihat kedatangan isabel, Cairn memuji penampilan gadis ini, bahkan Isabel sempat diberitahu jika dirinya sebentar lagi pulih. Namun senyum Isabel semu, karena ia tak percaya lagi pada sang dokter. Sebagai bentuk balasan, Isabel langsung menggorok leher Cairn dan membuang pisaunya, lalu berlalu.

Belakangan Isabel didatangi seorang pria berpenampilan rapi yang tak lain adalah Gunther. Menurutnya, apa yang terjadi pada Isabel merupakan sebuah pencapaian tersendiri di institut tersebut. Karena tak punya siapa-siapa lagi, Isabel pun tinggal di institut itu hingga beberapa tahun kemudian namun tidak dijelaskan dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi padanya.

Film ini konon didasarkan pada kejadian nyata yang terjadi di institut yang terletak di Baltimore, Maryland tersebut. Namanya menjadi terkenal di seantero AS karena skandal yang terungkap di tahun 1937.

Saat itu seorang psikiater mengungkap bahwa Rosewood telah menjual pasien-pasien perempuan kepada penyandang dana mereka. Tetapi anehnya, meski rumor tentang skandal itu sudah menyebar kemana-mana, institut ini tetap beroperasi selama bertahun-tahun hingga akhirnya baru ditutup di tahun 2009.

Dalam berbagai tulisan hanya disebutkan bahwa Rosewood merupakan institut di bidang kesehatan mental yang rata-rata menerima pasien dari kelompok elit atau bangsawan, tetapi tidak pernah terkuak metode pengobatan seperti apa yang dipergunakan lembaga ini.

Halaman 2 dari 6
Begitu Roderick pulang, Isabel diantar ke kamar. Karena kelas sosialnya yang tinggi, maka Isabel pun memperoleh satu kamar tersendiri. Namun dalam perjalanan menuju kamarnya, ia penasaran pada tangga yang mengarah ke bagian gedung lain yang mereka lewati.

Meski begitu sang pengantar yang juga pesuruh di institut itu, Gunther, mengingatkan bahwa Isabel tak diperkenankan untuk berkunjung kesana.

Malam itu ia dikagetkan oleh kedatangan seorang pria. Pria berkumis lebat ini memperkenalkan diri sebagai Dr Cairn, yang tak lain adalah psikiater yang ditugaskan untuk menangani Isabel.

Cairn juga membawakan sebotol kecil cairan berwarna merah yang diklaimnya sebagai obat agar diminum oleh Isabel. Setelah meminum obat itu, Isabel mengaku dirinya sudah merasa lebih baik. Namun Cairn mengingatkan akan efek sampingnya, berupa mimpi yang seringkali terasa sangat nyata.

Sesi pertama mereka dimulai keesokan paginya. Sebelum berkonsultasi, Isabel diminta meminum obat yang sama lalu menjelaskan keluhannya.

Isabel mengatakan semenjak kematian orang tuanya karena kecelakaan, ia merasa gelisah dan insomnia. Ia menambahkan keterangan dari Turrington tentang kepribadian Isabel yang sering disebut memiliki keinginan yang kuat dan terlalu ingin tahu, padahal ini tidak sesuai dengan karakter seorang 'lady'.

Pada masa itu, kesehatan fisik dan mental seorang wanita seringkali terabaikan. Mereka juga cenderung dikekang, apalagi jika ia berasal dari kelas sosial yang tinggi.

Isabel merasa keberatan dengan keterangan Turrington tersebut, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Untungnya Cairn sepakat dengan pendapat Isabel, bahkan memprediksi bahwa Isabel sebenarnya hanya ingin bebas. Di situlah Cairn menjanjikan akan memberikan terapi terbaik untuknya.

Hingga suatu malam, Isabel terbangun karena mendengar suara teriakan dari bagian gedung yang pernah ditanyakannya kepada Gunther. Karena penasaran, ia langsung mengambil lilin untuk penerangan dan menyusuri tangga tersebut.

Ia kemudian terhenti di depan sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka dan melihat seorang pria tengah melakukan sesuatu di atas meja. Betapa terkejutnya Isabel karena itu tampak seperti mayat yang masih mengeluarkan darah segar namun sudah tidak bergerak sama sekali.

