Senin, 09 Okt 2017 08:01 WIB

Sering Lumpuh dan Nyeri Kepala Sebelah? Awas Aneurisma Otak

Grasella Sovia Mingkid - detikHealth
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - 6 Dari 100 orang mengalami aneurisma otak. Aneurisma itu pelebaran pembuluh darah otak yang berakibat fatal. Gejalanya kepala nyeri hebat hingga gejala stroke. Namun jangan khawatir, saat ini penanganan anaeurisma sudah bisa dilakukan di Indonesia.

Aneurisma otak merupakan istilah yang mulai banyak dikenal masyarakat awam sebagai pelebaran pembuluh darah otak yang dapat berakibat fatal. Pembuluh darah yang berbentuk gelendong atau menyerupai buah beri akan rentan pecah dan menyebabkan gejala yang mendadak seperti nyeri kepala hebat maupun gejala stroke.

"Kejadian aneurisma otak sering tidak diketahui sampai orang tersebut mengalami stroke atau kematian mendadak," kata ahli bedah syaraf FK Unair-RSU dr Soetomo, dr Asra ujar Al Fauzi SpBS (K), Senin (9/10/2017).

Menurutnya, beberapa gejala aneurisma di antaranya kelumpuhan sebelah anggota gerak kaki dan tangan, gangguan penglihatan, kelopak mata tidak bisa membuka secara tiba-tiba, nyeri pada daerah wajah, nyeri kepala sebelah ataupun gejala menyerupai gejala stroke.

"Denyut jantung dan laju pernafasan sering naik turun, kadang disertai dengan kejang, koma, sampai kematian. Tanda awal bisa terjadi dalam beberapa menit sampai beberapa minggu sebelum aneurisma pecah," tambahnya.

Baca juga: Hati-hati! Pijatan Setelah Memotong Rambut Bisa Merusak Saraf

Pada umumnya, jelas dia, aneurisma terjadi pada orang dewasa di atas 40 tahun. Angka kematiannya pun lebih dari 50% dengan jumlah penderita wanita lebih dominan dibanding pria. Dengan perbandingan 3:1.

Sementara beberapa faktor bisa meningkatkan risiko aneurisma. Di antaranya tekanan darah tinggi, aterosklerosis, kolesterol, trauma atau cedera, merokok dan penggunaan tembakau, infeksi darah, usia tua, penyakit ginjal polikistik, alkoholisme, diabetes dan faktor turunan.

Namun masyarakat tak perlu khawatir. Penanganan anaeurisma kini sudah bisa dilakukan di Indonesia. Di antaranya menggunakan metode Tehnik Operasi Lubang Kunci yang dikembangkan oleh dr Asra bersama tim Surabaya Neuroscience Institute (SNei).

"Pendekatan metode ini berbeda dengan teknik operasi biasa yang harus membuka tempurung kepala. Metode ini hanya perlu sayatan minimal sebesar 'lubang kunci' dan menggunakan alat-alat khusus. Dengan metode operasi lubang kunci ini, operasi menjadi pendek, pemulihan lebih cepat, tidak perlu rawat inap lama serta lebih indah secara kosmetik," tambahnya.

Sedangkan terapi lain yang bisa dilakukan yakni dengan operasi coiling. Yakni memasukkan kateter dari pembuluh darah arteri di kaki, dimasukkan terus hinggai ke pembuluh darah di otak yang terkena aneurisma dengan bantuan sinar X, dipasang koil logam di tempat aneurisma pembuluh darah otak.

"Metode ini juga bersifat non invasive serta relatif minim risiko," ujar salah satu pakar Bedah Saraf dengan metode coiling di Indonesia, dr Nur Setiawan Suroto SpBS dari Brain & Spine Center Surabaya.

Konsultan Bedah Syaraf ini menjelaskan, bagi pasien BPJS juga tidak perlu berkecil hati. Sebab, sebagian biaya layanan operasi dengan metode coiling sudah dicover BPJS.

Untuk itu, pasien anaeurisma tidak perlu ragu untuk memeriksakan diri ke dokter. Pemeriksaan dini sangat penting agar pasien mendapatkan penenganan yang cepat dan tepat. Jika terlambat, risikonya fatal.

Baca juga: Tiap Tahun, 1.000 Lebih Aneurisma Otak di Jabodetabek Tak Terdeteksi

(up/up)