Kamis, 08 Feb 2018 14:04 WIB

True Story

Selalu Dipecat dari Pekerjaan, Ternyata Mengidap Gangguan Kepribadian Ambang

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Bethan Rees alami gangguan kepribadian karena dipecat dari pekerjaannya. Foto: BBC Bethan Rees alami gangguan kepribadian karena dipecat dari pekerjaannya. Foto: BBC
Jakarta - Bethan Rees mengaku bingung karena ia selalu dipecat dari pekerjaannya. Saat berusia 22 tahun, Rees sudah berkali-kali berganti pekerjaan yang membuat perjalanan karirnya terhambat.

Pertama kali bekerja di kantor publikasi, wanita asal Wales ini mengaku merasa cukup tertantang. Ritme pekerjaannya cukup cepat dengan deadline yang ketat dan beban kerja yang berat.

"Anehnya meskipun aku memiliki kemampuan untuk menyelesaikan semua pekerjaan itu, aku selalu tertinggal. Rekan-rekan kerjaku menyebut aku sering melamun saat kerja dan sulit konsentrasi," ujarnya, dikutip dari BBC.

Baca juga: Kisah-kisah Inspiratif dari Pengidap Gangguan Jiwa Skizoafektif

Ketika akhirnya mendapat teguran dari atasannya, Rees tiba-tiba menangis. Ia pun diberhentikan dengan alasan tidak memenuuhi kriteria standar karyawan.

Namun hal yang sama berulang kali terjadi di pekerjaan-pekerjaan selanjutnya. Rees selalu tertinggal dari rekan kerjanya, dan akan menangis, marah atau sedih ketika mendapat teguran dari atasan.

Selalu Dipecat dari Pekerjaan, Ternyata Mengidap Gangguan Kepribadian AmbangFoto: BBC


Tidak memiliki pekerjaan membuatnya pulang ke rumah orangtuanya. Tak hanya itu, hubungan dengan kekasihnya yang sudah terjalin lama pun harus kandas karena kekasihnya tak tahan dengan perilaku Rees.

"Aku pun mencoba berobat ke dokter, yang menyebut aku mengalami depresi dan gangguan kecemasan. Aku diresepkan obat antidepresan untuk diminum setiap hari," ujarnya lagi.

Masalah Rees tidak berhenti meski sudah rutin minum antidepresan. Ia malah mengantuk, yang membuatnya lagi-lagi mendapat masalah di kantornya. Ia kembali dipecat, dan kembali hidup bersama orang tuanya.

Baca juga: Tuntutan Pergaulan Tinggi, Generasi Milenial Rentan Gangguan Kepribadian

Pikiran untuk mengakhiri hidup pun muncul. Rees merasa dirinya lemah dan tidak kompeten. Ia juga mulai sulit mengendalikan emosi dan kerap melempar barang-barang hingga merobek bantal untuk melampiaskan emosinya.

Sampai akhirnya, ia bertemu dengan seorang pria yang tertarik padanya. Saat berkencan, Rees menunjukkan emosi marah yang berlebihan tanpa ada pemicu.

Sang kekasih, Karl Powell, mengajaknya untuk menemui psikiater untuk mengetahui apa penyakitnya. Pemeriksaan psikiater menunjukkan ia ternyata mengidap gangguan kepribadian ambang dan tidak membutuhkan antidepresan.

"Aku melihat-lihat gejala gangguan kepribadian ambang, dan merasa kaget karena apa yang disebutkan sangat mirip dengan apa yang aku alami, termasuk kesulitan membina hubungan serius, emosi yang tidak stabil, hingga sering merasa paranoid," ujarnya.

Terapi dan obat pengendali mood pun berhasil membuat hidupnya lebih baik. Di pekerjaan barunya, ia mendapatkan atasan yang mengerti tentang kondisinya.

Kini di usianya yang sudah 30 tahun, Rees memiliki hidup normal seperti wanita lainnya. Ia bahkan mulai rutin olahraga untuk mengurangi kecemasan yang dialaminya. Tak hanya itu, Rees juga menjadi motivator dan sering membicarakan kondisinya kepada wanita lainnya di Wales.

"Jika Anda perempuan dan merasa ada yang salah dengan keadaan jiwa Anda, jangan ragu untuk bercerita dan mencari bantuan. Stigma dan diskriminasi harus dihilangkan dari tempat kerja agar para pasien gangguan kejiwaan bisa mendapat penghidupan," ujarnya.

Baca juga: Sulit Konsentrasi dan Cepat Emosi, Apakah Indikasi Gangguan Mental?



(mrs/up)
News Feed