Kamis, 04 Jan 2018 16:40 WIB

Difteri Kembali Mengancam di Yaman, Ratusan Orang Terinfeksi

Firdaus Anwar - detikHealth
Kondisi kota di Yaman yang hancur akibat perang. (Foto: BBC World) Kondisi kota di Yaman yang hancur akibat perang. (Foto: BBC World)
Jakarta - Perang saudara yang pecah sejak tahun 2015 lalu membuat Yaman tak lagi bisa berfungsi sebagai suatu negara. Tidak ada layanan publik yang berjalan termasuk juga layanan untuk kesehatan.

Hal ini membuat para warga Yaman terancam tidak hanya oleh perang tetapi juga dampak lain seperti kemiskinan, kelaparan, dan wabah penyakit. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut saat ini di Yaman terjadi wabah kolera terburuk sepanjang sejarah dunia dan belakangan muncul juga difteri.

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae dan dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak. Dilaporkan WHO setidaknya ada 333 kasus diduga difteri dengan jumlah korban meninggal mencapai 35 orang.

Baca juga: Mengintip Wabah Kolera di Yaman yang Disebut Wabah Terburuk di Dunia

Penyakit ini memiliki masa inkubasi 2-5 hari dan akan menular selama 2-4 minggu, memiliki gejala antara lain demam, batuk, sulit menelan, selaput putih abu-abu (pseudomembran), pembengkakan pada leher, dan sulit bernafas.

"Awalnya anak saya demam, lalu kemudian anak lain ada yang meninggal. Tiba-tiba ada lagi orang kedua yang meninggal karena sakit tenggorokan. Anak saya ketakutan, dia bilang 'ibu mulut saya putih semua'. Sangat menyeramkan," ujar seorang ibu yang anaknya terkena difteri, Um Ahmed, dilansir BBC, Kamis (4/1/2018).

Karena tidak ada layanan publik saat ini masyarakat Yaman hanya bisa bergantung dari bantuan terbatas lembaga-lembaga kemanusiaan internasional. Sampai perang berakhir, maka jumlah korban karena penyakit diperkirakan akan terus bertambah.

"Hanya tuhan yang bisa menolong kita. Krisis ini, perang ini, harus segera berakhir. Kami sudah bersabar tapi rasanya sudah tidak mungkin ditahan lagi. Kami kelaparan dan sakit," ujar warga Yaman lainnya, Ghaniah.

Di Indonesia difteri juga mengancam namun karena alasan berkurangnya cakupan imunisasi akibat ada penolakan.

Baca juga: Difteri Mewabah, Kemenkes Tuding Penolakan Vaksin Sebagai Pemicu (fds/up)
News Feed