Kamis, 14 Des 2017 12:24 WIB

Para Peneliti Ungkap Kaitan Stres dengan 'Tindihan' Saat Tidur

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Masih ingat kan kalau model cantik Kendall Jenner ternyata juga mengalami 'tindihan' atau yang ilmiahnya disebut dengan sleep paralysis?

Tindihan memang bukan gangguan tidur yang langka. Tetapi hingga kini penyebabnya masih menjadi misteri.

Hingga kemudian tim peneliti dari Goldsmiths University of London menemukan bahwa penyebab tindihan sangatlah beragam, namun dua yang paling menonjol adalah stres dan post-traumatic stress disorder (PTSD).

Temuan ini didasarkan pada tinjauan terhadap 42 studi yang dipublikasikan dalam sejumlah jurnal ilmiah. Peneliti mencoba membandingkan frekuensi episode tindihan dengan variabel-variabel lain seperti pendapatan, usia, jenis kelamin, pola makan, etnis, asupan kafein, genetik, tingkat stres dan IQ.

Baca juga: Si Cantik Kendall Jenner Ternyata Sering 'Tindihan'

Secara umum ditemukan bahwa ketika seseorang kurang tidur maka makin besar peluangnya untuk mengalami tindihan, utamanya pada mereka yang terbiasa tidur di bawah enam jam.

Namun nyatanya kondisi ini juga banyak ditemukan pada mereka yang tidur lebih dari 9 jam atau yang kerap tidur siang.

"Tindihan nampaknya cenderung dialami mereka yang mengalami PTSD. Prevalensinya lebih tinggi secara signifikan dalam berbagai studi yang ditinjau," tulis peneliti dalam jurnal Sleep Medicine Reviews, seperti dilaporkan Daily Mail.

Disusul mereka yang rentan mengalami stres dan kecemasan sosial. Kendati demikian, peneliti ingin melakukan riset lain untuk memastikan yang mana yang duluan: tindihan atau gangguan tidur dengan stres itu sendiri.

Baca juga: Penjelasan di Balik Fenomena 'Tindihan' Saat Tidur

Pada dasarnya tindihan bisa mengenai siapapun, di usia berapapun, meski mungkin hanya terjadi satu-dua kali dalam seumur hidupnya.

Pakar mengatakan tindihan tidaklah berbahaya. Menurut spesialis saraf dari RS Medistra, dr Rimawati Tedjasukmana, SpS, RPSGT, tetap tenang, maka dalam beberapa detik seharusnya tubuh sudah bisa digerakkan lagi. Kadang jika terlalu takut, gejala tindihan justru memburuk.

"Baru bisa dicurigai adanya penyakit penyerta jika terjadinya terlalu sering, karena bisa berarti mengalami sleep apnea atau henti napas saat tidur," katanya kepada detikHealth beberapa waktu lalu. (lll/up)