Isabel berhamburan keluar dan bertabrakan dengan seorang psikiater lain di institut tersebut, Dr Jacobs. Ia kemudian menjelaskan jika pria tadi adalah Dr Lemelle, ahli bedah mereka.

Untuk meredakan rasa takut Isabel, Dr Jacobs mengajaknya menemui Dr Lemelle. Ternyata yang tengah digarap oleh Dr Lemelle bukanlah mayat manusia, melainkan bangkai seekor babi yang baru saja diambil otaknya untuk keperluan riset.

Belum sepenuhnya tenang, Isabel dikejutkan oleh hal lain begitu sampai di kamarnya. Tiba-tiba saja ada seorang wanita yang keluar dari lemarinya sembari mengacungkan sebilah pisau kepada Isabel. Ia adalah pasien yang ditemui Isabel sebelumnya di taman.

Ia berusaha tenang dan menenangkan wanita itu dengan mengatakan akan memanggilkan Dr Cairn untuknya. Tetapi upaya ini tidak mempan. Wanita itu terus berteriak-teriak meminta tolong kepadanya karena mengaku akan dipersembahkan kepada iblis.

Untung seorang perawat mendengar hal ini dan segera membantu Isabel mengamankan wanita itu bersama Gunther.

Beberapa waktu kemudian, Roderick mengunjungi sang adik. Ketika ditanya tentang perkembangannya, Isabel menjawab bahwa pengobatan yang dilakukan Cairn telah banyak membantunya.

Namun dari pandangan Roderick, adiknya tampak berbeda. Ia bahkan terlihat tidak fokus ketika diajak bicara. Meski begitu Isabel meyakinkan Roderick bahwa itu hanyalah efek samping dari pengobatannya.

Merasa ada yang tak beres, Roderick memutuskan menjumpai seorang detektif bernama Thomas. Ia menceritakan awal mulanya sang adik masuk ke Rosewood Institute dan bagaimana ia merasa ada yang janggal dengan tempat itu walaupun direkomendasikan oleh dokter pribadinya.

Mendengar hal ini, Thomas sempat terdiam. Namun setelah didesak, Thomas mengaku mendengar banyak rumor tentang fasilitas itu sejak lama. Hanya saja ia meyakinkan bahwa itu hanya rumor. Jawaban itu tidak memuaskan Roderick dan Thomas memilih untuk meninggalkan pria ini dalam tanda tanya.

Di institut, Isabel yang masih penasaran menyusuri lagi bagian gedung yang tidak seharusnya didatanginya. Sampailah ia di dalam sebuah ruangan yang mirip bangsal dan dipenuhi pasien wanita. Semuanya asyik dengan kegiatannya sendiri-sendiri; ada yang berguling-guling di lantai, tertawa-tawa sendiri. Isabel sempat ketakutan berada di tengah-tengah mereka, hingga ada seorang wanita yang membantunya lolos.

Di depan pintu, keduanya bertemu dengan Suster Oaks yang datang membawa sediaan obat untuk pasien-pasien itu. Ia cukup terkejut melihat Isabel, namun ia berupaya tenang dan mengatakan pintu ruangan itu seharusnya terkunci lalu Isabel diantarnya keluar.

Cairn mendengar hal ini, dan ia menanyakan bagaimana Isabel bisa sampai ke bangsal yang disebutnya sebagai 'The Pit' itu. Cairn mengira gadis ini tersesat tetapi Isabel mengaku jujur bahwa ia hanya ingin tahu.

Dokter berkumis tebal itu sebenarnya tak mempermasalahkan keingintahuan Isabel. Ia malah kemudian menawari gadis ini dengan metode pengobatan yang digunakannya untuk pasien-pasien yang dirawat di The Pit. Tanpa pikir panjang, Isabel pun menyanggupinya.

Untuk itu Isabel dipindahkan ke ruangan yang baru, bahkan ia dipakaikan baju pasien seperti lainnya. Obatnya pun berbeda.

Suatu malam, Isabel terbangun dari tidur karena mendengar suara sejumlah orang seperti sedang merapal mantra dalam bahasa Latin. Setelah ditengok, mereka berada di sebuah aula dan di hadapan mereka ada seorang wanita yang sepertinya sudah tidak bernyawa ditidurkan di hadapan mereka.

