Jumat, 17 Nov 2017 13:02 WIB

Pura-pura Sakit? Beda Tujuan, Beda Pula Istilahnya

Widiya Wiyanti - detikHealth
Malingering adalah perilaku berpura-pura sakit atau dengan sengaja mengkondisikan diri dalam sakit jika dilakukan secara berulang dan merupakan pola yang menetap denga tujuna lari dari tanggung jawab. Foto: Screenshot Instagram/@mellissa_grace Malingering adalah perilaku berpura-pura sakit atau dengan sengaja mengkondisikan diri dalam sakit jika dilakukan secara berulang dan merupakan pola yang menetap denga tujuna lari dari tanggung jawab. Foto: Screenshot Instagram/@mellissa_grace
Jakarta - Setelah mengalami kecelakaan kemarin malam, Ketua DPR RI Setya Novanto langsung dilarikan ke RS Medika Permata Hijau. Di beberapa foto yang beredar di dunia maya memperlihatkan kepala Setnov diperban pelipisnya.

Netizen justru mencemooh Setnov yang nampak diperban. Salah satu komentar menarik juga dicuitkan oleh dr Teuku Adifitrian, SpBP alias dr Tompi.

"Kl kepal kebentur, memar namun gak ada luka luar , trus diperban.... artinya dokternya perlu sekolah lagi. Dan dah pasti masuk neraka soalnya ikut2an ngibulL," tulis dr Tompi di akun twitter @dr_tompi.

Diikuti oleh 185 komentar netizen yang tidak sedikit menyebut bahwa itu hanya sebuah kepura-puraan saja. "Perban 👉 perbanyak ngibul dong ah.. ," seperti yang ditulis pemilik akun @masiponk.

Baca juga: Setya Novanto Diperban, Komentar dr Tompi Ini Banjir Tanggapan

Perilaku berpura-pura sakit atau dengan sengaja mengkondisikan diri dalam sakit jika dilakukan secara berulang dan merupakan pola yang menetap merupakan salah satu gangguan mental.

Gangguan mental yang seperti ini berdasarkan tujuannya dibedakan menjadi beberapa kategori, seperti Malingering dan Munchausen's Syndrome. Keduanya memiliki gejala yang serupa meski tujuannya berbeda.

"Sama-sama gangguan mental di individu atau subjek yang berpura-pura sakit atau mengkondisikan dalam keadaan sakit dengan tujuan tertentu. Malingering yaitu lari dari tanggung jawab atau untuk mendapatkan keuntungan eksternal. Munchausen's Syndrome untuk seeking attention atau cari perhatian, biasa terjadi di remaja sekarang," jelas psikolog, Mellissa Grace, M.Psi., Psikolog kepada detikHealth, Jumat (17/11/2017).

Istilah "gangguan mental" Tidak sama dengan istilah "gila" atau "sakit jiwa" seperti yang dikenal oleh awam. . . Sebuah Perilaku disebut sebagai "gangguan" ketika: . ☘️ Individu yang bersangkutan tidak lagi dapat sepenuhnya mengendalikan #Intensitas , #Durasi, #Frekwensi perilakunya. (Jadi, TIDAK hanya terjadi sesekali). . ☘️ Perilakunya sudah mengganggu fungsi adaptif (fungsi perilaku keseharian) individu yang bersangkutan, maupun lingkungan sekitarnya. . ☘️ Perilaku menimbulkan distress (stress yang bersifat negatif) pada individu yang bersangkutan maupun lingkungan sekitarnya. . . . . . 👤 @Mellissa_Grace . . . . #Psikolog #PsikologKlinis #Malingering #MalingeringMG #GangguanMental #Edukasi #Psikoedukasi #InfoPsikologi #Psikologi #MellissaGrace

A post shared by Mellissa Grace, Psikolog (@mellissa_grace) on Nov 16, 2017 at 5:32am PST



Ada pula jenis dari Munchausen's Syndrome yang lain, yaitu Munchausen's Syndrome by Proxy. Menurut Mellissa ini adalah gangguan mental di mana individu yang membuat orang lain atau biasanya orang terdekatnya sakit.

"Misal ibu yang mengkondisikan anaknya kecelakaan, atau membuat anaknya keracunan. Kenapa bikin anak sakit? Nyari perhatian dengan memainkan peran sebagai penolong," katanya.

Baca juga: Tensi Setya Novanto 190, Apa Artinya? (wdw/up)
News Feed
Breaking News
×
Sidang Sengketa Pilpres 2019
Sidang Sengketa Pilpres 2019 Selengkapnya