Deja vu berkaitan dengan ingatan manusia. Menurut profesor psikologi dari Universitas Northwestern, Paul Reber semua teori ingatan mengakui bahwa mengingat membutuhkan dua proses kerja sama yaitu keakraban dan ingatan.
Keakraban terjadi dengan cepat, sebelum otak bisa mengingat kembali sumber perasaan. Perhatian bergantung pada bagian otak hippocampus dan korteks prefrontal, sedangkan keakraban bergantung pada daerah korteks temporal medial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: 'Terjebak' dalam Waktu: Kisah Pria dengan Deja Vu Berulang-ulang
Perasaan ini bisa terjadi bila situasi baru sangat mirip dengan kejadian lain yang tersimpan dalam ingatan kita. Deja vu adalah versi yang lebih kuat dari jenis kesalahan memori ini.
Ditambahkan oleh profesor psikologi dari Universitas Colorado, Anne Cleary, deja vu terjadi mungkin dikarenakan ingatan tidak cukup berfungsi dengan baik.
"Dengan tidak mengingat pengalaman spesifik, Anda memiliki perasaan akrab dengan situasi saat ini," ujarnya dikutip dari Grunge.
Sebuah penelitian neuropsikolog kognitif dari Universitas Leeds di Inggris pada tahun 2005 menunjukkan bahwa orang yang mengalami deja vu mengalami kerusakan pada daerah frontal dan temporal. Kondisi ini kemungkinan terjadi karena kesalahan pemrosesan di daerah yang sama.
Baca juga: Indigo, Deja Vu, Kesurupan, Ketindihan, Fenomena Medis yang Misterius
(wdw/fds)











































