Rabu, 18 Apr 2018 13:11 WIB

Barbara Bush Disebut Meninggal Akibat PPOK, Apakah Itu?

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Barbara Bush, istri dari mantan presiden AS George Bush meninggal dunia. Foto: Dok. REUTERS/Jason Reed/File Photo Barbara Bush, istri dari mantan presiden AS George Bush meninggal dunia. Foto: Dok. REUTERS/Jason Reed/File Photo
Jakarta - Barbara Bush meninggal dunia pada Rabu (18/4/2018) di usianya yang ke-92 tahun. Barbara sebelumnya sempat sakit dan menolak menjani perawatan di rumah sakit.

"Setelah serangkaian perawatan di rumah sakit baru-baru ini, dan setelah berkonsultasi dengan keluarga dan dokternya, Ny. Bush, yang kini berusia 92 tahun, memutuskan untuk tidak mencari perawatan medis tambahan dan malah akan fokus pada perawatan yang 'nyaman'," ungkap Jim McGrath sang jubir keluarga dalam sebuah rilis, dikutip dari The Guardian.

Istri dari presiden Amerika Serikat George W. Bush ini disebut-sebut meninggal karena beberapa kondisi medis, salah satunya adalah chronic obstructive pulmonary disease atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).


PPOK adalah salah satu bentuk penyebab penyakit paru obstruktif. Sejumlah laporan media menyebutkan Barbara Bush mengidap jenis penyakit progresif ini.

Menurut situs Web MD, penyakit ini disebabkan adanya kerusakan pada paru-paru atau penyempitan jalur udara di dalam paru-paru. Sehingga udara yang dikeluarkan jadi lebih lambat dari biasanya.

Hal tersebut mengakibatkan sejumlah besar udara dapat tertinggal di paru-paru. Gejala yang timbul biasanya sering bernapas pendek karena kesulitan mengeluarkan udara dari paru-paru.

PPOK biasanya terjadi pada orang berusia di atas 40 tahun dan punya sejarah perokok berat. 90 persen kasus PPOK berasal dari perokok, seperti dikutip dari Health Line.

Meski begitu, PPOK juga dapat menyerang perokok pasif. Penyakit ini dapat berisiko tinggi menyebabkan gagal jantung.


Barbara Bush dalam bukunya Barbara Bush: A Memoir menyebutkan bahwa ia adalah perokok berat selama hampir 25 tahun.

"Aku sudah merokok sejak usia 18 tahun dan aku tahu seharusnya aku berhenti tapi aku tak pernah melakukannya," tulisnya dalam buku tersebut.

Setelah menjalani sebuah operasi, seorang perawat memergokinya merokok padahal Barbara tengah dalam pengobatan. Perawat itulah yang membuatnya berhenti merokok di tahun 1968.

"Sungguh mengerikan. Sekitar enam minggu aku terbangun dengan berkeringat dingin," lanjutnya.

Sepanjang hidupnya, wanita yang dikenal sebagai "Silver Fox" karena rambutnya yang berwarna putih ini diketahui berperan besar dalam dunia kesehatan, pendidikan, sosial dan relawan.

Beberapa organisasi yang ia dukung antara lain Leukemia Society of America, Ronald McDonald House Charities, Boys & Girls Club of America dan juga sebagai salah satu anggota Mayo Clinic Foundation.
(Frieda Isyana Putri/up)