Rabu, 27 Sep 2017 07:40 WIB

Penyakit Asma dan PPOK Tinggi karena Deteksi Belum Tepat

Widiya Wiyanti - detikHealth
Pemeriksaan yang tepat dapat turunkan risiko kematian akibat penyakit asma dan PPOK. Foto: Thinkstock
Jakarta - Asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah jenis penyakit yang cukup tinggi jumlah pengidapnya di Indonesia dan dapat menyebabkan kematian. Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2014, asma adalah penyebab kematian ke-13 di Indonesia.

Sedangkan untuk penyakit PPOK sendiri berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2012 adalah penyebab kematian ke-6 di Indonesia. Tingginya angka ini disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat akan gejala dan deteksi dari penyakit ini.

Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Persahabatan, Prof Faisal Yunus, MD, PhD mengatakan bahwa salah satu faktor kurangnya kesadaran masyarakat akan deteksi penyakit ini dikarenakan belum semua fasilitas kesehatan memiliki fasilitas pemeriksaan spiometri.

"Diganosis PPOK tanpa pemeriksaan spiometri, belum semua tenaga kesehatan menatalaksana sesuai pedoman. Serta sarana diagnostik belum tersedia di semua tempat," ujarnya dalam temu media di Gedung Prof Sujudi Kementerian Kesehatan RI, Selasa (26/9/2017).

Baca juga: Aktivitas Gunung Agung Meningkat, Dokter Ingatkan Risiko Asma Kambuh

Prof Faisal juga mengutarakan bahwa masyarakat tidak segera melakukan pemeriksaan setelah mendapati gejala-gejala asma ataupun PPOK.

"Gejalanya sesak napas, batuk kronik, sputum," imbuhnya.

Dikesempatan yang sama, dr Wahyuni Indawati, SpA(K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa penyakit ini terutama asma bisa terjadi pada semua usia, dari bayi hingga lansia.

"Batuk atau mengi yang bandel, berulang, lama sembuh, muncul setelah pencetus. Lebih berat pada malam hari, umumnya terdapat riwayat alergi. Jika gejala makin sering dan berat disebut serangan asma," katanya.

Baca juga: Dari Presiden Hingga Pesepak Bola, Ini 10 Orang Terkenal yang Mengidap Asma

(wdw/up)