Selasa, 06 Feb 2018 15:00 WIB

Tak Berciri dan Jumlahnya Terus Meningkat, Waspadai Bahaya Kanker Paru!

Widiya Wiyanti - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Baru saja dunia memperingati Hari Kanker pada 4 Februari lalu. Di mana kita tahu bahwa kanker merupakan penyakit mematikan yang tak pandang bulu menyerang siapapun, baik pria maupun wanita.

Tak sepopuler kanker payudara dan kanker serviks, tetapi kanker paru juga merupakan kanker pembunuh pertama bagi para pria. Berdasarkan data dari Globocan 2012, penyakit kanker paru merupakan penyakit yang menyebabkan kematian pada penduduk pria sebesar 30 persen, sedangkan pada wanita 11,1 persen.

Tingginya tingkat kematian karena kanker ini disebabkan karena tidak adanya gejala yang dapat dirasakan ataupun dilihat.

"Kanker paru itu sampai sekarang nggak tahu gimana deteksi dininya. Semakin lama semakin meningkat," tutur Kepala Subdirektorat Penyakit Kanker dan Kelainan Darah, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr Niken Wastu Palupi, MKM dalam acara Media Health Forum di salah satu restoran di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (6/2/2018).

Baca juga: Kemenkes: Penyebab Paling Tinggi Kanker Paru itu Rokok!

Tidak seperti kanker serviks yang dapat diskrining untuk dideteksi, dokter spesialis penyakit dalam dari RSUP Persahabatan, dr Elisna Syahruddin, PhD, SpP(K) mengatakan bahwa kanker paru sampai detik ini belum ada skrining yang tepat.

"Bisa nggak kanker paru diskrining? Di dunia pun tidak bisa, jadi dalam hal ini Indonesia sama dengan negara lain. Yang ada adalah deteksi dini, yaitu menemukan kanker di stadium dini, yaitu 1 dan 2. Ditemukan di kelompok yang berisiko," jelasnya.

Maka dari itu, masyarakat harus sadar akan pentingnya medical check up untuk mendeteksi adanya penyakit kanker paru ini. Jika berisiko tinggi untuk terkena penyakit ini, dr Elisna menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan minimal enam bulan sekali.

"Kalau termasuk dalam kelompok berisiko, sempatkan enam bulan sekali. Kalau kelompok bukan berisiko ya setahun sekali lah periksa," sarannya.

Baca juga: Penting! 9 Gejala Kanker Paru yang Harus Diwaspadai

(wdw/up)