Rabu, 27 Sep 2017 10:33 WIB

Paparan Abu Vulkanik Gunung Agung Bisa Sebabkan Gejala Brokitis

Widiya Wiyanti - detikHealth
Penduduk sekitar Gunung Agung di Bali rentan mengidap gejala bronkitis karena abu vulkanik. Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf Penduduk sekitar Gunung Agung di Bali rentan mengidap gejala bronkitis karena abu vulkanik. Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
Jakarta - Meningkatnya status Gunung Agung di Bali menjadi 'awas' membuat penduduk sekitar diharuskan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Tempat pengungsian yang sudah disiapkan tersebar lebih dari 370 titik.

"Data pengungsi yang tercatat Pusdalops BPBD Bali pada hari ini hingga pukul 12.00 Wita, sebanyak 75.673 jiwa yang tersebar di 377 titik pengungsian di 9 kabupaten/kota di Bali," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dikutip dari detiknews, Rabu (27/9/2017).

Menurut dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Persahabatan, Prof Faisal Yunus, MD, PhD, mengungsi ke tempat yang lebih aman dan jauh dari paparan abu vulkanik dari gunung tersebut harus dilakukan agar menghindari terkena penyakit saluran pernapasan.

"Yang paling parah kena bronkitis. Tergantung berapa lama dia menghirupnya, tergantung dosisnya, berapa lama, berapa banyak, berapa sering," ujarnya kepada detikHealth di Gedung Prof Sujudi Kementerian Kesehatan RI baru-baru ini.

Baca juga: Aktivitas Gunung Agung Meningkat, Dokter Ingatkan Risiko Asma Kambuh

Prof Faisal memperingatkan terutama kepada penduduk yang memang sebelumnya memiliki penyakit saluran pernapasan, seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Kemungkinan risiko kambuhnya cukup tinggi.

"Tergantung kalau dia punya penyakit saluran napas bisa kambuh, seberapa berat kenanya. Bagusnya dia mengungsi jangan sampai kena debu yang cukup besar," tambahnya.

Namun kondisi seperti ini akan berbeda pada setiap orang, karena daya tahan tubuh setiap orang pasti berbeda-beda. Prof Faisal juga menganjurkan bahwa setiap orang harus sadar akan bahaya dari paparan debu vulkanik tersebut.

"Kalau orang normal ya sampai mana dia bisa mentolerir. Setiap orang kan beda-beda. Ada faktor individual, orang harus sadar seberapa sensitifnya dia dari debu. Kalau dia sensitif ya dia harus menghindar lah," tutupnya.

Baca juga: 81.152 Orang Mengungsi Akibat Gunung Agung

(wdw/up)
News Feed