Rabu, 07 Feb 2018 19:15 WIB

Ancaman Lepstospirosis Mengintai Korban Banjir

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Bahaya lepstospirosis mengancam korban banjir. Foto: Frieda/detikHealth Bahaya lepstospirosis mengancam korban banjir. Foto: Frieda/detikHealth
Jakarta - Banjir yang disebabkan oleh meluapnya volume air Sungai Ciliwung menyebabkan belasan kelurahan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur terendam banjir. Sejak banjir melanda di hari Senin (5/2/2018) sudah banyak masalah kesehatan yang diadukan ke posko maupun puskesmas terdekat.

Salah satunya adalah kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Kelurahan dengan pengungsi banjir sejumlah 1.392 ini diberikan posko pada sepuluh titik.

Puskesmas Kelurahan Kampung Melayu pun sudah kewalahan dengan banyaknya pengungsi yang mengeluh sakit dan meminta obat untuk luka. Bahkan dr Mardiyah, Kepala Puskesmas Kelurahan Kampung Melayu, dalam dua hari ini sudah bekerja non-stop.

"Banyak pengungsi yang datang dengan keluhan luka. Bisa kena paku, atau barang-barang tajam lainnya yang terbawa air banjir. Nah luka-luka ini yang harus segera ditangani. Karena jika tidak, dikhawatirkan akan menimbulkan penyakit Leptospirosis," jelas dr Mardiyah saat ditemui detikHealth, Rabu (7/2/2018).

Baca juga: Beratnya Jadi Dokter Saat Tugas di Pengungsian Korban Banjir

Lepstospirosis adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh bakteri lepstospira yang ada di dalam air kencing tikus. Dengan situasi banjir seperti ini, air kencing tikus dapat mudah terbawa oleh air yang kotor.

dr Mardiyah menerangkan bahwa lepstospira tidak hanya dapat masuk melalui luka terbuka, namun juga dapat masuk melalui pori-pori kulit.

Apa akibat dari lepstospirosis? "Leptospirosis dapat mengakibatkan demam tinggi, dan tentu saja jika tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan kematian," kata dr. Mardiyah. "Kami di sini mengusahakan sebaik mungkin untuk para pengungsi agar tidak sampai terjangkit penyakit serius," lanjutnya.

Sampai saat ini, wilayah Kampung Melayu masih mengalami mati listrik. Evakuasi masih terus dilakukan karena masih banyak yang "bandel" tidak mau meninggalkan rumahnya.

Baca juga: Menkes Waspadai Kencing Tikus Mencemari Air Banjir (Frieda Isyana Putri/up)
News Feed