Diselenggarakan pada bulan Agustus-September 2017, diharapkan seluruh anak di Pulau Jawa mendapatkan haknya, yaitu imunisasi MR. Memasuki minggu ke-4, ternyata masih banyak penolakan dari para orang tua dengan berbagai alasan.
Lewat berbagai sarana sudah dilakukan untuk menginformasikan pentingnya imunisasi ini. Ditemui di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, wakil ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Rita Pranawati, MA pun turut menanggapi, karena imunisasi MR adalah hak anak-anak Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: KPAI: Penting Mengedukasi Orang Tua Tentang Imunisasi MR
Selain peran orang tua, menurut Komisioner KPAI, DR Sitti Hikmawatty, SST, Mpd peran para pendidik dan pemuka agama dibutuhkan untuk menyukseskan imunisasi MR ini diberikan ke seluruh anak-anak di Indonesia.
"Sekarang yang belum terjamah ketika dilakukan public concern, di situlah peran dari pemuka agama, pendidik dan seterusnya memberikan penegasan," jelasnya.
Para stake holder ini bisa membuat ketidakyakinan para orang tua berubah. Penjelasan yang baik akan dimengerti dengan baik oleh para orang tua akan risiko yang lebih parah nantinya jika anak tidak diberikan imunisasi MR ini.
"Kalau ini tidak berhasil pada tahun ini, maka efeknya akan terjadi 10 tahun kemudian, dan itu lebih berat lagi untuk individu, keluarga, juga negara yang melakukan tanggungan sosial," pungkasnya.
Baca juga: Kemenkes Optimis Cakupan Vaksin MR di Jawa Capai 95 Persen (wdw/up)











































