Sabtu, 30 Des 2017 08:10 WIB

Difteri Serang Warga Rohingya di Pengungsian, 24 Orang Meninggal

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Pasien difteri di kamp pengungsian Rohingya/Foto: REUTERS Pasien difteri di kamp pengungsian Rohingya/Foto: REUTERS
Jakarta - Warga Rohingya di kamp pengungsian Bangladesh kekurangan obat-obatan dan tenaga kesehatan. Hal ini mengakibatkan mereka terancam terserang wabah difteri.

Crystal van Leeuwen, koordinator Doctors Without Borders (MSF) yang menangani para warga Rohingya mengatakan sudah ada kurang lebih 24 orang yang meninggal karena difteri. Jumlah korban meninggal bisa semakin banyak mengingat rata-rata 100 kasus baru ditemukan tiap harinya.

"Kami seperti tertusuk pedang bermata dua. Selain kekurangan tenaga kesehatan, kami juga kekurangan obat-obatan untuk menangani wabah ini," ujar Leeuwen, dikutip dari Reuters.

Baca juga: Dokter: Terompet Tahun Baru 'Secara Teori' Bisa Tularkan Difteri

Leeuwen menambahkan bahwa para pengungsi Rohingya hidup di pengungsian yang kurang higienis. Mereka tidur di gubuk-gubuk yang dibangun dari bambu dan plastik, serta sangat kekurangan akses air bersih.

Difteri penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri bernama Corynebacterium Diphteriae. Pada manusia bakteri ini umumnya menyerang saluran napas atas menyebabkan gejala seperti demam, sakit tenggorokan, dan yang khas munculnya selaput putih di sekitar amandel.

Difteri mematikan karena selaput putih yang disebut pseudomembrane dapat terus tumbuh tebal hingga seseorang kesulitan atau bahkan tidak bisa bernapas. Selain itu bakteri juga memproduksi toksin yang dapat merusak jantung, ginjal, dan saraf memicu komplikasi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut angka kematian difteri sebesar 10 persen. Difteri adalah salah satu dari 17 penyakit tropis yang terlupakan, dan kembali mengancam dunia karena menurunnya cakupan vaksinasi.

Leeuwen mengatakan saat ini pemerintah Inggris sudah mengirimkan bantuan 40 dokter, perawat dan pemadam kebakaran untuk membantu MSF di kamp pengungsian. Ke depannya, ia berharap akan ada bantuan obat-obatan karena stok obat dan serum makin menipis.

"Kami mungkin akan mendapat bantuan tenaga, dan itu hal yang baik, namun akan tidak berarti jika kami kekurangan stok obat dan serum," tutupnya.

Baca juga: Soal Difteri, Kemenkes: Jangan Salahkan Terompet, yang Penting Imunisasi



(mrs/up)
News Feed