Dalam penelitian yang dipresentasikan di kongres European Association of Urology di Kopenhagen, Denmark, AI mampu menemukan kanker prostat dalam sampel biopsi. Tingkat akurasinya disebut setara dengan dokter patologi.
Penelitian dilakukan oleh Profesor Hongqian Guo dari Nanjing University. 918 Sampel prostat dari 283 pasien dianalisis menggunakan teknologi AI. Setelah itu, hasil analisis dicek ulang oleh dokter patologi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya mampu menemukan kanker prostat, AI juga mampu mendeteksi tingkat keparahan penyakit. Jika teknologi AI dikembangkan lebih lanjut, akan ada jutaan nyawa pria yang bisa diselamatkan dari kanker prostat.
"Sistemnya diprogram sedemikian rupa sehingga bisa belajar, dan perlahan-lahan meningkatkan akurasi pengecekan sampelnya," ungkap Prof Guo, dikutip dari Daily Mail.
Meski begitu, Prof Guo mengatakan adanya AI atau kecerdasan buatan tidak akan menggantikan peran dokter dalam mendiagnosis penyakit. Peran AI diperlukan untuk mempercepat proses diagnosis oleh dokter.
"Tentunya kita tetap akan membutuhkan kemampuan dokter ahli patologi berpengalaman untuk membuat diagnosis final. Namun AI akan menjadi alat bantu yang berguna bagi dokter," tuturnya.











































