Direktur Utama RS Jiwa Dr Soeharto Heerdjan, dr Aris Tambing, MARS mengatakan bahwa masyarakat harus mengubah stigma negatif tersebut. Lebih tepatnya memahami bahwa rumah sakit jiwa juga bisa menangani konsultasi mengenai berbagai permasalahan kesehatan jiwa, mental, psikologis, dan lainnya.
"Bukan hanya untuk orang gangguan jiwa berat atau yang disebut orang gila, tetapi bagaimana problem kesehatan masyarakat perkotaan misalkan mengalami kesulitan tidur, depresi yang cenderung bunuh diri, atau kecemasan juga mau datang untuk minta pertolongan konsultasi di sini," ujarnya saat ditemui di saat ditemui di RS Jiwa Dr Soeharto Heerdjan Jakarta baru baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orang yang datang dengan keluhan depresi hingga ingin melakukan bunuh diri biasanya dirawat terlebih dahulu dengan terapi obat-obatan hingga depresinya berkurang. Hal ini bisa mengurangi tingkat risiko bunuh diri di Indonesia.
"Mau bunuh diri itu disebabkan karena depresi, ada juga gangguan jiwa yang berupa halusinasi yang suruh dirinya untuk bunuh diri. Jadi memang pada kasus-kasus depresi cenderung untuk bunuh diri. Kalau dia datang ke sini kita rawat," jelas dr Aris.
Lingkungan sekitar sangat berperan penting, orang yang depresi butuh diperhatikan. Biasanya akan terlihat beberapa tanda-tanda yang menunjukkan bahwa dirinya tengah mengalami depresi.
"Biasanya kalau orang mau bunuh diri itu menarik diri dari lingkungan, tidak mau bergaul dengan orang, tidak care dengan dirinya lagi atau selalu mengeluh bahwa 'tidak ada artinya lagi hidup ini'. Dia selalu mengatakan lebih baik saya mati saja dari pada hidup. Itu harus diwaspadai bahwa orang ini sudah putus harapan untuk menjalani kehidupan," terangnya.
dr Aris menganjurkan untuk membawanya segera ke rumah sakit jiwa untuk melakukan konsultasi. Jika tidak berhasil dibujuk, segara menghubungi pihak rumah sakit untuk dilakukan penjemputan.
Baca juga: Bunuh Diri di Usia Muda, Begini Kata Dokter Jiwa
(wdw/up)











































