Jumat, 23 Mar 2018 13:41 WIB

Hari TB Sedunia

Rumitnya Penanganan Tiga Masalah Tuberkulosis di Indonesia

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Topik Hangat Hari TB Sedunia 2018
Jakarta - Indonesia merupakan negara dengan jumlah pengidap tuberkulosis nomor dua di dunia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengatakan hal ini menambah rumit penanganan tuberkulosis di Indonesia.

Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), Ketua PDPI Pusat mengatakan Indonesia memiliki 3 permasalahan sekaligus terkait TB. Selain tuberkulosis klasik, Indonesia juga memiliki masalah multi-drug resistant (MDR-TB) atau TB kebal obat, serta TB dengan infeksi human immunodeficiency virus (HIV).

"Di Indonesia diperkirakan terdapat 647 kasus TB setiap 100 ribu penduduk, dengan jumlah kasus baru mencapai 1 juta pertahun. Kematian akibat TB mencapai 100 ribu per tahun," paparnya, dalam temu media Hari TB Sedunia di Rumah PDPI, Jalan Cinangka Bunder, Rawamangun, Jakarta Timur.

"Masalahnya semakin berat dengan infeksi HIV yang mencapai 4,4 persen dari kasus TB baru. TB MDR juga masih tinggi dengan 2,8 persen dari kasus TB baru dan mencapai 16 persen dari TB yang pernah diobati sebelumnya," tambahnya lagi.

Data dari Kementerian Kesehatan menyebut pasien baru TB di Indonesia mencapai 1.020.000 orang. Sekitar 420 ribu terdaftar dan teregistrasi dalam pengobatan di rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Sisanya 600 ribu disebut sebagai missing cases, karena belum tercatat dan tidak ditemukan.

Dr dr Erlina Burhan, SpP(K) Ketua Pokja TB PDPI mengatakan missing cases lazimnya terjadi pada pasien yang berobat di klinik dan rumah sakit swasta. PDPI sendiri sudah 10 tahun ini melakukan kerjasama dengan para dokter paru agar mau melaporkan kasus kejadian TB kepada dinas kesehatan setempat.

"Jadi ada pasien yang sudah didiagnosis TB tapi tidak berobat, ada yang berobat tapi tidak selesai, ada yang sudah berobat sampai selesai tapi tidak dilaporkan. Nah itu yang tergolong sebagai missing cases," terangnya.

Butuh kerjasama dari berbagai stakeholder terkait untuk bisa menyelesaikan permasalahan TB di Indonesia. Karena itu dr Erlina meminta kepada seluruh pihak terkait, termasuk dokter, tenaga kesehatan, pasien, keluarga pasien hingga dinas kesehatan setempat mau bekerja sama.

"Bagi kami dokter paru, world TB day itu setiap hari. Karena itu TB harus dicegah. Dengan mencegah TB, maka tidak akan ada kasus MDR-TB," tutupnya. (mrs/fds)
Topik Hangat Hari TB Sedunia 2018
News Feed