Jakarta -
Sejak dahulu kala, orang-orang cenderung mengaitkan fenomena supermoon atau gerhana bulan dengan segala hal yang terjadi pada tubuh manusia.
Salah satu contohnya adalah kepercayaan bahwa melihat full moon bisa membuat gila. Bahkan keyakinan ini masih ada hingga kini. Wow.
Sembari mempersiapkan diri untuk menonton super blue blood moon malam ini, inilah saatnya Anda mendapatkan info yang benar tentang keterkaitan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut sejumlah mitos tentang fungsi tubuh apa saja yang kerap dikaitkan dengan full moon dan faktanya, seperti dirangkum dari berbagai sumber:
Baca juga: Foto: Indahnya Olahraga Yoga Dibawah Cahaya Terang Supermoon
1. Mengontrol menstruasi
Foto: Dok. Thinkstock
|
Sejak lama diyakini bahwa full moon dapat mengendalikan siklus menstruasi seorang wanita. Sebab ketika bulan purnama biasanya terjadi setiap 29,5 hari sekali maka seorang wanita rata-rata mengalami menstruasi setiap 28 hari, kendati ini biasanya berbeda antara satu wanita dengan yang lain. Ilmuwan menegaskan ini hanyalah kebetulan saja.
2. Memengaruhi kesuburan
Foto: BBC Magazine
|
Metode menghitung kesuburan yang didasarkan pada siklus menstruasi (atau biasa disebut siklus bulanan) terbukti tidak efektif. Itu berarti keyakinan bahwa full moon dapat menyebabkan peningkatan angka kelahiran juga tidak berdasar, bukan?
3. Memicu kejang
Foto: Youtube/Norsk Epilepsiforbund
|
Dahulu kala full moon diyakini dapat menyebabkan atau memperburuk gejala kejang. Setelah mendengar banyak pasiennya yang meyakini hal ini, Dr Selim Benbadis, MD, ahli neurologi dan bedah saraf di USF College of Medicine mencoba mencari penjelasan ilmiahnya.
Upaya ini menghasilkan sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Epilepsy & Behavior di tahun 2004. Di dalam studi itu dipastikan antara kejang dan full moon tidak ada kaitannya. Dr Benbadis justru menemukan bahwa jumlah kejang terbanyak tercatat saat full moon sedang berada di posisi terbawah dalam siklus.
4. Memicu kegilaan
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Bahasa Inggris gila (lunatic) dan bulan (lunacy) bisa jadi berasal dari satu kata yang sama yaitu luna. Tak heran bila pernah ada kepercayaan bahwa melihat full moon akan memicu perilaku tak wajar. Namun ini tak terbukti. Diduga terangnya sinar rembulan saat sedang full ini membuat seseorang terjaga sehingga kurang tidur. Kurang tidur inilah yang dianggap bisa mengakibatkan perilaku tak wajar.
Faktanya, sebuah riset mengungkapkan jumlah kunjungan di bangsal jiwa tidak lebih tinggi saat full moon dibanding malam-malam lainnya.
5. Menggagalkan operasi
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Kabarnya dulu para dokter enggan melakukan tindakan operasi di malam saat bulan sedang purnama. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Anesthesiology di tahun 2009 membuktikan bahwa full moon tidak berdampak terhadap operasi yang berkaitan dengan jantung.
Faktanya, saat peneliti mengamati tindakan-tindakan operasi yang digelar di Cleveland Clinic antara tahun 1993-2006, memang tidak ditemukan korelasi antara waktu pelaksanaan operasi dengan tingkat kesuksesannya.
Sejak lama diyakini bahwa full moon dapat mengendalikan siklus menstruasi seorang wanita. Sebab ketika bulan purnama biasanya terjadi setiap 29,5 hari sekali maka seorang wanita rata-rata mengalami menstruasi setiap 28 hari, kendati ini biasanya berbeda antara satu wanita dengan yang lain. Ilmuwan menegaskan ini hanyalah kebetulan saja.
Metode menghitung kesuburan yang didasarkan pada siklus menstruasi (atau biasa disebut siklus bulanan) terbukti tidak efektif. Itu berarti keyakinan bahwa full moon dapat menyebabkan peningkatan angka kelahiran juga tidak berdasar, bukan?
Dahulu kala full moon diyakini dapat menyebabkan atau memperburuk gejala kejang. Setelah mendengar banyak pasiennya yang meyakini hal ini, Dr Selim Benbadis, MD, ahli neurologi dan bedah saraf di USF College of Medicine mencoba mencari penjelasan ilmiahnya.
Upaya ini menghasilkan sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Epilepsy & Behavior di tahun 2004. Di dalam studi itu dipastikan antara kejang dan full moon tidak ada kaitannya. Dr Benbadis justru menemukan bahwa jumlah kejang terbanyak tercatat saat full moon sedang berada di posisi terbawah dalam siklus.
Bahasa Inggris gila (lunatic) dan bulan (lunacy) bisa jadi berasal dari satu kata yang sama yaitu luna. Tak heran bila pernah ada kepercayaan bahwa melihat full moon akan memicu perilaku tak wajar. Namun ini tak terbukti. Diduga terangnya sinar rembulan saat sedang full ini membuat seseorang terjaga sehingga kurang tidur. Kurang tidur inilah yang dianggap bisa mengakibatkan perilaku tak wajar.
Faktanya, sebuah riset mengungkapkan jumlah kunjungan di bangsal jiwa tidak lebih tinggi saat full moon dibanding malam-malam lainnya.
Kabarnya dulu para dokter enggan melakukan tindakan operasi di malam saat bulan sedang purnama. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Anesthesiology di tahun 2009 membuktikan bahwa full moon tidak berdampak terhadap operasi yang berkaitan dengan jantung.
Faktanya, saat peneliti mengamati tindakan-tindakan operasi yang digelar di Cleveland Clinic antara tahun 1993-2006, memang tidak ditemukan korelasi antara waktu pelaksanaan operasi dengan tingkat kesuksesannya.
(lll/fds)