Januari: Gangguan Kejiwaan Menyerang Pilot, Ekstrak Dagga Tembakau Gorila

Kaleidoskop Kesehatan 2017

Januari: Gangguan Kejiwaan Menyerang Pilot, Ekstrak Dagga Tembakau Gorila

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Rabu, 20 Des 2017 07:45 WIB
Januari: Gangguan Kejiwaan Menyerang Pilot, Ekstrak Dagga Tembakau Gorila
Ada banyak peristiwa yang dapat dibahas secara kesehatan di tahun 2017. Foto: Mei Amelia/detikcom
Jakarta - Bulan Januari 2017 memiliki beberapa topik perbincangan soal kesehatan yang cukup menyita perhatian di Indonesia. Mulai dari penyakit misterius yang menyerang ibu di Tangerang hingga mantan pilot Citilink yang diduga mengalami gangguan penyesuaian menjadi perbincangan.

Yun Dwi mengalami penyakit misterius yang membuat tulangnya mudah patah. Ia tak bisa bergerak bebas dan kini harus tinggal di bedeng bersama suami dan 3 anaknya.

Penyanyi Oon 'Project Pop' meninggal setelah 16 tahun bertarung melawan diabetes. Diabetes yang diidapnya membuat tubuh Oon yang semula gemuk menjadi sangat kurus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Muhammad Arsyil Halilintar, bayi berusia 1,2 tahun, harus menggunakan ventilator karena mengalami gangguan paru. Gerakan Koin untuk Arsyil pun sempat ramai di media sosial untuk membantunya memiliki home ventilator.

Marak lagi soal tembakau gorila, kali ini yang dibahas adalah ekstrak dagga yang terkandung di dalamnya. Biasa tumbuh liar di Afrika, ekstrak dagga memiliki efek menenangkan seperti ganja.

Terakhir, ada mantan pilot citilink, Takad Purnama, yang diduga mabuk saat pemeriksaan di bandara. Tekad disebut mengalami gangguan penyesuaian akibat masalah psikologis yang dialaminya.

Lebih lengkapnya, simak pembahasan seputar topik-topik menarik di bulan Januari 2017 berikut ini:

Foto: Mindra Purnomo/detikcom

Sudah sekitar dua tahun Yun Dwi (32) terbaring lemas di tempat tidurnya. Ia tak bisa bebas bergerak karena tulang-tulangnya sangat rentan patah.

Pada akhirnya Dwi yang dulu sempat bekerja sebagai cleaning service di antar keluarga memeriksakan diri ke rumah sakit. Awalnya dokter mengira apa yang dialami Dwi adalah kanker namun pemeriksaan lebih jauh ternyata menunjukkan hasil negatif.

Beberapa kali Dwi harus bolak-balik ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk memperoleh diagnosa tapi dokter tetap belum bisa mengetahui identitas penyakit. Sampai kemudian karena ekonomi yang terbatas dan rasa lelah Dwi menghentikan kunjungannya ke rumah sakit.

Baca juga: Cerita Perempuan di Tangerang yang Terkena Penyakit Misterius

Semua bermula ketika Dwi alami insiden terjatuh di tahun 2007. Saat itu Dwi berpikir hanya mengalami keseleo saja pada kaki kanannya sehingga ia pun memilih untuk berobat ke tempat urut. Namun bukannya sembuh, lama-lama sakit yang ada justru malah semakin menjadi.

"Suami pernah mau angkat tangan saya terus dia tumpu taruh tangannya di tulang paha tau-tau bunyi kretak patah. Pernah ditabrak anak karena baru belajar diri patah juga. Nggak bisa digerakkin sama sekali, kalau bangku ini aja kesenggol kerasa sakit banget," ungkap Dwi yang kini tinggal hanya bersama tiga anaknya di bedeng, di daerah Ciputat, Tangerang Selatan.

Kisah tentang Dwi bisa disimak dalam video berikut ini:

Foto: Gus Mun/detikHOT
Salah satu personel 'Project Pop', Oon dulunya bertubuh gemuk. Namun pria bernama lengkap Muhammad Fachroni itu didiagnosis diabetes saat berumur 28 tahun, kondisi tubuh Oon makin kurus. Bahkan, pria 44 tahun ini sempat beberapa kali dirawat di RS, sebelum akhirnya meninggal pada 13 Januari 2017

Oon 'Project Pop' sudah 16 tahun bertarung melawan diabetes. Meskipun sempat mengalami peningkatan kondisi, belakangan kondisinya memang sempat drop dan tubuhnya terlihat sangat kurus.

