Hasil temuan ini menunjukkan bahwa pria dengan obesitas didiagnosis mengalami fibrilasi atrium atau FA, suatu kondisi gangguan irama jantung yang sering disebut aritmia alias ketidakteraturan denyut jantung. Hal ini menyebabkan ruang atas jantung (atrium) tidak berdenyut secara efektif. Akibatnya darah tidak terpompa sepenuhnya dan pada akhirnya menyebabkan pengumpulan dan penggumpalan darah.
Peningkatan ini, yang utama disebabkan oleh indeks massa tubuh atau IMT yang lebih tinggi, pada pria sebanyak 31 persen, sementara pada wanita sebanyak 18 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indeks massa tubuh yang meningkat tampaknya lebih merugikan laki-laki. Karenanya pengendalian berat badan sangat penting, terutama pada pria dengan kelebihan berat badan atau obesitas," tambah Magnussen.
Selanjutnya, kadar protein C-reaktif atau CRP yang lebih tinggi (penanda peradangan) juga ditemukan meningkatkan risiko pada pria lanjut usia.
Baca juga: 4 Kebijakan untuk Cegah Meningkatnya Kasus Obesitas dan Kegemukan
Menurut periset tersebut, dalam makalah yang diterbitkan dalam jurnal Circulation, semua gabungan ini meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat, bahkan lebih dari tiga kali lipat membuat seseorang berisiko meninggal, karena penyebabnya berhubungan dengan jantung.
"Sangat penting untuk lebih memahami faktor risiko fibrilasi atrium. Jika strategi pencegahan berhasil menargetkan faktor risiko ini, kami memperkirakan penurunan fibrilasi atrium yang baru terlihat," kata Magnussen.
Studi ini didukung juga oleh periset sebelumnya, yakni Dr Prashanthan Sanders, dari University of Adelaide yang mengungkapkan bahwa obesitas alias kegemukan dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami gangguan jantung.
"Peningkatan risiko ini bisa diturunkan dengan mengurangi berat badan," kata Sanders.
Tak hanya masalah pada jantung, Dr Oussama Wazni dari Cleveland Clinic di Ohio juga menegaskan bahwa kegemukan meningkatkan risiko apapun pada kesehatan, termasuk risiko efek samping dari tindakan operasi.
"Jika pasien bisa menurunkan berat badan, mereka akan merasa lebih baik secara umum dan mereka akan memiliki lebih sedikit risiko hipertensi, diabetes dan fibrilasi atrium," papar Wazni.
Baca juga: Fenomena Obesitas Perkotaan: Pria Kaya dan Wanita Miskin yang Gemuk (hrn/up)











































