Studi: Penggunaan Ganja Tak Efektif Atasi Nyeri dan Stres

Studi: Penggunaan Ganja Tak Efektif Atasi Nyeri dan Stres

Puti Aini Yasmin - detikHealth
Rabu, 16 Agu 2017 15:31 WIB
Studi: Penggunaan Ganja Tak Efektif Atasi Nyeri dan Stres
Ganja sering disebut dapat membantu meredakan nyeri. (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Salah satu manfaat penggunaan ganja dalam dunia medis adalah membantu mengatasi nyeri dan stres. Namun studi terbaru dari Amerika Serikat membantah klaim tersebut.

Menurut US Department of Veterans Affairs, lebih dari 80 persen alasan seseorang menggunakan obat ganja untuk menghilangkan rasa sakit. Sementara sebagai alasan utama, lebih dari sepertiga beralasan untuk mengobati (post-traumatic stress disorder) PTSD.

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Annals of Internal Medicine, peneliti menemukan 27 studi yang mengaitkan penggunaan ganja untuk mengatasi nyeri kronis. Peneliti tidak menemukan cukup bukti bahwa ganja mengurangi nyeri neuropatik kronis atau saraf.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebaliknya, peneliti menemukan bukti yang kuat untuk menyimpulkan bahwa penggunaan ganja pada populasi umum meningkatkan risiko kecelakaan mobil, gejala psikotik dan gangguan kognitif jangka pendek.

Baca juga: Studi Sebut Ganja Medis Berpeluang Jadi Obat Bagi Alzheimer

Selanjutnya, peneliti juga meninjau data dari dua ulasan dan tiga studi yang menilai penggunaan tanaman ganja untuk mengobati PTSD pada orang dewasa. Namun, studi tersebut dikatakan lemah karena jumlah peserta yang kurang dan partisipan yang tidak menggunakan ganja ikut terlibat. Sehingga tidak ada bukti yang cukup atas keefektifan penggunaan ganja.

Lebih buruk lagi, satu studi yang melibatkan veteran dengan PTSD menunjukan perburukan yang kecil tapi signifikan pada veteran yang memulai atau terus menggunakan ganja selama masa studi.

Sementara itu, Jane Metrik, profesor dari Brown University School of Public Health merekomendasikan perawatan perilaku kognitif untuk para veteran yang menggunakan ganja sebagai obat dari masalah tidur seperti insomnia.

"Veteran mengharapkan ganja dapat mengurangi gejala dari trauma terkait tempur dan melihat ganja menjadi zat yang memiliki risiko yang rendah dan aman, tidak seperti obat lain," ucap Metrik dikutip dari CNN.

"Tapi ilmu pengetahuan di balik tindakan melegalkan ganja sebagai perawatan medis untuk seseorang dengan PTSD itu masih kurang," ungkapnya. Oleh karena itu, ia menyarankan untuk melakukan studi terkontrol untuk membuktikan bahwa penggunaan ganja sebagai obat merupakan hal yang positif.

Baca juga: Untuk Pertama Kali, Ganja Diklaim Punya Potensi Sembuhkan Skizofrenia (mrs/fds)

Berita Terkait