Selasa, 27 Feb 2018 19:05 WIB

Fakta di Balik Aquagenic Urticaria, Alergi Air yang Langka

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Seorang anak di Minnesota baru-baru ini didiagnosis mengidap alergi air bernama Aquagenic Urticaria. Foto: internet Seorang anak di Minnesota baru-baru ini didiagnosis mengidap alergi air bernama Aquagenic Urticaria. Foto: internet
Jakarta - Kita tidak bisa hidup tanpa air, namun hal ini tidak berlaku pada Ivy Angerman, seorang balita dari Minnesota berumur 1,5 tahun. Ivy hanya bisa mandi selama 15 detik sebelum kulitnya mengalami gatal-gatal dan ruam parah.

Dokter mendiagnosa Ivy terkena Aquagenic Urticaria, sebuah alergi terhadap air, seperti yang dikutip dari Fox9. Orang tua Ivy sempat merekam detik-detik munculnya reaksi dari alergi pada putrinya saat mandi.

"Apakah dia bisa pergi ke daycare? Apakah ia akan bisa masuk sekolah umum? Apakah ia akan bisa pergi ke laut? Aku tidak tahu," kata ibunya, Brittany.

Baca juga: Sedih! Mengidap Alergi Air yang Langka, Bocah Ini Tak Bisa Mandi Lama-lama

Sebenarnya apakah Aquagenic Urticaria itu? Menurut Livescience, aquagenic urticaria adalah sebuah alergi yang cukup langka dan kasusnya hanya terlaporkan di literatur kedokteran sejumlah kurang dari 100 kasus.

Orang-orang dengan dengan alergi ini akan mengalami gatal-gatal begitu mereka kontak dengan air, apapun suhunya, menurut National Institutes of Health's Genetic and Rare Diseases Information Center (GARD). Ruam umumnya muncul di leher, tubuh bagian atas dan lengan, meski juga dapat muncul di bagian tubuh manapun.

GARD juga menyebutkan, ruam dan gatal biasanya akan menghilang dengan sendirinya setelah 30-60 menit setelah terjadinya kontak tersebut. Lalu, penyebab pasti dari alergi ini sayangnya masih menjadi misteri.

Tetapi ada beberapa kemungkinan yang dapat disampaikan oleh para peneliti di GARD, yaitu bisa jadi reaksinya disebabkan bukan dari airnya, tetapi adanya zat lain yang larut dalam air (misal khlorin) yang masuk ke dalam kulit dan memicu reaksi alergi.

Teori yang kedua adalah, pada orang-orang yang memiliki alergi tersebut, sebuah zat yang ditemukan pada kulit mereka memproduksi sebuah "racun" saat berinteraksi dengan air, dan menyebabkan alergi.

Baca juga: Penjelasan Ahli di Balik Munculnya Alergi Air Yang Unik

Belum ada obat untuk alergi ini, dan para dokter hanya mempunyai data terbatas pada penangan apa yang terbaik untuk gejala alergi aquagenic urticaria. Sementara, menurut GARD, penanganan yang bisa dilakukan adalah berjemur di bawah sinar UVB (yang disebut dengan phototherapy), antihistamin, dan krim yang berfungsi sebagai perisai antara air dan kulit.

Ivy merupakan orang termuda yang pernah terdiagnosa alergi ini, karena biasanya hanya muncul pada masa-masa puber. Orang tuanya mengatakan bahwa gejala yang dialami Ivy semakin membaik karena sekarang ia memakai antihistamin.

Dokter merekomendasikan ivy untuk mandi menggunakan air yang telah dimurnikan, dan tinggal di dalam rumah dengan AC sentral agar ia tidak kepanasan (karena air keringat juga bisa memicu terjadinya reaksi alergi). Kini, mereka sedang dalam proses untuk pindah dari rumah mereka, yang dibangun pada tahun 1901.

(up/up)