Tampak pula Cairn dan Dr Lemell di sana. Cairn berdiri di tengah sekumpulan wanita, sedangkan Dr Lemell berada di depan mereka. Secara mengejutkan Lemell kemudian membuka kulit kepala wanita yang terbaring tadi. Melihat hal itu, Isabel syok dan berlari menjauh. Belakangan Isabel tahu jika itu hanya mimpi.

Mimpi ini kemudian ditanyakan kepada Cairn. Menurut Isabel, mimpinya tak hanya aneh, tetapi juga terasa sangat nyata. Tetapi Cairn meyakinkan bahwa itu hanyalah proyeksi dari pikiran isabel yang mencoba menghapus kesedihan yang dirasakannya.

Namun saat Cairn bertanya tentang efek obat yang diberikan kepadanya. Isabel mengaku kondisinya menjadi jauh lebih baik. Dari situ Cairn menyimpulkan bahwa Isabel dibawa ke fase pengobatan selanjutnya.

Sementara itu masih diliputi rasa penasaran, Roderick berkunjung lagi ke Rosewood beberapa hari kemudian. Tak disangka di depan pintu, ia bertemu dengan salah seorang kenalannya. Ternyata kenalan Roderick tersebut bersama istrinya datang karena ingin menjemput pasien yang pernah ditemuinya dan Isabel di taman beberapa waktu lalu. Roderick sempat menyapanya namun wanita itu hanya terdiam dengan pandangan kosong.

Kebetulan Isabel sedang bersama Dr Jacobs di dekat lobi rumah sakit. Begitu Roderick masuk dan mendapati penampilan Isabel yang berbeda, pria itu terkejut. Bahkan ia sempat mengomentari kuku-kuku Isabel yang kotor.

Saat mendapat kesempatan untuk bicara empat mata dengan Roderick, Isabel mengaku lebih rileks dengan pengobatan yang ada. Anehnya, Roderick mengaku tak bisa memahami setiap perkataan yang keluar dari mulut sang adik.

Ia pun langsung mengajaknya pulang tapi Isabel menolak, karena ia merasa harus tinggal di institut tersebut sampai sembuh. Isabel bahkan meminta kakaknya pergi begitu saja.

Meski keberatan, Roderick sempat mencuri sebotol obat dari kantong baju Isabel dan membawanya pulang. Malamnya, ia menuliskan surat kepada detektif Thomas dan memintanya untuk melakukan investigasi terhadap Rosewood.

Keesokan harinya Cairn mengajak Isabel ke sebuah ruangan yang disebutnya sebagai Ruang Pengendalian. Dalam ruangan itu, kedua tangan Isabel diborgol ke atas. Kendati wajahnya penuh tanda tanya, Isabel berusaha percaya pada Cairn.

Namun Isabel semakin kebingungan ketika kemudian Cairn memanggil Suster Oaks dan memintanya melepas pakaian Isabel, lalu mencambuk tubuhnya.

Isabel berteriak kesakitan sambil menangis. Di sela-sela itu, Cairn memberinya obat lagi, sembari menjelaskan apa maksud dari terapi tersebut. Perlahan isabel mulai tenang dan tidak berteriak sehisteris sebelumnya.

Selepas itu Cairn mengucapkan selamat kepada Isabel karena dianggap telah berhasil masuk ke tahapan baru dalam hidupnya. Tapi Isabel masih belum memahami apa maksudnya. Karena penasaran, ia memutuskan menjumpai kepala perawat untuk menanyakan tentang metode yang diterapkan Cairn.

Si kepala perawat tidak memberikan jawaban yang mencerahkan. Ia malah menganggap Isabel gadis yang lemah karena seolah menyiratkan keinginannya untuk berhenti.

Saat makan malam, Isabel mencoba bicara dengan pasien lain yang pernah menolongnya beberapa waktu lalu. Isabel mempertanyakan mengapa sebagian besar pasien wanita disitu seolah tidak terurus. Menurut rekannya, kebanyakan dari mereka memang gelandangan dan tidak punya keluarga. Dokter tidak berupaya menyembuhkan mereka tapi mereka diletakkan di institut tersebut agar terisolasi dari dunia luar.

