Rabu, 24 Jan 2018 09:35 WIB

Negara-negara ini Paling Rajin Konsumsi Mecin

Mustiana Lestari - detikHealth
Foto: iStock
Jakarta - Monosodium Glutamat atau MSG menjadi materi esensial di banyak industri pangan. MSG atau mecin ini ternyata paling banyak diproduksi dan dikonsumsi oleh negara Asia.

Berdasarkan data dari Chemical Economics Handbook 2015, produksi mecin di Asia mencapai 94% dari total produksi mecin di seluruh dunia. Negara Asia yang merupakan produsen mecin terbesar adalah China, Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Taiwan.

Negara Tirai Bambu ini juga juga memproduksi mecin terbesar dengan 65% dari total produsen mecin dunia. Dari sisi produksi, China juga mencatatkan diri sebagai eksportir terbesar, sedangkan Indonesia menempati urutan kedua sebagai supplier mecin dunia.

China menjadi negara dengan pengonsumsi mecin terbesar dengan konsumsi sebanyak 55% dari konsumen dunia. Sementara negara Timur Tengah tercatat mengonsumsi mecin hanya sebesar 4% dari total konsumsi MSG dunia dengan Afrika Barat menjadi pasar terbesar dalam pasar mecin.

Kemudian negara-negara Eropa hanya mengonsumsi mecin sebesar 3% dari total konsumsi MSG dunia. Negara lain pengonsumsi mecin yang tergolong kecil adalah Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Amerika Tengah.

Pertumbuhan bisnis mecin ini menujukkan tren positif, utamanya di negara China, Indonesia, Vietnam, dan Thailand. Hal ini didasari oleh perubahan standar hidup, pola diet, perkembangan industri pangan, dan urbanisasi yang mendorong munculnya berbagai restoran.

"MSG adalah bahan makanan penting di masakan Asia dan penggunaanya telah berkembang secara signifikan di China. Lalu negara-negara seperti Nigeria dan Brazil pendapatannya telah meningkat dan perempuan telah menjadi angkatan kerja. Faktor ini membuat standar hidup membaik dan menjadi faktor terbesar pertumbuhan MSG," jelas Senior Manager of The Food and Nutrition Service at IHS Chemical, Marifaith Hackett dikutip dari Business Wire.

Tingkat konsumsi mecin ini juga digambarkan oleh Prof. Hardiansyah dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB.

Menurutnya, konsumsi mecin yang besar juga tidak relevan terhadap kemampuan daya saing manusia. Sebab, belakangan banyak beredar kabar bahwa mecin mengakibatkan kebodohan.

"Kalau kita lihat bangsa-bangsa yang konsumsi tinggi kok lebih hebat ya mereka dibanding kita dalam persaingan internasional. Itu gambaran sederhananya. Tapi nggak berarti juga kandungan mecin buat orang cerdas. Namun jika konsumsi MSG dikaitkan dengan kebodohan harusnya negara China lebih bodoh dari Indonesia tapi nyatanya kan nggak. Jadi mecin nggak ada hubungan dengan kebodohan," tegas Prof. Hardiansyah di Pinang Bistro, Jakarta Pusat, Selasa (23/1/2018).

Selama ini, banyak pihak yang meragukan keamanan MSG atau mecin. MSG dihubungkan dengan penyakit sindrom restoran China (pusing, mual, muntah, dan lain-lain) serta kanker. Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Dr Minarto mengatakan setelah melewati serangkaian penelitian ilmiah hasilnya MSG dinyatakan aman. MSG juga dinyatakan aman oleh berbagai lembaga seperti Joint Expert Committee on Food Additive dan WHO menyatakan MSG berstatus aman dikonsumsi.

(nwy/up)