Kamis, 12 Apr 2018 17:05 WIB

Lupa vs Pikun, Sama Nggak Sih?

Widiya Wiyanti - detikHealth
Lupa dan pikun adalah dua hal berbeda. Foto: thinkstock
Jakarta - Lupa itu adalah hal yang wajar, tapi kalau sering lupa apakah masih wajar? Banyak yang menyebutnya pikun, padahal masih muda. Lantas, apakah orang yang sering lupa bisa disebut pikun?

Dokter spesialis saraf dari Rumah Sakit Pondok Indah - Bintaro Jaya, dr Gea Pandhita, MKes, SpS menegaskan bahwa lupa berbeda dengan pikun.

"Pikun atau demensia adalah penurunan fungsi kognitif yang disertai dengan perubahan perilaku. Ada perubahan aktivitas keseharian," ujarnya saat ditemui di Restoran Asiatale, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (12/4/2018).

Sedangkan orang yang lupa belum tentu demensia. Pelupa disebabkan hanya adanya penurunan daya ingat yang berkaitan dengan memori jangka pendek maupun memori jangka panjang.


Penurunan kognitif yang menyebabkan demensia itu mencakup beberapa ranah, yaitu pemusatan perhatian, daya ingat, orientasi, bahasa, pemahaman dan fungsi eksekutif.

"Jadi kalau orang lupa nggak bisa kita bilang dia pikun. Kalau lupa kesasar bisa tahu jalan pulang, tapi kalau demensia kesasar nggak bisa pulang lagi," jelas dr Gea.

Menurut dr Gea, demensia paling sering terjadi pada lansia sekitar usia 50-60 tahun. Namun pada demensia Alzheimer juga dipengaruhi faktor genetik.

"Menurut penelitian, semakin tinggi usia, semakin tinggi pula prevalensi demensia," tandasnya.

(wdw/up)