Baca juga: 5 Fakta Soal Diabetes Melitus, Penyakit yang Menyerang Oon 'Project Pop'

Pada sebagian pasien diabetes, tubuh yang makin kurus bisa saja terjadi. Lantas, bagaimana mekanisme diabetes bisa membuat tubuh mengurus? Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Prof Dr dr Ahmad Rudjianto SpPD-KEMD menjelaskan pada orang gemuk, pada prinsipnya terjadi penumpukan lemak di bawah kulit atau sekitar organ tubuh.

Kemudian, perlu diingat bahwa sel tubuh, terutama sel otot, juga sel lainnya membutuhkan energi untuk tetap hidup. Nah, energi yang digunakan berasal dari gula. Agar gula bisa masuk ke dalam sel tubuh, diperlukan perantara insulin.

Baca juga: Kaitan Diabetes dan Tubuh Makin Kurus Seperti Dialami Oon 'Project Pop'

"Pada pasien diabetes, kan ada gangguan di insulinnya. Sehingga, gula nggak bisa masuk ke sel. Padahal, sel kan butuh energi untuk tetap hidup. Akhirnya, karena gula nggak bisa dipakai, sumber energi diambil dari lemak, yang akhirnya membuat pasien diabetes jadi kurus," kata Prof Rudi.

Video soal Oon dan perjuangannya melawan diabetes bisa dilihat di sini:

Foto: M Reza S

Muhammad Arsyil Halilintar, bayi berusia 1,2 tahun harus dirawat di RSU Kabupaten Tangerang karena gangguan paru-paru. Paru-paru Arsyil mengalami kerusakan dan kekakuan sehingga fungsinya menurun tak sampai 50 persen. Akibatnya, Arsyil harus menggunakan ventilator untuk membantu pernapasannya.

Sambil menahan tangis, Arnida Vierwanti, ibunda Arsyil, bercerita bahwa Arsyil sudah bolak-balik rumah sakit sejak ia dilahirkan. Ketika Arnida mendapat diagnosis dokter bahwa janinnya mengalami kelainan serius, ia pun memutuskan untuk berhenti bekerja demi merawat buah hatinya.

"Jadi saat masih dalam kandungan di usia 32 minggu sudah dikasih tahu dokter, Arsyil kena hidrops fetalis, ada cairan di paru-paru, jantung. perut dan di bawah jaringan kulit. Lahirnya memang prematur di 34 minggu," tuturnya.

Baca juga: Paru-parunya Kaku, Balita 14 Bulan Ini Butuh Home Ventilator

Arnida menuturkan sudah ratusan juta uang yang harus ia keluarkan untuk mengurus Arsyil sejak lahir hingga saat ini. Sebagian di antaranya memang dicover oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), sisanya ia dapat dari tabungan dan donasi #KoinuntukArsyil.

Arnida menuturkan bahwa gerakan Koin untuk Arsyil yang ramai di media sosial merupakan bentuk kepedulian dari orang-orang sekitarnya. Hal ini lantaran ia tak lagi memiliki dana untuk membeli home ventilator seharga Rp 180 juta.

Video tentang Koin untuk Arsyil bisa dilihat di sini:

Foto: Polisi tangkap pengedar Gorila (Jabbar-detikcom)
Dagga liar (Leonotis leonurus) adalah tumbuhan dari keluarga mint yang tumbuh subur di habitatnya Afrika Selatan. Warga setempat sering menggunakan Dagga liar ini sebagai obat atau untuk rekreasi karena memiliki sifat sedatif atau penenang yang tinggi layaknya ganja (Cannabis).

Nah belakangan dagga liar ini masuk ke Indonesia diketahui dengan beredarnya produk yang populer disebut tembakau gorila. Dikonsumsi dengan cara dibakar dan dihisap layaknya rokok orang-orang yang menggunakan tembakau gorila bisa alami kesenangan berlebih, ketenangan, bahkan sampai halusinasi.

