Minggu, 04 Feb 2018 19:19 WIB

Hari Kanker Sedunia

Ada Harapan untuk Para Pengidap Kanker di Dunia

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - World Cancer Day atau Hari Kanker Sedunia adalah sebuah inisiatif tunggal satu-satunya di dunia di mana seluruh masyarakat di berbagai belahan dunia dapat bersatu berjuang melawan epidemi kanker global. Hari Kanker Sedunia diperingati tiap tanggal 4 Februari.

Dikutip detikHealth dari The Daily Star, berikut adalah beberapa perkembangan dalam bidang penanganan kanker di dunia.

Imunoterapi dan targeted therapy atau terapi tertarget memberikan pilihan lebih bagi para pasien dalam melawan kanker gastrointestinal, seperti kanker kolorektal dan kanker perut. Dahulu, penyakit kanker tersebut biasanya ditangani dengan operasi, terapi radiasi atau kemoterapi. Namun munculnya targeted therapy memiliki efek signifikan dalam memperpanjang hidup pasien penderita kanker.

Baca juga: 9 Faktor Risiko Kanker Payudara, Ada Yang Anda Miliki?

Targeted therapy bertujuan untuk menghentikan pertumbuhan dan penyebaran kanker dengan menghalanginya menggunakan molekul khusus yang terlibat di dalamnya. Molekul khusus tersebut bukanlah 'peluru ajaib' meskipun sel-sel kanker tersebut juga pada akhirnya akan berkembang dan menjadi kebal terhadap obat-obatan ini.

Kanker perut merupakan salah satu penyebab kematian pria di Bangladesh. Sedangkan di Indonesia seperti yang dikutip dari situs resmi Departemen Kesehatan RI, kanker payudara, kanker serviks, dan kanker paru merupakan penyakit terbanyak diidap di Jakarta dan jumlah kasus baru serta jumlah kematian akibat kanker tersebut terus meningkat.

Kanker kolorektal merupakan kanker yang paling sering diderita ketiga di dunia, berdasarkan dari jumlah pasien yang terdiagnosa. Kanker kolorektal berawal dari kolon (bagian paling panjang dari usus besar) atau rektum (beberapa inci bagian akhir dari usus besar sebelum anus).

Baca juga: Catat! 4 Gejala Kanker Usus Besar Ini Wajib Anda Periksakan Ke Dokter

Kebanyakan kanker kolorektal adalah denokarsinoma, yaitu kanker yang bermula di dalam sel yang membuat dan melepaskan lendir dan cairan lainnya. Untungnya, berterima kasih pada penanganan lewat targeted therapy, para ahli onkologi kini dapat dapat beralih ke agen-agen pengobatan yang ditargetkan seperti Avastin (bevacizumab) dan Erbitux (cetuximab) yang telah disetujui untuk digunakan dalam memberantas kanker kolorektal yang telah menyebar.

Avastin bekerja dengan menghalangi pertumbuhan pembuluh darah baru yang menuju ke tumor. Avastin menghilangkan sel-sel kanker nutrisi dan membuat mereka lebih rentan terhadap kemoterapi. Erbitux, di sisi lain, dapat menghalangi sinyal yang menginformasikan adanya sel tumor untuk tumbuh pada tumor yang sensitif terhadap obat tersebut.

Foto: thinkstock


Pemerintah di beberapa negara telah menyetujui penggunaan Avastin terhadap kanker usus besar metastatik serta beberapa jenis kanker paru-paru, ovarium, serviks, ginjal dan otak. Erbitux telah disetujui untuk digunakan pada beberapa jenis kanker kolon metastatik serta beberapa jenis kanker kepala dan leher.

Baca juga: Studi Ungkap Kanker Usus Besar Yang Seperti Ini Lebih Mematikan

Targeted therapy kini berada dalam daftar terapi yang disetujui untuk kanker perut. Terapi-terapi tersebut antara lain Cyramza (ramucirumab) dan Herceptin (trastuzumab). Cyramza menghentikan pertumbuhan pembuluh darah baru sedangkan herceptin menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker yang memiliki terlalu banyak protein yang diketahui sebagai HER2 di permukaannya.

"Jika Anda memiliki teman atau kerabat yang menderita kanker yang bertanya-tanya mengenai apa pemahaman dan penanganan terbaru yang tersedia, bicarakanlah pada dokter Anda," terang dr Tan Wu Meng, seorang konsultan dan ahli onkologi medis di Parkway Cancer Center Singapura.

Bentuk penanganan kanker lainnya disebut dengan imunoterapi; sebuah penanganan yang mengandalkan sistem imun tubuh untuk melawan kanker. dr Tan menjelaskan, sistem imun tubuh memang sudah sanggup melawan bakteri dan infeksi virus, dan imunoterapi membuat sistem imun ini bekerja melawan kanker.

"Misalnya, beberapa imunoterapi membantu menyingkirkan kamuflase yang digunakan beberapa sel kanker untuk bersembunyi dari sistem imun," tambahnya.

Keuntungan lainnya adalah bagaimana imunoterapi dapat bekerja untuk beberapa waktu yang lama, bahkan setelah pengobatan selesai. "Sekali Anda membangunkan sistem imun, dalam beberapa kasus, Anda dapat terus melawan," jelasnya.

Ia menjelaskan lebih lanjut tentang imunoterapi sebagai "sebuah revolusi sains yang terjadi tepat di depan mata kita."

Sejauh ini, imunoterapi memiliki efek yang lebih besar dalam pengobatan melanoma dan kanker paru. Beberapa percobaan sedang dilakukan untuk menguji keefektifan dalam pengobatan kanker gastrointestinal.

Baca juga: Penting! 9 Gejala Kanker Paru yang Harus Diwaspadai

Untuk mencegah terkena kanker, Departemen Kesehatan RI mencanangkan program perilaku CERDIK, yaitu Cek kesehatan berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat yang cukup dan Kelola Stres.

Baca juga: Kemenkes: Penyebab Paling Tinggi Kanker Paru Itu Rokok

(up/up)
News Feed