Kemudian rekannya balik bertanya tentang terapi Isabel. Isabel awalnya bercerita bahwa metode yang digunakan Cairn tidak lazim, tapi karena melihat reaksi temannya yang kebingungan, ia pun mengurungkan niatnya untuk bercerita.

Terapi Isabel dimulai lagi bersama Suster Oaks. Kali ini suster berwajah judes itu memulai terapi dengan menanyakan nama dan asal Isabel. Tetapi ketika Isabel menjawab apa adanya, Oaks malah mengatakan itu keliru. Sebagai 'hukuman', kaki telanjang Isabel disiram air panas.

Terapi itu diulang beberapa kali, tak peduli bagaimana Isabel mencoba menahan kesakitannya, namun Oaks meyakinkan bahwa itu adalah demi kebaikan Isabel. Begitu terapi selesai, malamnya Cairn berkunjung ke kamar Isabel dan memberinya obat. Di situ pula Cairn berpesan bahwa dalam waktu dekat, ujian terakhir untuk Isabel akan tiba.

Malam itu, Isabel berjalan seorang diri menyusuri lorong dan tangga menuju Ruang Pengendalian. Semakin dekat ke ruangan itu, semakin ia mendengar suara sejumlah wanita seperti merapal entah mantra entah doa. Ternyata mereka berdiri mengelilingi seseorang yang tangannya diikat ke atas. Ada juga Cairn di sana.

Begitu melihat Isabel, Cairn meminta sesuatu yang dikatakannya sebagai ujian terakhir untuk mengetes komitmen gadis ini. Ternyata wanita yang tangannya diikat di ruangan itu adalah Margaret, pasien yang menjadi teman baik Isabel dan beberapa kali membantunya.

Namun di hadapan Cairn, entah mengapa Isabel menuduh Margaret menanamkan kebohongan dalam dirinya dan mencoba mempengaruhi Isabel agar melawan sang dokter. Mendengar hal itu, Margaret memperlihatkan raut wajah kebingungan.

Untuk 'membersihkan diri' Margaret, Isabel lantas diminta untuk memecut tubuh temannya itu dengan sekuat tenaga. Punggung Margaret bahkan sampai berdarah-darah. Keesokan paginya, ganti Isabel yang kebingungan karena tak bisa menemukan Margaret. Namun gadis ini tak pernah terlihat lagi sejak saat itu.

Di tempat lain, Roderick meminta bantuan seorang ilmuwan untuk mengecek kandungan dalam obat yang diberikan kepada sang adik. Menurut ilmuwan tersebut, cairan itu berisi ekstrak akar Indian dan bunga aconite/wolfsbane.

Kombinasi keduanya tak lain merupakan racun. Racun ini memang tidak mematikan, namun jika diberikan dalam kurun waktu yang lama maka ini akan memunculkan efek yang tidak menyenangkan pada pikiran yang meminumnya.

Berbekal obat itu, Roderick semakin yakin untuk menemui detektif Thomas lagi. Pria ini kemudian memberikan sejumlah informasi tentang Rosewood.

Rosewood rupanya disokong oleh sebuah kelompok rahasia bernama Acronite Society. Hanya saja Thomas curiga jika kelompok ini memiliki anggota orang-orang berpengaruh sehingga mustahil untuk disusupi. Roderick sempat menawarkan imbalan yang setimpal agar Thomas mau melanjutkan penelusurannya, tetapi Thomas bersikeras menolak.

Lagi-lagi buntu, Roderick memutuskan menemui kenalannya yang pernah bertemu dengannya di Rosewood. Namanya Baxter. Namun saat berkunjung ke kediamannya, kepala rumah tangga Baxter mengatakan tuannya sedang tidak berada di rumah.

Berikutnya Roderick nekat masuk ke kediaman Baxter melalui pintu masuk lain. Setelah berhasil masuk, Roderick menemukan sebuah ruangan di mana gadis yang pernah dijemput Baxter di Rosewood sedang terbaring di atas meja.