Baca juga: Coba-coba Pakai Tembakau Gorilla, Risikonya Gangguan Jiwa

Menurut dr Andri SpKJ, FAPM, dari RS Omni Internasional adalah senyawa bernama AB-CHMINACA di dalam ekstrak dagga liar yang menimbulkan efek mirip seperti ganja. Senyawa AB-CHMINACA tergolong baru sehingga memang belum digolongkan sebagai narkotika oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) hingga baru-baru ini.

"Belakangan ini sudah masuk ke daftar obat baru yang tergolong narkoba atau narkotika... Ada zat di dalamnya yang bahasa latinnya AB-CHMINACA menyerupai ganja makanya disebut ganja sintetik," ungkap dr Andri ketika ditemui di tempat praktiknya dan ditulis pada Selasa (10/1/2017).

Baca juga: Banyak Disalahgunakan, Efek Tembakau Cap Gorilla Disebut Mirip Ganja

Ketika dikonsumsi dalam jangka panjang ada kekhawatiran akan timbul efek samping yang menetap. Reaksi tubuh terhadap penyerapan AB-CHMINACA tiap orang berbeda-beda dan menurut dr Andri ada pasiennya yang cukup sekali mengonsumsi tembakau gorila bisa alami halusinasi sepanjang hari.

Video tentang tembakau gorila bisa disimak di sini:



Foto: Mindra Purnomo/detikcom
Mantan pilot maskapai penerbangan Citilink, Tekad Purnama, disebut mengalami gangguan penyesuaian setelah tes narkoba oleh BNN menunjukkan hasil negatif. Tekad diduga mengalami penurunan emosi dan perasaan karena masalah yang dialaminya.

Hal ini menurut dr Andri, SpKJ dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, bisa disebut sebagai gangguan penyesuaian. Gangguan penyesuaian adalah masalah kesehatan jiwa yang bisa terjadi pada setiap orang. Gangguan penyesuaian muncul karena adanya stres yang berlangsung minimal dalam 3 bulan terakhir dan memengaruhi emosi serta perilaku seseorang.

Baca juga: 5 Fakta Soal Gangguan Penyesuaian yang Harus Kamu Ketahui

"Penyebabnya bisa stres karena putus hubungan atau perceraian, kehilangan pekerjaan, kematian orang yang dicintai, penyakit serius atau mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Bisa juga stres yang terjadi setelah mengalami kecelakaan, bencana alam atau menjadi korban kejahatan," tutur dr Andri kepada detikHealth.

dr Andri menekankan bahwa seseorang bisa didiagnosis mengalami gangguan penyesuaian jika sebelumnya mengalami stres. Stres inilah yang akhirnya menyebabkan seseorang mengalami putus asa, sedih, gugup atau sakit kepala.

Baca juga: Jangan Keliru, Ini Bedanya Gangguan Penyesuaian dengan Depresi

Jika stres yang terjadi sangat berat, pasien gangguan penyesuaian juga bisa mengalami perilaku destruksif seperti berkelahi, mengemudikan kendaraan secara sembrono hingga vandalisme. Pada tahap ekstrem, seseorang juga berisiko menggunakan alkohol atau obat-obatan.

Video saat Tekad menjalani tes psikologi bisa dilihat di sini:

Halaman 2 dari 6

Sudah sekitar dua tahun Yun Dwi (32) terbaring lemas di tempat tidurnya. Ia tak bisa bebas bergerak karena tulang-tulangnya sangat rentan patah.

Pada akhirnya Dwi yang dulu sempat bekerja sebagai cleaning service di antar keluarga memeriksakan diri ke rumah sakit. Awalnya dokter mengira apa yang dialami Dwi adalah kanker namun pemeriksaan lebih jauh ternyata menunjukkan hasil negatif.

Beberapa kali Dwi harus bolak-balik ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk memperoleh diagnosa tapi dokter tetap belum bisa mengetahui identitas penyakit. Sampai kemudian karena ekonomi yang terbatas dan rasa lelah Dwi menghentikan kunjungannya ke rumah sakit.

Baca juga: Cerita Perempuan di Tangerang yang Terkena Penyakit Misterius

Semua bermula ketika Dwi alami insiden terjatuh di tahun 2007. Saat itu Dwi berpikir hanya mengalami keseleo saja pada kaki kanannya sehingga ia pun memilih untuk berobat ke tempat urut. Namun bukannya sembuh, lama-lama sakit yang ada justru malah semakin menjadi.

"Suami pernah mau angkat tangan saya terus dia tumpu taruh tangannya di tulang paha tau-tau bunyi kretak patah. Pernah ditabrak anak karena baru belajar diri patah juga. Nggak bisa digerakkin sama sekali, kalau bangku ini aja kesenggol kerasa sakit banget," ungkap Dwi yang kini tinggal hanya bersama tiga anaknya di bedeng, di daerah Ciputat, Tangerang Selatan.

Kisah tentang Dwi bisa disimak dalam video berikut ini:

Salah satu personel 'Project Pop', Oon dulunya bertubuh gemuk. Namun pria bernama lengkap Muhammad Fachroni itu didiagnosis diabetes saat berumur 28 tahun, kondisi tubuh Oon makin kurus. Bahkan, pria 44 tahun ini sempat beberapa kali dirawat di RS, sebelum akhirnya meninggal pada 13 Januari 2017

Oon 'Project Pop' sudah 16 tahun bertarung melawan diabetes. Meskipun sempat mengalami peningkatan kondisi, belakangan kondisinya memang sempat drop dan tubuhnya terlihat sangat kurus.

Baca juga: 5 Fakta Soal Diabetes Melitus, Penyakit yang Menyerang Oon 'Project Pop'

Pada sebagian pasien diabetes, tubuh yang makin kurus bisa saja terjadi. Lantas, bagaimana mekanisme diabetes bisa membuat tubuh mengurus? Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Prof Dr dr Ahmad Rudjianto SpPD-KEMD menjelaskan pada orang gemuk, pada prinsipnya terjadi penumpukan lemak di bawah kulit atau sekitar organ tubuh.

Kemudian, perlu diingat bahwa sel tubuh, terutama sel otot, juga sel lainnya membutuhkan energi untuk tetap hidup. Nah, energi yang digunakan berasal dari gula. Agar gula bisa masuk ke dalam sel tubuh, diperlukan perantara insulin.

Baca juga: Kaitan Diabetes dan Tubuh Makin Kurus Seperti Dialami Oon 'Project Pop'

"Pada pasien diabetes, kan ada gangguan di insulinnya. Sehingga, gula nggak bisa masuk ke sel. Padahal, sel kan butuh energi untuk tetap hidup. Akhirnya, karena gula nggak bisa dipakai, sumber energi diambil dari lemak, yang akhirnya membuat pasien diabetes jadi kurus," kata Prof Rudi.

Video soal Oon dan perjuangannya melawan diabetes bisa dilihat di sini:

Muhammad Arsyil Halilintar, bayi berusia 1,2 tahun harus dirawat di RSU Kabupaten Tangerang karena gangguan paru-paru. Paru-paru Arsyil mengalami kerusakan dan kekakuan sehingga fungsinya menurun tak sampai 50 persen. Akibatnya, Arsyil harus menggunakan ventilator untuk membantu pernapasannya.

Sambil menahan tangis, Arnida Vierwanti, ibunda Arsyil, bercerita bahwa Arsyil sudah bolak-balik rumah sakit sejak ia dilahirkan. Ketika Arnida mendapat diagnosis dokter bahwa janinnya mengalami kelainan serius, ia pun memutuskan untuk berhenti bekerja demi merawat buah hatinya.

"Jadi saat masih dalam kandungan di usia 32 minggu sudah dikasih tahu dokter, Arsyil kena hidrops fetalis, ada cairan di paru-paru, jantung. perut dan di bawah jaringan kulit. Lahirnya memang prematur di 34 minggu," tuturnya.

Baca juga: Paru-parunya Kaku, Balita 14 Bulan Ini Butuh Home Ventilator

Arnida menuturkan sudah ratusan juta uang yang harus ia keluarkan untuk mengurus Arsyil sejak lahir hingga saat ini. Sebagian di antaranya memang dicover oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), sisanya ia dapat dari tabungan dan donasi #KoinuntukArsyil.

Arnida menuturkan bahwa gerakan Koin untuk Arsyil yang ramai di media sosial merupakan bentuk kepedulian dari orang-orang sekitarnya. Hal ini lantaran ia tak lagi memiliki dana untuk membeli home ventilator seharga Rp 180 juta.

Video tentang Koin untuk Arsyil bisa dilihat di sini:

Dagga liar (Leonotis leonurus) adalah tumbuhan dari keluarga mint yang tumbuh subur di habitatnya Afrika Selatan. Warga setempat sering menggunakan Dagga liar ini sebagai obat atau untuk rekreasi karena memiliki sifat sedatif atau penenang yang tinggi layaknya ganja (Cannabis).

Nah belakangan dagga liar ini masuk ke Indonesia diketahui dengan beredarnya produk yang populer disebut tembakau gorila. Dikonsumsi dengan cara dibakar dan dihisap layaknya rokok orang-orang yang menggunakan tembakau gorila bisa alami kesenangan berlebih, ketenangan, bahkan sampai halusinasi.

Baca juga: Coba-coba Pakai Tembakau Gorilla, Risikonya Gangguan Jiwa

Menurut dr Andri SpKJ, FAPM, dari RS Omni Internasional adalah senyawa bernama AB-CHMINACA di dalam ekstrak dagga liar yang menimbulkan efek mirip seperti ganja. Senyawa AB-CHMINACA tergolong baru sehingga memang belum digolongkan sebagai narkotika oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) hingga baru-baru ini.

"Belakangan ini sudah masuk ke daftar obat baru yang tergolong narkoba atau narkotika... Ada zat di dalamnya yang bahasa latinnya AB-CHMINACA menyerupai ganja makanya disebut ganja sintetik," ungkap dr Andri ketika ditemui di tempat praktiknya dan ditulis pada Selasa (10/1/2017).

Baca juga: Banyak Disalahgunakan, Efek Tembakau Cap Gorilla Disebut Mirip Ganja

Ketika dikonsumsi dalam jangka panjang ada kekhawatiran akan timbul efek samping yang menetap. Reaksi tubuh terhadap penyerapan AB-CHMINACA tiap orang berbeda-beda dan menurut dr Andri ada pasiennya yang cukup sekali mengonsumsi tembakau gorila bisa alami halusinasi sepanjang hari.

Video tentang tembakau gorila bisa disimak di sini:



Mantan pilot maskapai penerbangan Citilink, Tekad Purnama, disebut mengalami gangguan penyesuaian setelah tes narkoba oleh BNN menunjukkan hasil negatif. Tekad diduga mengalami penurunan emosi dan perasaan karena masalah yang dialaminya.

Hal ini menurut dr Andri, SpKJ dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, bisa disebut sebagai gangguan penyesuaian. Gangguan penyesuaian adalah masalah kesehatan jiwa yang bisa terjadi pada setiap orang. Gangguan penyesuaian muncul karena adanya stres yang berlangsung minimal dalam 3 bulan terakhir dan memengaruhi emosi serta perilaku seseorang.

Baca juga: 5 Fakta Soal Gangguan Penyesuaian yang Harus Kamu Ketahui

"Penyebabnya bisa stres karena putus hubungan atau perceraian, kehilangan pekerjaan, kematian orang yang dicintai, penyakit serius atau mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Bisa juga stres yang terjadi setelah mengalami kecelakaan, bencana alam atau menjadi korban kejahatan," tutur dr Andri kepada detikHealth.

dr Andri menekankan bahwa seseorang bisa didiagnosis mengalami gangguan penyesuaian jika sebelumnya mengalami stres. Stres inilah yang akhirnya menyebabkan seseorang mengalami putus asa, sedih, gugup atau sakit kepala.

Baca juga: Jangan Keliru, Ini Bedanya Gangguan Penyesuaian dengan Depresi

Jika stres yang terjadi sangat berat, pasien gangguan penyesuaian juga bisa mengalami perilaku destruksif seperti berkelahi, mengemudikan kendaraan secara sembrono hingga vandalisme. Pada tahap ekstrem, seseorang juga berisiko menggunakan alkohol atau obat-obatan.

Video saat Tekad menjalani tes psikologi bisa dilihat di sini:

(mrs/up)

Berita Terkait