4 Penyebab Cedera Paling Banyak Saat Terjadi Gempa

4 Penyebab Cedera Paling Banyak Saat Terjadi Gempa

Firdaus Anwar - detikHealth
Selasa, 23 Jan 2018 16:20 WIB
4 Penyebab Cedera Paling Banyak Saat Terjadi Gempa
Suasana karyawan kantor berhamburan keluar saat terjadi gempa di Jakarta. (Foto: Danang Sugianto)
Jakarta - Pada pukul 13.35 WIB, Selasa (23/1/2018), selama lebih dari satu menit gempa berkekuatan 6,1 skala Richter mengguncang DKI Jakarta. Pusat gempa menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ada di Lebak, Banten, dan tidak berpotensi tsunami.

Meski belum diketahui pasti apakah ada korban jiwa atau kerugian dari peristiwa ini, secara umum peristiwa gempa dapat menyebabkan hilangnya nyawa dan kehancuran infrastruktur secara luas.

Studi melihat setidaknya beberapa hal ini dapat menyebabkan cedera saat gempa:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Penjelasan BMKG Soal Gempa Banten, Dimutakhirkan Jadi 6,1 SR

1. Kejatuhan benda

Foto: Dok Kopassus
Cedera karena kejatuhan benda apakah dari bangunan, pohon, tiang lampu, atau benda lainnya yang roboh menjadi salah satu hal yang bisa terjadi pada orang-orang saat gempa. Studi yang dipublikasi di jurnal Disaster Risk Reduction menyebut kejatuhan benda ini jadi penyebab kematian dan kecacatan terbanyak berkaitan dengan gempa bumi.

"Dalam analisis ini patah tulang, cedera jaringan halus, dan cedera karena tekanan jadi hal yang paling umum dan paling banyak dilaporkan," tulis peneliti.

2. Serpihan kaca

Foto: dok. Polda Metro Jaya
Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat (DOL) menyebut serpihan kaca sebagai salah satu penyebab umum cedera disaat gempa. Ketika getaran terjadi kaca-kaca bangunan yang pecah berterbangan bisa mengenai orang menyebabkan luka tusuk atau gores.

Belum lagi saat panik orang-orang yang berlarian di jalan mungkin tidak menyadari ada pecahan kaca di lantai dan menginjaknya.

3. Terjatuh

Foto: Danang Sugianto
Ketika gempa terjadi maka langkah pertama yang disarankan adalah mencari perlindungan terlebih dahulu terhadap risiko objek yang jatuh. Setelah guncangan usai baru evakuasi diri cari tempat terbuka yang aman.

Namun karena panik beberapa orang mungkin akan berusaha terburu-buru mencari tempat aman. Hal ini justru dapat menyebabkan cedera seperti kaki atau tangan terkilir.

"Guncangan gempa dapat sangat kencang sehingga membuat Anda tidak bisa berjalan jauh tanpa terjatuh," tulis Manajemen Kondisi Darurat University of Washington.

4. Depresi

Foto: Reuters
Masalah kesehatan jiwa terutama stres dan depresi dapat dialami oleh mereka yang selamat dari bencana seperti gempa bumi. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa bunuh diri merupakan ancaman nyata yang bisa dihadapi oleh para survivor.

"Selain bahaya dari faktor eksternal, bunuh diri adalah risiko yang sangat nyata di antara korban yang putus asa," tulis WHO.
Halaman 2 dari 5
Cedera karena kejatuhan benda apakah dari bangunan, pohon, tiang lampu, atau benda lainnya yang roboh menjadi salah satu hal yang bisa terjadi pada orang-orang saat gempa. Studi yang dipublikasi di jurnal Disaster Risk Reduction menyebut kejatuhan benda ini jadi penyebab kematian dan kecacatan terbanyak berkaitan dengan gempa bumi.

"Dalam analisis ini patah tulang, cedera jaringan halus, dan cedera karena tekanan jadi hal yang paling umum dan paling banyak dilaporkan," tulis peneliti.

Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat (DOL) menyebut serpihan kaca sebagai salah satu penyebab umum cedera disaat gempa. Ketika getaran terjadi kaca-kaca bangunan yang pecah berterbangan bisa mengenai orang menyebabkan luka tusuk atau gores.

Belum lagi saat panik orang-orang yang berlarian di jalan mungkin tidak menyadari ada pecahan kaca di lantai dan menginjaknya.

Ketika gempa terjadi maka langkah pertama yang disarankan adalah mencari perlindungan terlebih dahulu terhadap risiko objek yang jatuh. Setelah guncangan usai baru evakuasi diri cari tempat terbuka yang aman.

Namun karena panik beberapa orang mungkin akan berusaha terburu-buru mencari tempat aman. Hal ini justru dapat menyebabkan cedera seperti kaki atau tangan terkilir.

"Guncangan gempa dapat sangat kencang sehingga membuat Anda tidak bisa berjalan jauh tanpa terjatuh," tulis Manajemen Kondisi Darurat University of Washington.

Masalah kesehatan jiwa terutama stres dan depresi dapat dialami oleh mereka yang selamat dari bencana seperti gempa bumi. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa bunuh diri merupakan ancaman nyata yang bisa dihadapi oleh para survivor.

"Selain bahaya dari faktor eksternal, bunuh diri adalah risiko yang sangat nyata di antara korban yang putus asa," tulis WHO.

(fds/up)

Berita Terkait