Selasa, 17 Apr 2018 20:38 WIB

Kenalin dr Flo, Dokter Cantik Murah Senyum di Perbatasan RI-Malaysia

Aisyah Kamaliah - detikHealth
dr Flo memilih pulang kampung untuk mengabdikan diri sebagai dokter (Foto: Aisyah/detikHealth) dr Flo memilih pulang kampung untuk mengabdikan diri sebagai dokter (Foto: Aisyah/detikHealth)
Sanggau - "Ada dokter cantik, namanya Florida, dia murah senyum, pelayanannya sangat baik. Kalau ada 10 dokter kayak gitu, orang yang sakit jadi bisa sehat," ujar salah seorang bapak dalam sebuah audiensi dengan Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek di Balai Karangan, Sanggau, Kalimantan Barat, Selasa (17/42018).

Sontak celetukan dari seorang pasien tersebut membuat tawa hadirin pecah. Dokter yang dimaksud adalah dr Florida Linawati Aries Siregar (27), yang ternyata memang murah senyum. Karena itu, detikHealth ingin mengenal sosoknya lebih dekat.

Ditemui di ruang kerjanya, dokter dengan panggilan dr Flo ini bercerita sudah setahun menjadi dokter umum di puskesmas Balai Karangan. Ia menceritakan bahwa selama bekerja tentu ada suka duka, sehingga ia mengaku juga pernah dilanda rasa kesal.

"Suka duka pasti ada tapi enggak tau kenapa, saya sering kok kesel dalam layanan, capek, kurang tidur, apalagi kalau pasiennya ramai. Di sini kan kalau Senin bisa sampai seratus pasiennya, membludak banyak minta cepat. Namanya manusia ya kesal juga, kadang enggak tau saya masih senyum apa enggak. Tapi kalau lihat orang butuh pertolongan ya jadi care lagi," ungkapnya," ungkapnya.



Lahir di Sanggau, 8 Oktober 1990, membuat dr Flo yang merantau di Jakarta dan menempuh pendidikan di Universitas Kristen Indonesia ingin kembali membagikan ilmunya di kampung halaman. Sempat menghabiskan koas di Sulawesi, ia akhirnya pun memutuskan untuk menjadi dokter di Sanggau.

Namanya manusia ya kesal juga, kadang enggak tau saya masih senyum apa enggak. Tapi kalau lihat orang butuh pertolongan ya jadi care lagidr Florida Linawati Aries Siregar - Dokter Praktik di pedalaman Sanggau, Kalbar


Keinginan dr Flo untuk menjadi dokter terbilang kuat. Cita-cita yang ia pendam sejak kecil ini benar-benar ia wujudkan dengan usaha keras tanpa mau merepotkan orang tuanya.

"Saya dulunya dokter kecil, saya belajar membalut luka, bagaimana cara cuci tangan yang baik. Setelah itu saya jadi bangga dan ingin membagikannya ke orang-orang," kata dr Flo.

"Orang tua saya kan bukan orang kaya, jadi saya kuliah harus tepat waktu. Enggak mau buang-buang waktu dan uang."



Ya, selama menjadi dokter di daerah dekat perbatasan negara tentu saja membuat dr Flo menjumpai banyak tantangan. Apalagi ketika ia menemukan bahwa pasien Tuberkulosis (TBC/TB) di Sanggau masih cukup banyak.

"Di sini pasiennya banyak TBC. Walaupun ini bukan kampung banget, kecamatan yang sudah lumayan dekat perbatasan, tapi banyak juga ditemui pasien TBC yang saya duga sudah sampai tulang. Rata-rata anak remaja, kadang saya suka bingung kasih obat apa. Kebanyakan enggak bisa jalan mendadak, padahal imunisasi lengkap," kisahnya.

Beratnya dunia kedokteran pernah membuatnya hampir menyerah. Ia pun menceritakan ada momen di mana ia merasa agak menyesal terjun di dunia yang satu ini.

"Pernah agak menyesal jujur waktu koas, terlalu capek, lelah, tapi setelah menyesal paling satu hari. Masyarakat sekarang makin pintar, kalau kita salah sedikit banyak cekcoknya, sebagai dokter saya kurang susah yang seperti itu tapi karena memang suka, satu hari kecewa besok-besok udah semangat lagi," tutupnya dengan senyum.

(ask/up)
News Feed