Sayangnya gadis itu sudah tak bernyawa dan di sekeliling tubuhnya terdapat buah-buahan dan makanan seakan-akan dia adalah bagian dari pemujaan. Tubuhnya pun bersimbah darah. Di sebelahnya ada juga sebilah pisau nampaknya dipakai untuk menghabisinya.

Tak hanya itu, Roderick juga menemukan sebuah undangan pertemuan dari Aconite Society untuk Baxter. Namun belum pulih dari syok, Roderick kembali dikejutkan dengan suara Baxter yang masuk ke dalam ruangan itu dalam keadaan nyaris telanjang, begitu juga dengan wanita yang bersamanya.

Keduanya mengenakan topeng etnik tetapi sama sekali tak terkejut melihat ada sesosok jenazah di atas meja. Mereka justru tertawa-tawa gembira sembari meminum segelas anggur. Tetapi belum selesai bicara, keduanya terkejut melihat Roderick.

Baxter langsung berupaya menghajarnya. Namun secara kebetulan Roderick membawa pisau yang kemudian ditancapkan ke bahu Baxter, dan seketika itu juga melumpuhkan pria ini. Sebelum berlalu, Roderick sempat mengambil topeng yang dikenakan Baxter dan membawanya pergi.

Ternyata dengan topeng itu Roderick mencoba menyelinap masuk ke dalam pertemuan yang diselenggarakan untuk anggota Acronite Society. Seluruh pesertanya mengenakan topeng etnik yang berbeda-beda, kecuali sejumlah wanita yang nyaris telanjang, seolah dipamerkan di hadapan para pengunjung.

Tak berapa lama seorang wanita menghampiri Roderick dan mengajaknya berdansa serta menenggak sebuah cairan yang dikatakannya sebagai racun. Tetapi Roderick menolak untuk meminum cairan itu. Wanita ini lantas membawanya ke suatu tempat.

Beberapa waktu sebelum pertemuan ini, Isabel diberi identitas baru oleh Cairn sebagai pertanda bahwa pengobatannya berhasil. Ia diminta berakting dan dipasangkan dengan pasien lain. Keduanya juga dijadwalkan untuk membuat pertunjukan.

Isabel masih bingung dengan apa yang diinginkan Cairn, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan sang dokter. Ternyata Isabel akan diperkenalkan di hadapan anggota Acronite Society sebagai bukti keberhasilan terapi pengobatannya.

Isabel pun muncul dan mulai terlibat dalam semacam ritual, disaksikan anggota Acronite Society. Di tengah ritual, Roderick berteriak dan berupaya menghentikan ritual tersebut. Beberapa pria kemudian berusaha menahannya dan membuatnya berlutut.

Anehnya, ketika melihat sang kakak, raut wajah Isabel tak berubah. Ia bahkan meminta Roderick diikat ke altar, lalu tanpa basa-basi, ia menghujamkan pisau ke dada Roderick dan berlalu.

Beberapa waktu kemudian Isabel baru menyadari apa yang telah ia lakukan kepada sang kakak, tetapi penyesalannya datang terlambat. Ia hanya bisa menangis. Namun kini ia diminta menjalani percobaan tambahan di mana ia dibaringkan di sebuah ruangan yang gelap dan dipapari kilatan cahaya beberapa kali.

Di kamarnya yang gelap itu, Isabel semakin tak berdaya. Gadis cantik ini tak lagi punya nafsu makan. Isabel lantas memutuskan untuk meminta bantuan kepada Gunther, pria yang biasa mengantarkan makanan kepadanya. Ia mengatakan, "Tolong bantu aku. Jika tidak, bunuh saja aku, akhiri ini semua."

Gunther berupaya menenangkannya, sembari menyerahkan secarik kertas. Di kertas itu tertulis: taman di bawah jembatan, di tengah malam. Malam tiba, Isabel berhasil menyelinap keluar. Ternyata pengirim pesan itu adalah Margaret.

Masih berada di bawah kendali obat yang diminumnya selama ini, Isabel pun sempat tak mengenali Margaret. Namun Margaret berhasil menyadarkan temannya itu. Saat itulah keduanya berpelukan.

