Selasa, 23 Jan 2018 15:41 WIB

Bagaimana Mengatasi Pusing Sehabis Gempa?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Suasana pasca gempa mengguncang gedung-gedung perkantoran di Jakarta (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta - Setelah gempa keras berlalu, beberapa orang mungkin masih mengeluhkan pusing atau bahkan mual. Biasanya dialami orang-orang yang ketika gempa terjadi, tengah berada di ketinggian gedung pencakar langit, karena intensitas getaran gempa cenderung lebih terasa.

Rasa pusing atau dizziness terjadi ketika fungsi keseimbangan di otak tergangu. Untuk menjaga keseimbangan, otak menangkap dan memproses informasi dari kulit, otot, mata dan telinga. Guncangan yang kuat bisa mengganggu fungsi normal tersebut.

Normalnya, pusing akan hilang dengan sendirinya setelah situasi tenang dan mulai kondusif. Namun dalam beberapa kondisi, rasa pusing itu kambuh lagi ketika memori tentang gempa itu muncul kembali.

Ini dialami oleh sebagian warga Prefektur Kumamoto, Jepang, usai gempa keras pada 2016 silam. Mereka mengalami kondisi yang disebut 'post-earthquake dizziness syndrome' (PEDS) yang ditandai dengan rasa pusing hingga berbulan-bulan kemudian.

Baca juga: Mengapa Terasa Pusing Seusai Gempa?

Kondisi serupa juga ditemukan pada beberapa survivor gempa Tohoku tahun 2011. Yasuyuki Nomura, profesor otolaringologi dari Nihon University School of Medicine in Tokyo menemukannya ketika meneliti para survivor yang menjalani perawatan di Tokyo dan Fukushima.

Dari sekitar 3.000 pasien yang diteliti, 80-90 persen pasien dewasa dan 50-70 persen anak-anak pernah mengalami serangan pusing mendadak. Dalam banyak kasus, pusing terjadi ketika duduk dan berada di dalam ruangan.

"Pusing lebih jarang terjadi ketika mereka ada di luar ruangan dibandingkan di dalam ruangan. Olahraga (di luar ruangan) akan membantu meredakan kegelisahan terkait memori tentang getaran yang terekam di otak," kata Nomura, dikutip dari Japantimes.

Baca juga: Penjelasan BMKG Soal Gempa Banten, Dimutakhirkan Jadi 6,1 SR

(up/up)