Kamis, 15 Feb 2018 12:35 WIB

Foto Rontgen Jantung Pasien yang Diduga Kena Sindrom Patah Hati

Firdaus Anwar - detikHealth
Kemungkinan ini foto kondisi 'patah hati' yang sesungguhnya. (Foto: Figure 1/bioplasmik)
Jakarta - Patah hati ketika ditinggalkan oleh orang terdekat bukan hal yang bisa dianggap sepele. Bagi beberapa orang hal ini berisiko memicu kondisi medis berbahaya yang disebut sindrom patah hati atau takotsubo cardiomyopathy.

Penelitian yang dipublikasi di New England Journal of Medicine menyebut orang yang terkena sindrom patah hati jantungnya membengkak akibat stres berat, berdegup tidak normal, dan dapat merasakan nyeri dada. Orang yang mengalami keluhan ini berisiko 9,9 persen alami serangan jantung dan peningkatan 5,5 persen terhadap risiko kematian.

Baca juga: Dampak Patah Hati ke Tubuh, dari Makin Langsing Hingga Picu Kematian

Sebuah foto rontgen yang dipublikasi dalam situs diskusi para tenaga kesehatan Figure 1 menunjukkan seperti apa jantung pasien yang diduga mengidap sindrom patah hati ini.

"Seorang pasien wanita berusia 67 tahun dilarikan ke instalasi gawat darurat dengan keluhan nyeri dada akut dan sesak setelah kematian suaminya... Diagnosisnya diduga takotsubo cardiomyopathy," tulis akun resmi Figure 1 seperti dikutip pada Kamis (15/2/2018).

Apa yang membuat dokter menduga bahwa ini adalah kasus sindrom patah hati karena tidak ditemukan tanda-tanda penyakit jantung. Foto menunjukkan bahwa arteri sang pasien normal namun ruang pompa jantung sebelah kirinya mengalami gangguan.

Perawatan pada pasien diberikan untuk menjaga agar gangguan jantung tidak berkembang lebih jauh. Kondisi sindrom patah hati diketahui bukan sesuatu yang permanen dan bisa hilang sendiri ketika stres pasien juga berkurang.

"Terapi bersifat suportif dan secara umum kondisi pasien membaik setelah empat minggu," pungkasnya.

Baca juga: Sindrom Patah Hati Gejalanya Mirip Serangan Jantung (fds/up)