Kamis, 05 Okt 2017 19:48 WIB

Terungkap! Alasan Psikologis di Balik Aktivitas Gosip

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Gosip adalah bagian kemampuan sosial yang terjadi pada pria dan wanita. Foto: Thinkstock Gosip adalah bagian kemampuan sosial yang terjadi pada pria dan wanita. Foto: Thinkstock
Jakarta - Gosip, julit atau bergunjing memiliki konotasi negatif di masyarakat. Ilmuwan pun berhasil mengungkap alasan psikologis mengapa manusia senang bergunjing.

Adam Davis dari University of Ottawa, Kanada, melakukan studi kepada 290 partisipan dengan rentang usia 17 hingga 30 tahun. Setelah melalui serangkaian wawancara, diketahui alasan sebenarnya mengapa manusia bergosip.

Davis mengatakan gosip adalah bagian kemampuan sosial yang terjadi pada pria dan wanita. Kompetisi di kalangan jenis kelamin yang sama adalah alasan mengapa pria dan wanita bergosip, meskipun bahan gosip atau pembicaraan yang terjadi berbeda antara pria dan wanita.

Baca juga: Saat Info Selebriti Jadi Hiburan dan 'Pengobat' Stres

"Pria lebih cenderung bergosip soal pencapaian orang lain. Sementara wanita bergosip soal kejelekan wanita lainnya, untuk meningkatkan penilaian orang lain kepada diri mereka sendiri," ungkap Davis, dikutip dari EurekAlert!

Hasil penelitian juga membuktikan bahwa wanita lebih menyenangi dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk bergosip daripada pria. Namun dalam praktiknya, perbincangan gosip antar pria lebih mendalam dan kompetitif daripada wanita.

Davis juga menyebut gosip adalah salah satu cara wanita bersosialisasi untuk menemukan pasangan. Dengan mengetahui kejelekan dan keburukan wanita lainnya, mereka bisa belajar untuk lebih mendekati sosok ideal yang diharapkan dari pasangan.

Patut diingat bahwa meski wanita lebih menyenangi gosip, bukan berarti bergosip adalah bagian dari kepribadian mereka. Davis menekankan bahwa gosip hanyalah salah satu bentuk komunikasi sosial antar jenis kelamin dan bukan dilakukan karena seseorang memiliki kepribadian yang jahat atau buruk.

"Konotasi negatif soal gosip patut dimaklumi. Namun para konselor, pendidik dan masyarakat harus paham bahwa gosip hanyalah bentuk kemampuan komunikasi sosial antara manusia, bukan ciri dari kepribadian yang buruk," tutupnya.

Baca juga: Kenapa Sih Ada Orang yang 'Hobi Jual Omongan' ke Orang Lain?

(mrs/up)