Isabel juga mengaku bermimpi membunuh Margaret. Margaret tak menjawab tetapi ia menunjukkan bekas luka di punggungnya. Isabel semakin sadar dengan apa yang telah dilakukannya ketika berada di bawah pengaruh obat-obatan. Ia pun menangis penuh penyesalan saat melihatnya.

Namun terlepas dari itu Margaret meyakinkan bahwa ia tetap mau membantu Isabel karena bagaimana Isabel adalah satu-satunya teman yang dimilikinya. Keduanya kemudian mencari tempat yang aman untuk bersembunyi dan berbagi cerita.

Menurut Isabel, karakter yang diperankannya adalah bagian dari terapi, tetapi berbarengan dengan itu, Isabel mengaku sering bermimpi buruk, termasuk menyakiti orang-orang dekatnya. Dari situ ia menyadari bahwa penyebabnya adalah Cairn.

Dengan bantuan Gunther, Isabel memperoleh informasi tentang apa saja yang akan ditemuinya saat pertemuan Acronite Society nanti. Pria bertubuh bungkuk ini juga memberinya sebuah kunci.

Isabel dan Margaret lantas menyelinap masuk ke tempat penyimpanan obat milik Rosewood dan mencari botol bertuliskan 'Wolfsbane', yang tak lain obat yang diberikan kepadanya selama ini. Tepat setelah mrk menemukannya, keberadaan Margaret diketahui oleh Lamelle. Margaret memang meminta Isabel untuk bersembunyi.

Malam itu juga Cairn datang menjemput Isabel dan mengatakan bahwa malam ini adalah saatnya memberi pertunjukan terbaik sembari memberinya obat. Begitu Cairn berlalu, Isabel memuntahkan obat itu. Lalu ritual yang dipimpin Cairn pun dimulai.

Di atas panggung itulah Isabel berpura-pura berakting sebagai karakter yang diinginkan Cairn. Tiba-tiba di tengah pertunjukan, Isabel berteriak ke seluruh peserta yang ada dalam ruangan itu dan mengatakan mereka akan dihakimi.

Tak berapa lama setelah Isabel mengatakan hal itu, satu-persatu peserta terbatuk-batuk dan berteriak kesakitan sembari memegangi tenggorokan mereka. Satu-persatu tumbang.

Cairn kemudian melarikan diri dan Isabel mengejarnya tetapi sempat dihadang oleh Suster Oaks. Sembari membawa sebilah pisau, tenggorokan Oaks disabet dan Isabel pun berhasil masuk ke ruangan Cairn, di mana pria ini terlihat mengemasi barang-barangnya.

Melihat kedatangan isabel, Cairn memuji penampilan gadis ini, bahkan Isabel sempat diberitahu jika dirinya sebentar lagi pulih. Namun senyum Isabel semu, karena ia tak percaya lagi pada sang dokter. Sebagai bentuk balasan, Isabel langsung menggorok leher Cairn dan membuang pisaunya, lalu berlalu.

Belakangan Isabel didatangi seorang pria berpenampilan rapi yang tak lain adalah Gunther. Menurutnya, apa yang terjadi pada Isabel merupakan sebuah pencapaian tersendiri di institut tersebut. Karena tak punya siapa-siapa lagi, Isabel pun tinggal di institut itu hingga beberapa tahun kemudian namun tidak dijelaskan dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi padanya.

Film ini konon didasarkan pada kejadian nyata yang terjadi di institut yang terletak di Baltimore, Maryland tersebut. Namanya menjadi terkenal di seantero AS karena skandal yang terungkap di tahun 1937.

Saat itu seorang psikiater mengungkap bahwa Rosewood telah menjual pasien-pasien perempuan kepada penyandang dana mereka. Tetapi anehnya, meski rumor tentang skandal itu sudah menyebar kemana-mana, institut ini tetap beroperasi selama bertahun-tahun hingga akhirnya baru ditutup di tahun 2009.

Dalam berbagai tulisan hanya disebutkan bahwa Rosewood merupakan institut di bidang kesehatan mental yang rata-rata menerima pasien dari kelompok elit atau bangsawan, tetapi tidak pernah terkuak metode pengobatan seperti apa yang dipergunakan lembaga ini.

(lll/fds)

Berita Terkait