Studi yang diterbitkan di British Journal of Cancer ini melibatkan 7.637 partisipan pria dari California. Partisipan tersebut merupakan pria yang didiagnosis kanker prostat dari tahun 1998 sampai 2008.
Reina Haque, selaku ketua peneliti dari Kaiser Permanente di Pasadena, California ini mengatakan bahwa studi ini memfokuskan pada terapi hormon yang dikenal dengan nama androgen deprivation therapy (ADT). Terapi ini dilakukan dengan menghilangkan sel kanker prostat dari hormon seks pria.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Pasien Kanker Prostat yang Jalani Terapi Hormon Justru Rentan Pikun
Hasilnya, pria yang tidak memiliki penyakit kardiovaskular dan melakukan ADT memiliki peningkatan risiko penyakit jantung sebesar 81 persen dibandingkan pria yang tidak melakukan ADT. Selain itu, mereka juga memiliki sedikit peningkatan risiko gangguan irama jantung.
"Sedangkan pria yang memiliki penyakit kardiovaskular juga berisiko tinggi mengalami gangguan irama dan aliran jantung dibandingan pasien yang tidak melakukan terapi tersebut," imbuhnya.
Haque pun mengingatkan bahwa hasil studi ini sangat penting bagi pasien prostat yang memiliki faktor risiko penyakit jantung. Sebab dengan begitu pasien dapat mengetahui terapi apa yang akan dilakukannya.
"Hasil studi ini bisa membuat orang berpikir tentang apakan ADT bisa menjadi perawatan yang harus digunakan atau tidak," pungkasnya.
Baca juga: Terapi Hormon yang Putus Nyambung Bisa Perpendek Usia Pria (ajg/up)










































