5 Mitos Dampak Supermoon Terhadap Kesehatan

5 Mitos Dampak Supermoon Terhadap Kesehatan

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Rabu, 31 Jan 2018 15:09 WIB
5 Mitos Dampak Supermoon Terhadap Kesehatan
Foto: REUTERS/Mike Blake
Jakarta - Sejak dahulu kala, orang-orang cenderung mengaitkan fenomena supermoon atau gerhana bulan dengan segala hal yang terjadi pada tubuh manusia.

Salah satu contohnya adalah kepercayaan bahwa melihat full moon bisa membuat gila. Bahkan keyakinan ini masih ada hingga kini. Wow.

Sembari mempersiapkan diri untuk menonton super blue blood moon malam ini, inilah saatnya Anda mendapatkan info yang benar tentang keterkaitan tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut sejumlah mitos tentang fungsi tubuh apa saja yang kerap dikaitkan dengan full moon dan faktanya, seperti dirangkum dari berbagai sumber:

Baca juga: Foto: Indahnya Olahraga Yoga Dibawah Cahaya Terang Supermoon

1. Mengontrol menstruasi

Foto: Dok. Thinkstock
Sejak lama diyakini bahwa full moon dapat mengendalikan siklus menstruasi seorang wanita. Sebab ketika bulan purnama biasanya terjadi setiap 29,5 hari sekali maka seorang wanita rata-rata mengalami menstruasi setiap 28 hari, kendati ini biasanya berbeda antara satu wanita dengan yang lain. Ilmuwan menegaskan ini hanyalah kebetulan saja.

2. Memengaruhi kesuburan

Foto: BBC Magazine
Metode menghitung kesuburan yang didasarkan pada siklus menstruasi (atau biasa disebut siklus bulanan) terbukti tidak efektif. Itu berarti keyakinan bahwa full moon dapat menyebabkan peningkatan angka kelahiran juga tidak berdasar, bukan?

3. Memicu kejang

Foto: Youtube/Norsk Epilepsiforbund
Dahulu kala full moon diyakini dapat menyebabkan atau memperburuk gejala kejang. Setelah mendengar banyak pasiennya yang meyakini hal ini, Dr Selim Benbadis, MD, ahli neurologi dan bedah saraf di USF College of Medicine mencoba mencari penjelasan ilmiahnya.

Upaya ini menghasilkan sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Epilepsy & Behavior di tahun 2004. Di dalam studi itu dipastikan antara kejang dan full moon tidak ada kaitannya. Dr Benbadis justru menemukan bahwa jumlah kejang terbanyak tercatat saat full moon sedang berada di posisi terbawah dalam siklus.

4. Memicu kegilaan

Foto: ilustrasi/thinkstock
Bahasa Inggris gila (lunatic) dan bulan (lunacy) bisa jadi berasal dari satu kata yang sama yaitu luna. Tak heran bila pernah ada kepercayaan bahwa melihat full moon akan memicu perilaku tak wajar. Namun ini tak terbukti. Diduga terangnya sinar rembulan saat sedang full ini membuat seseorang terjaga sehingga kurang tidur. Kurang tidur inilah yang dianggap bisa mengakibatkan perilaku tak wajar.

Faktanya, sebuah riset mengungkapkan jumlah kunjungan di bangsal jiwa tidak lebih tinggi saat full moon dibanding malam-malam lainnya.

5. Menggagalkan operasi

Foto: ilustrasi/thinkstock
Kabarnya dulu para dokter enggan melakukan tindakan operasi di malam saat bulan sedang purnama. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Anesthesiology di tahun 2009 membuktikan bahwa full moon tidak berdampak terhadap operasi yang berkaitan dengan jantung.

Faktanya, saat peneliti mengamati tindakan-tindakan operasi yang digelar di Cleveland Clinic antara tahun 1993-2006, memang tidak ditemukan korelasi antara waktu pelaksanaan operasi dengan tingkat kesuksesannya.
Halaman 2 dari 6
Sejak lama diyakini bahwa full moon dapat mengendalikan siklus menstruasi seorang wanita. Sebab ketika bulan purnama biasanya terjadi setiap 29,5 hari sekali maka seorang wanita rata-rata mengalami menstruasi setiap 28 hari, kendati ini biasanya berbeda antara satu wanita dengan yang lain. Ilmuwan menegaskan ini hanyalah kebetulan saja.

Metode menghitung kesuburan yang didasarkan pada siklus menstruasi (atau biasa disebut siklus bulanan) terbukti tidak efektif. Itu berarti keyakinan bahwa full moon dapat menyebabkan peningkatan angka kelahiran juga tidak berdasar, bukan?

Dahulu kala full moon diyakini dapat menyebabkan atau memperburuk gejala kejang. Setelah mendengar banyak pasiennya yang meyakini hal ini, Dr Selim Benbadis, MD, ahli neurologi dan bedah saraf di USF College of Medicine mencoba mencari penjelasan ilmiahnya.

Upaya ini menghasilkan sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Epilepsy & Behavior di tahun 2004. Di dalam studi itu dipastikan antara kejang dan full moon tidak ada kaitannya. Dr Benbadis justru menemukan bahwa jumlah kejang terbanyak tercatat saat full moon sedang berada di posisi terbawah dalam siklus.

Bahasa Inggris gila (lunatic) dan bulan (lunacy) bisa jadi berasal dari satu kata yang sama yaitu luna. Tak heran bila pernah ada kepercayaan bahwa melihat full moon akan memicu perilaku tak wajar. Namun ini tak terbukti. Diduga terangnya sinar rembulan saat sedang full ini membuat seseorang terjaga sehingga kurang tidur. Kurang tidur inilah yang dianggap bisa mengakibatkan perilaku tak wajar.

Faktanya, sebuah riset mengungkapkan jumlah kunjungan di bangsal jiwa tidak lebih tinggi saat full moon dibanding malam-malam lainnya.

Kabarnya dulu para dokter enggan melakukan tindakan operasi di malam saat bulan sedang purnama. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Anesthesiology di tahun 2009 membuktikan bahwa full moon tidak berdampak terhadap operasi yang berkaitan dengan jantung.

Faktanya, saat peneliti mengamati tindakan-tindakan operasi yang digelar di Cleveland Clinic antara tahun 1993-2006, memang tidak ditemukan korelasi antara waktu pelaksanaan operasi dengan tingkat kesuksesannya.

(lll/fds)

Berita Terkait