Senin, 09 Okt 2017 11:08 WIB

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

Curhat Pekerja Soal Stigma dan Awareness Kesehatan Jiwa di Kantor

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Para pekerja ini membagikan pengalaman ketika menghadapi masalah kesehatan jiwa di tempat kerja. Foto: Thinkstock
Jakarta - Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun 2017 mengambil tema kesehatan jiwa di tempat kerja. Apa saja cerita para pekerja soal kesehatan jiwanya?

Mita (34) asal Bandung, bekerja sebagai designer grafis di sebuah perusahaan swasta. Berkecimpung di dunia periklanan, Mita mengaku mengidap insomnia yang membuatnya sulit tidur. Hal ini sempat membuatnya stres karena kurang tidur membuat emosi sering tidak terkendali.

"Aku biasanya tidur jam 2 atau 3 pagi, dan jam 5 sudah harus bangun lagi untuk siap-siap mau kerja. Jadinya sering uring-uringan, kerjaan jadi terlambat selesainya, sempat juga punya masalah di kantor karena emosi meledak-ledak," ungkapnya kepada detikHealth.

Mita mengaku bekerja hingga larut malam merupakan awal mula ia mengalami insomnia. Sayangnya, ia dulu tidak memahami bahwa insomnia adalah salah satu gejala adanya masalah kejiwaan. Baru dua bulan ini ia rutin memeriksakan diri ke psikiater dan sedang menjalani terapi.

Baca juga: Karyawan dan Bos Bekerja di Rumah, Kesehatan dan Kebahagiaan Meningkat

Ira (36) seorang jurnalis di Jakarta, mengalami masalah yang sama. Bekerja sebagai jurnalis membuat jam tidurnya tidak teratur. Kadang ia harus bekerja hingga larut malam, ada pula saat-saat di mana ia harus begadang dan baru tidur siang harinya karena mengawal isu berita.

"Apalagi kalau dapat atasan yang pushy dan selalu nuntut. Ketika ngeluh, dibilangnya harus kuatlah, tahanlah, bentuk pendidikanlah. Padahal istirahat juga hak kita kan," ungkap Ira, yang saat ini sedang menggagas jadwal kerja lebih ramah kesehatan jiwa.

Stigma di Tempat Kerja

Samuel (28) memiliki cerita soal bagaimana ia hampir diberhentikan dari kantor karena mengalami depresi. Samuel yang kala itu bekerja di bidang perbankan sedang mengalami saat-saat sulit akibat gagal menikah dengan kekasihnya.

"Saya sudah mempersiapkan pernikahan dengan pasangan saya, namun gagal karena dia ternyata hamil dengan orang lain. Undangan sudah disebar, gedung tempat pesta sudah siap, namun harus batal. Di situ saya sangat terpukul, sedih, kerja pun nggak semangat, sering izin sakit dan bolos," ungkap Samuel.

Untungnya berkat saran orang terdekat, Samuel bisa mengatasi masalahnya dengan lebih baik setelah berobat ke psikiater. Masalah baru muncul justru ketika rekan-rekan kerja Samuel tahu bahwa ia sedang menjalani pengobatan masalah kejiwaan.

Ejekan hingga tuduhan gila pun sempat ditujukan kepadanya. Namun dengan sabar, Samuel menjelaskan bahwa masalah yang dihadapinya tidak bisa dihadapi dengan sekadar kata-kata motivasi.



"Ya ada yang masih nggak paham juga kenapa kalau patah hari sampai depresi, kenapa nggak langsung cari yang baru aja. Ha ha. Tapi teman-teman dekat sudah saya ceritakan bagaimana masalahnya dan soal pentingnya kesehatan jiwa," ungkapnya lagi.

Baca juga: Tempat Kerja Bahagia, Pekerja Sehat Jiwa

Ketua Pengurus Pusat Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI), dr Eka Viora, SpKJ mengatakan memang di Indonesia stigma soal kesehatan jiwa di tempat kerja masih tinggi. Pekerja enggan berobat ke dokter jiwa karena takut dicap 'gila' dan dibayang-bayangi risiko pemecatan.

"Mau curhat dan berobat takut dianggap gila, nggak berobat masalahnya makin berat, makin terganggu keseharian dan produktivitasnya, makin rugi perusahaan," tutur dr Eka, beberapa waktu lalu.

Momen Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini pun diharapkannya mampu meningkatkan awareness soal pentingnya kesehatan jiwa para pekerja. Sebabnya, kesehatan jiwa pekerja yang terganggu merugikan kedua belah pihak, baik pekerjanya sendiri maupun perusahaan.

WHO mengestimasikan dampak kerugian kumulatif global terhadap masalah kesehatan jiwa pekerja mencapai USD16,3 triliun. Di sisi lain, biaya yang diperlukan untuk menangani masalah kesehatan jiwa juga tidak sedikit, antara USD2,5 triliun dan diproyeksi terus bertambah menjadi USD6 triliun pada 2030.

"Kalau pekerja jiwanya sakit, keluhannya akan ke fisik, sehingga berobat terus, produktivitas menurun. Ini juga kan akan merugikan kantor dan perusahaan tempat bekerja," ujar dr Eka.
(mrs/up)