Penelitian dilakukan oleh Dr Jan Haaker dari University Medical Centre, Hamburg-Eppendorf, dengan mengamati respons ketakutan yang terlihat pada 376 responden sehat. Seperlima di antaranya merupakan perokok aktif.
Masing-masing responde diperlihatkan sejumlah simbol di layar monitor. Namun ketika simbol-simbol tertentu diperlihatkan, responden akan mendapatkan sensasi setrum dari listrik. Hal ini memicu ketakutan tersendiri bagi responden.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata, sebagian besar responden yang juga perokok memperlihatkan respons takut yang lebih besar dibanding bukan perokok. Begitu juga saat tes hari kedua dilakukan. Mereka kurang mampu menghilangkan ketakutan yang terlanjur tumbuh di hari sebelumnya.
"Rokok dapat menghambat kemampuan otak untuk mengelola rasa takut yang berkaitan dengan memori atau kenangan tertentu, utamanya ketika bahaya itu sebenarnya sudah tidak ada," ungkap Haaker seperti dilaporkan Daily Mail.
Akibatnya, ketika dihadapkan pada kejadian traumatis, yang bersangkutan kurang mampu mengelola rasa takut dan kecemasan yang dimilikinya.
Baca juga: Berhenti Merokok Bikin Berat Badan Bertambah, Benarkah?
Selain itu, makin buruk dan makin lama kebiasaan merokok yang dilakukan, makin besar pula dampaknya terhadap otak. Pada akhirnya mereka berisiko tinggi mengalami gangguan mental yang buruk seperti fobia atau PTSD (post-traumatic stress disorder).
Di sisi lain, merokok menjadi kebiasaan yang menetap pada orang-orang dengan PTSD.
Namun Haaker dan timnya mengklaim, mereka yang mengidap trauma bisa didorong untuk berhenti merokok jika ingin pengobatannya lebih efektif, bahkan pada sebagian orang menghentikan kebiasaan ini bisa mencegah seseorang terserang PTSD.
Baca juga: Demi Kesehatan, Alasan Artis-artis Ini Berhenti Merokok (lll/up)











































