Ketergantungan Internet Tingkatkan Risiko Pikun

Ketergantungan Internet Tingkatkan Risiko Pikun

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Minggu, 10 Des 2017 10:10 WIB
Ketergantungan Internet Tingkatkan Risiko Pikun
Kemudahan informasi membuat kita lebih jarang menggunakan kemampuan mengingat otak. (Foto: GettyImages)
Jakarta - Mesin pencari Google bisa jadi telah menjadi andalan bagi banyak orang bila ingin mencari informasi secepat kilat. Tetapi ternyata ada kerugian yang bisa didapat jika keseringan memakainya lho.

Setidaknya ini menurut Prof Frank Gunn-Moore, direktur riset untuk School of Biology, University of St Andrews, Skotlandia. Ia mengistilahkan kondisi ini dengan fenomena di mana banyak orang yang lebih memilih 'outsourcing' dengan internet ketimbang otaknya sendiri ketika ingin mencari informasi atau mengingat sesuatu.

"Penting bagi kita untuk menjaga kesehatan otak agar tidak cepat pikun, yaitu dengan sering-sering menggunakannya, tetapi belakangan kita lebih banyak 'outsourcing' ke internet," tandasnya seperti dilaporkan Mirror.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Terlalu Bergantung pada Teknologi, Remaja Bisa Kena Demensia Digital

Prof Gunn-Moore menyayangkan kebiasaan orang-orang dewasa ini yang lebih suka mencari informasi lewat internet ketimbang memanfaatkan kemampuan otaknya sendiri.

Menurutnya, bila ini dibiarkan terus-menerus, kondisi tersebut dapat memicu munculnya risiko demensia (kepikunan). "Ini semacam eksperimen demensia yang mereka lakukan sendiri," katanya.

Hal ini karena ketika kita mencari informasi lewat Google, seolah-olah otak kita sudah berkurang kemampuannya, seperti halnya yang terjadi pada orang yang sudah pikun. Ini berarti bukan tidak mungkin kekhawatiran Gunn-Moore akan terbukti.

"Tetapi kita harus menunggu dan melihat apakah 'outsourcing' ini benar-benar akan berdampak pada prevalensi demensia'," lanjutnya.

Baca juga: Ini Alasan Kenapa Jangan Memeriksa Kesehatan ke Google

Meski demikian, Gunn-Moore merasa menemukan harapan dengan menurunnya prevalensi demensia secara global karena meningkatnya tren hidup sehat di berbagai kalangan.

"Ini membuktikan jika gaya hidup kita sehat, kita bisa mengurangi kasusnya sampai sepertiga. Tapi sekarang kita juga harus tengok ke jantung dan obesitas karena apa yang menjadi faktor risiko penyakit kardiovaskular juga bisa menjadi faktor risiko ke otak," tutupnya.

(lll/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads