Maret: Bahaya Skip Challenge, Kisah Perempuan dengan 9 Kepribadian

Kaleidoskop Kesehatan 2017

Maret: Bahaya Skip Challenge, Kisah Perempuan dengan 9 Kepribadian

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Jumat, 22 Des 2017 08:30 WIB
Maret: Bahaya Skip Challenge, Kisah Perempuan dengan 9 Kepribadian
Foto: Thinkstock
Jakarta - Bulan Maret tahun 2017 diisi dengan pemberitaan seputar kesehatan yang cukup ramai. Mulai dari bahaya skip challenge hingga perempuan dengan 9 kepribadian menghiasi headline detikHealth.

Skip challenge atau pass out challenge ramai dilakukan anak sekolah untuk mencari sensasi nyaris pingsan. Sementara itu, ada Anastasia Wella yang menceritakan kisahnya hidup dengan 9 kepribadian.

Indonesia melakukan pilot project vaksin pneumonia di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kisah bayi Naura berjuang melawan atresia bilier menarik simpati warganet.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari luar negeri, peneliti berhasil mengembangkan jantung dari daun bayam. Untuk lebih lengkapnya, simak rangkuman beritanya berikut ini ya.

Foto: twitter
Ramai di internet, anak-anak sekolah melakukan skip challenge, atau populer juga disebut sebagai pass out challenge. Permainan ini dilakukan dengan menekan dada temannya keras-keras sampai yang bersangkutan kejang dan pingsan sesaat. Dianggap lucu dan menantang, anak-anak sekolah pun merekam permainan ini dan mengunggahnya ke jejaring sosial, sehingga menjadi viral.

Namun pakar kesehatan hingga pendidikan mengecam permainan ini. Dr dr Rizaldy Pinzon, MKes, SpS dari RS Bethesda Yogyakarta menjelaskan dinding dada yang harusnya mengembang dan mengempis, saat ditekan dengan sangat keras dapat menyebabkan kondisi yang disebut asfiksia traumatik, yakni kondisi otak yang kekurangan oksigen.

Direktur Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan, dr Eni Gustina, MPH, menanggapi bahwa skip challenge adalah sebuah aktivitas yang berbahaya. Menurutnya pihak sekolah lewat Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan keluarga lewat orang tua perlu lebih berperan aktif mengawasi kegiatan anak-anak.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy melarang para siswa untuk melakukan tantangan semacam itu. Mendikbud juga mengimbau para guru dan kepala sekolah memberikan perhatian khusus terhadap aktivitas siswa di lingkungan sekolah.

"Mata rantai kekerasan pada anak harus kita putuskan. Informasi yang tidak layak seperti Skip Challenge yang mengandung kekerasan tentu menjadi kewajiban pemerintah untuk mengangani masalah ini," kata Menteri PPPA, Yohanna Yembise, di kesempatan lainnya.

Tonton videonya:



Foto: Worcester Polytechnic Institute
Untuk mengatasi masalah terbatasnya organ donor, peneliti di dunia berusaha berbagai cara untuk mencari organ alternatif. Salah satunya yang terbaru adalah dengan menumbuhkan jantung manusia hidup memakai daun bayam.

Peneliti dari Worcester Polytechnic Institute melaporkan di jurnal Biomaterials bahwa daun bayam dipakai sebagai kerangka. Dengan menggunakan teknik khusus, sel tumbuhan yang ada pada daun dihilangkan lalu kemudian diganti dengan sel hidup jantung manusia.

Baca juga: Pakai Daun Bayam, Ilmuwan Tumbuhkan Jantung Manusia

Mengapa daun bayam yang dipakai menurut peneliti karena jaringan vaskulernya mirip seperti pada jantung manusia. Di dalam daun jaringan vaskuler dipakai untuk mentransportasikan cairan dan nutrisi ke seluruh bagian tumbuhan layaknya pembuluh darah.

Dengan demikian harapannya sel manusia dapat terbentuk di dalam daun dan perlahan-lahan bisa dibentuk tumbuh menjadi organ utuh.

Baca juga: Embrio Chimera Manusia-Babi Berhasil Diciptakan

Foto: Firdaus Anwar
Anastasia Wella (27) adalah seorang pengidap kondisi mental Dissosiative Identity Disorder (DID) atau yang lebih dikenal dengan Multiple Personality. Di dalam dirinya terdapat sekitar sembilan kepribadian berbeda yang sewaktu-waktu dapat keluar menggantikan kepribadian utama.

Awalnya tidak ada yang tahu apa yang terjadi ketika di usia 11 tahun Anastasia sering alami ingatan 'kosong'. Ia kerap kehilangan konsep waktu akibat kepribadian yang lain mengambil alih kesadarannya.

Baca juga: Bagaimana Rasanya Hidup dengan 9 Kepribadian?

Selama kepribadian yang lain mengambil alih, Anastasia sendiri mengaku tak pernah ingat apa yang dilakukannya. Ia sendiri keheranan ketika ada teman atau kerabat yang menyebut dirinya bisa melakukan berbagai macam hal seperti berenang, menari, atau fasih menulis serta membaca huruf arab yang jelas-jelas tak pernah ia pelajari.

Selama kepribadian yang lain mengambil alih, Anastasia sendiri mengaku tak pernah ingat apa yang dilakukannya. Ia sendiri keheranan ketika ada teman atau kerabat yang menyebut dirinya bisa melakukan berbagai macam hal seperti berenang, menari, atau fasih menulis serta membaca huruf arab yang jelas-jelas tak pernah ia pelajari.

Baca juga: Curhat Anastasia: Ingin Bertemu Penyandang DID Lainnya

Mengapa kepribadian tersebut bisa muncul menurut dokter kemungkinan karena awalnya saat masih anak-anak Anastasia sudah memiliki ganggulan lain yaitu bipolar disorder namun tak tertangani. Ketika sedang berada pada situasi tertekan Anastasia yang sifatnya perfeksionis berusaha keras mengatasi situasi sendiri sehingga akhirnya muncul berbagai kepribadian sebagai coping mechanism.

Tonton videonya:

Foto: Thinkstock

Vaksin pneumonia bakal diluncurkan melalui pilot project di Lombok, tepatnya di dua kabupaten terlebih dulu yakni Lombok Barat dan Lombok Timur. Jika hasil pilot project di Lombok memuaskan, bisa saja vaksinasi pneumonia menjadi program nasional.

Baca juga: Cegah Pneumonia pada Anak, Yuk Beri Vaksin Ini pada si Kecil

Pemberian vaksin dilakukan sebanyak tiga kali, yakni pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan dan 12 bulan. Di tahun kedua, diharapkan sudah ada dokumentasi data yang terlihat.

Adanya dokumentasi data diharapkan dapat menjadi bekal pengajuan vaksin pneumonia sebagai program nasional. Jika hasil pilot project di Lombok memuaskan, bisa saja vaksinasi pneumonia menjadi program nasional. Dengan begitu masyarakat bisa mendapat manfaat vaksin gratis sekaligus mencegah kematian anak dan bayi akibat pneumonia.

Baca juga: Gambaran Pneumonia di Lombok, Tempat Pilot Project Vaksin Pneumonia

"Kita berharap, masyarakat juga mendukung, Pemda juga harus mendukung. Dengan membawa bukti data, rekaman di sana, akan memudahkan pemerintah berjuang ke DPR dan menunjukkan ini efektif," ujar Direktur Surveilans dan Karantina Penyakit Kementerian Kesehatan Ri, dr Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Dsc.

Baca juga: Kalau Batuk Anak Seperti Ini, Waspadai Gejala Pneumonia


Foto: M Reza Sulaiman/detikHealth
Naura Aulia Putri Wibowo, bayi berusia 1,2 tahun asal Depok, harus berjuang melawan atresia biliar. Ia juga mengalami sirosis hati dan gizi buruk karena tak bisa mencerna makanan.

Satu-satunya cara untuk mengatasi atresia bilier adalah dengan menjalani transplantasi hati. Biaya yang dibutuhkan sekitar Rp1,2 miliar dan tidak semuanya ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional.

Baca juga: Donasi Detikers Bantu Bayi Naura Jalani Transplantasi Hati

Detikcom bekerjasama dengan kitabisa.com sempat melalukan penggalangan dana untuk membantu Naura. Total donasi yang terkumpul mencapai Rp228.289.519 dari 1.258 donatur. Donasi sudah diserahkan seluruhnya kepada keluarga Naura pada Selasa (14/3/2017).

Namun takdir berkata lain. Belum sempat Naura menjalani transplantasi hati, bayi mungil ini sudah harus berpulang. Untuk itu, keluarga besar detik.com mengucapkan belasungkawa sebesar-besarnya atas kepergian Naura.

Baca juga: Alami Gizi Buruk dan Atresia Bilier, Bayi Naura Butuh Bantuan

Halaman 2 dari 6
Ramai di internet, anak-anak sekolah melakukan skip challenge, atau populer juga disebut sebagai pass out challenge. Permainan ini dilakukan dengan menekan dada temannya keras-keras sampai yang bersangkutan kejang dan pingsan sesaat. Dianggap lucu dan menantang, anak-anak sekolah pun merekam permainan ini dan mengunggahnya ke jejaring sosial, sehingga menjadi viral.

Namun pakar kesehatan hingga pendidikan mengecam permainan ini. Dr dr Rizaldy Pinzon, MKes, SpS dari RS Bethesda Yogyakarta menjelaskan dinding dada yang harusnya mengembang dan mengempis, saat ditekan dengan sangat keras dapat menyebabkan kondisi yang disebut asfiksia traumatik, yakni kondisi otak yang kekurangan oksigen.

Direktur Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan, dr Eni Gustina, MPH, menanggapi bahwa skip challenge adalah sebuah aktivitas yang berbahaya. Menurutnya pihak sekolah lewat Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan keluarga lewat orang tua perlu lebih berperan aktif mengawasi kegiatan anak-anak.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy melarang para siswa untuk melakukan tantangan semacam itu. Mendikbud juga mengimbau para guru dan kepala sekolah memberikan perhatian khusus terhadap aktivitas siswa di lingkungan sekolah.

"Mata rantai kekerasan pada anak harus kita putuskan. Informasi yang tidak layak seperti Skip Challenge yang mengandung kekerasan tentu menjadi kewajiban pemerintah untuk mengangani masalah ini," kata Menteri PPPA, Yohanna Yembise, di kesempatan lainnya.

Tonton videonya:



Untuk mengatasi masalah terbatasnya organ donor, peneliti di dunia berusaha berbagai cara untuk mencari organ alternatif. Salah satunya yang terbaru adalah dengan menumbuhkan jantung manusia hidup memakai daun bayam.

Peneliti dari Worcester Polytechnic Institute melaporkan di jurnal Biomaterials bahwa daun bayam dipakai sebagai kerangka. Dengan menggunakan teknik khusus, sel tumbuhan yang ada pada daun dihilangkan lalu kemudian diganti dengan sel hidup jantung manusia.

Baca juga: Pakai Daun Bayam, Ilmuwan Tumbuhkan Jantung Manusia

Mengapa daun bayam yang dipakai menurut peneliti karena jaringan vaskulernya mirip seperti pada jantung manusia. Di dalam daun jaringan vaskuler dipakai untuk mentransportasikan cairan dan nutrisi ke seluruh bagian tumbuhan layaknya pembuluh darah.

Dengan demikian harapannya sel manusia dapat terbentuk di dalam daun dan perlahan-lahan bisa dibentuk tumbuh menjadi organ utuh.

Baca juga: Embrio Chimera Manusia-Babi Berhasil Diciptakan

Anastasia Wella (27) adalah seorang pengidap kondisi mental Dissosiative Identity Disorder (DID) atau yang lebih dikenal dengan Multiple Personality. Di dalam dirinya terdapat sekitar sembilan kepribadian berbeda yang sewaktu-waktu dapat keluar menggantikan kepribadian utama.

Awalnya tidak ada yang tahu apa yang terjadi ketika di usia 11 tahun Anastasia sering alami ingatan 'kosong'. Ia kerap kehilangan konsep waktu akibat kepribadian yang lain mengambil alih kesadarannya.

Baca juga: Bagaimana Rasanya Hidup dengan 9 Kepribadian?

Selama kepribadian yang lain mengambil alih, Anastasia sendiri mengaku tak pernah ingat apa yang dilakukannya. Ia sendiri keheranan ketika ada teman atau kerabat yang menyebut dirinya bisa melakukan berbagai macam hal seperti berenang, menari, atau fasih menulis serta membaca huruf arab yang jelas-jelas tak pernah ia pelajari.

Selama kepribadian yang lain mengambil alih, Anastasia sendiri mengaku tak pernah ingat apa yang dilakukannya. Ia sendiri keheranan ketika ada teman atau kerabat yang menyebut dirinya bisa melakukan berbagai macam hal seperti berenang, menari, atau fasih menulis serta membaca huruf arab yang jelas-jelas tak pernah ia pelajari.

Baca juga: Curhat Anastasia: Ingin Bertemu Penyandang DID Lainnya

Mengapa kepribadian tersebut bisa muncul menurut dokter kemungkinan karena awalnya saat masih anak-anak Anastasia sudah memiliki ganggulan lain yaitu bipolar disorder namun tak tertangani. Ketika sedang berada pada situasi tertekan Anastasia yang sifatnya perfeksionis berusaha keras mengatasi situasi sendiri sehingga akhirnya muncul berbagai kepribadian sebagai coping mechanism.

Tonton videonya:


Vaksin pneumonia bakal diluncurkan melalui pilot project di Lombok, tepatnya di dua kabupaten terlebih dulu yakni Lombok Barat dan Lombok Timur. Jika hasil pilot project di Lombok memuaskan, bisa saja vaksinasi pneumonia menjadi program nasional.

Baca juga: Cegah Pneumonia pada Anak, Yuk Beri Vaksin Ini pada si Kecil

Pemberian vaksin dilakukan sebanyak tiga kali, yakni pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan dan 12 bulan. Di tahun kedua, diharapkan sudah ada dokumentasi data yang terlihat.

Adanya dokumentasi data diharapkan dapat menjadi bekal pengajuan vaksin pneumonia sebagai program nasional. Jika hasil pilot project di Lombok memuaskan, bisa saja vaksinasi pneumonia menjadi program nasional. Dengan begitu masyarakat bisa mendapat manfaat vaksin gratis sekaligus mencegah kematian anak dan bayi akibat pneumonia.

Baca juga: Gambaran Pneumonia di Lombok, Tempat Pilot Project Vaksin Pneumonia

"Kita berharap, masyarakat juga mendukung, Pemda juga harus mendukung. Dengan membawa bukti data, rekaman di sana, akan memudahkan pemerintah berjuang ke DPR dan menunjukkan ini efektif," ujar Direktur Surveilans dan Karantina Penyakit Kementerian Kesehatan Ri, dr Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Dsc.

Baca juga: Kalau Batuk Anak Seperti Ini, Waspadai Gejala Pneumonia


Naura Aulia Putri Wibowo, bayi berusia 1,2 tahun asal Depok, harus berjuang melawan atresia biliar. Ia juga mengalami sirosis hati dan gizi buruk karena tak bisa mencerna makanan.

Satu-satunya cara untuk mengatasi atresia bilier adalah dengan menjalani transplantasi hati. Biaya yang dibutuhkan sekitar Rp1,2 miliar dan tidak semuanya ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional.

Baca juga: Donasi Detikers Bantu Bayi Naura Jalani Transplantasi Hati

Detikcom bekerjasama dengan kitabisa.com sempat melalukan penggalangan dana untuk membantu Naura. Total donasi yang terkumpul mencapai Rp228.289.519 dari 1.258 donatur. Donasi sudah diserahkan seluruhnya kepada keluarga Naura pada Selasa (14/3/2017).

Namun takdir berkata lain. Belum sempat Naura menjalani transplantasi hati, bayi mungil ini sudah harus berpulang. Untuk itu, keluarga besar detik.com mengucapkan belasungkawa sebesar-besarnya atas kepergian Naura.

Baca juga: Alami Gizi Buruk dan Atresia Bilier, Bayi Naura Butuh Bantuan

(mrs/up)

Berita Terkait