6 Penyakit di Dunia yang Membentuk Sejarah Manusia

6 Penyakit di Dunia yang Membentuk Sejarah Manusia

Firdaus Anwar - detikHealth
Rabu, 25 Apr 2018 08:05 WIB
6 Penyakit di Dunia yang Membentuk Sejarah Manusia
Ada banyak penyakit yang ada di dunia. Beberapa di antaranya memiliki dampak yang sangat besar bagi manusia hingga meninggalkan sejarah. Foto: Thinkstock
Jakarta - Ada banyak penyakit yang ada di dunia. eberapa di antaranya diketahui memiliki dampak yang sangat besar bagi kehidupan manusia hingga meninggalkan sejarah.

Pembawa acara SciShow Stefan Chin mengatakan setidaknya ada enam penyakit yang telah membentuk sejarah manusia. Kebanyakan adalah penyakit menular yang pada zaman dulu begitu mematikan membunuh banyak orang.

Apa saja enam penyakit tersebut? Berikut penjelasannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pes

Foto: internet
Pes atau plague adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Bila tertular gejala yang ditimbulkan biasanya adalah demam tinggi, mengigil, dan bila semakin parah dapat membuat seorang pasien meninggal.

Pada abad pertengahan di Eropa penyakit pes membunuh jutaan jiwa dan dikenal dengan nama Black Pleague. Saat itu diperkirakan seperempat atau setengah populasi manusia di Eropa musnah.

Cacar air

Foto: BBC
Sebelum diketahui obatnya penyakit cacar air membunuh hampir 30 persen manusia yang terjangkit. Ciri utama dari cacar air adalah munculnya bintil-bintil berisi cairan pada kulit penderita dan bila orang lain terpapar luka atau cairan dari bintil tersebut maka ia bisa terinfeksi.

"Penyakit ini terkenal karena berdampak besar saat kolonialis dari Eropa menjajah Amerika. Penduduk pribumi memiliki imunitas untuk melawan penyakit lokal tapi tidak untuk virus asing. Jadi virus Variola (penyebab cacar -red) menginfeksi dan membunuh banyak pribumi," kata Stefan.

Sifilis

Foto: The Lancet
Penyakit infeksi menular seksual sifilis diduga awalnya menyebar ketika penjajah Eropa kembali dari Amerika. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum ini jadi masalah karena menyebabkan demensia, disfungsi organ, nyeri, dan kematian.

"Wabah sifilis pertama tercatat di tahun 1495, ketika tentara Perancis terinfeksi setelah merayakan kemenangan berpesta dengan wanita pekerja seks. Saat itu sifilis begitu mematikan karena termasuk penyakit baru sehingga orang-orang di Eropa tidak memiliki kekebalan terhadapnya," kata Stefan.

Tidak ada data pasti berapa jumlah orang yang meninggal, namun sifilis jadi salah satu penyakit pertama yang diketahui menular lewat hubungan seksual. Oleh sebab itu orang-orang memilih untuk menyembunyikannya karena malu.

Kolera

Foto: Reuters
Kolera adalah penyakit pencernaan yang dapat membuat pengidapnya muntah-muntah dan diare parah. Disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae penyakit ini menjadi masalah global hingga sekarang dengan estimasi korban meninggal sekitar 100 ribu jiwa per tahun.

Kolera disebarkan ketika seseorang meminum air yang terkontaminasi. Namun orang-orang di Inggris tahun 1830-an, tempat di mana kolera mewabah, masih percaya bahwa semua penyakit apapun itu disebabkan oleh udara yang buruk.

"Oleh sebab itu ketika seorang dokter bernama John Snow pada tahun 1854 melacak hampir semua korban terkena kolera setelah minum dari satu pompa air, tidak ada yang percaya," ungkap Stefan.

"Sampai ada seorang pejabat lokal yang ingin membuktikan John salah. Namun hal itu gagal karena laporan dia justru menemukan bukti bahwa wabah kolera disebabkan oleh tercemarnya air akibat popok bayi. John jadi dianggap sebagai bapak epidemiologi modern," lanjutnya.

Demam kuning

Foto: africanews.com
Disebabkan oleh flavivirus, demam kuning populer ketika menjadi wabah di tahun 1818 saat Perancis membangun Terusan Panama. Saat itu orang-orang menyadari penyakit demam kuning tapi tidak tahu bagaimana ia disebarkan.

Lebih dari 200 ribu pekerja saat itu meninggal karena demam kuning atau malaria. Hal ini memaksa Perancis untuk menghentikan pekerjaannya di tahun 1889.

Sampai pada tahun 1900-an Amerika mengidentifikasi nyamuk sebagai penyebar penyakit dan menyelesaikan Terusan Panama.

"Mereka menguras air di kota dan rumah terdekat, tempat di mana nyamuk bertelur," kata Stefan.

Hemofilia

Foto: ilustrasi/thinkstock
Hemofilia adalah penyakit genetik di mana darah pengidapnya sulit untuk membeku bila terjadi luka. Kondisi ini meninggalkan sejarah karena pengidapnya banyak berasal dari kalangan bangsawan.

"Dalam sejarah para bangsawan di Eropa melakukan praktik pernikahan sesama kerabat untuk bisa tetap memiliki 'darah murni'. Nah ketika dua orang bersaudara memiliki anak, ada kemungkinan tinggi keduanya membawa genetik cacat," kata Stefan.
Halaman 2 dari 7
Pes atau plague adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Bila tertular gejala yang ditimbulkan biasanya adalah demam tinggi, mengigil, dan bila semakin parah dapat membuat seorang pasien meninggal.

Pada abad pertengahan di Eropa penyakit pes membunuh jutaan jiwa dan dikenal dengan nama Black Pleague. Saat itu diperkirakan seperempat atau setengah populasi manusia di Eropa musnah.

Sebelum diketahui obatnya penyakit cacar air membunuh hampir 30 persen manusia yang terjangkit. Ciri utama dari cacar air adalah munculnya bintil-bintil berisi cairan pada kulit penderita dan bila orang lain terpapar luka atau cairan dari bintil tersebut maka ia bisa terinfeksi.

"Penyakit ini terkenal karena berdampak besar saat kolonialis dari Eropa menjajah Amerika. Penduduk pribumi memiliki imunitas untuk melawan penyakit lokal tapi tidak untuk virus asing. Jadi virus Variola (penyebab cacar -red) menginfeksi dan membunuh banyak pribumi," kata Stefan.

Penyakit infeksi menular seksual sifilis diduga awalnya menyebar ketika penjajah Eropa kembali dari Amerika. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum ini jadi masalah karena menyebabkan demensia, disfungsi organ, nyeri, dan kematian.

"Wabah sifilis pertama tercatat di tahun 1495, ketika tentara Perancis terinfeksi setelah merayakan kemenangan berpesta dengan wanita pekerja seks. Saat itu sifilis begitu mematikan karena termasuk penyakit baru sehingga orang-orang di Eropa tidak memiliki kekebalan terhadapnya," kata Stefan.

Tidak ada data pasti berapa jumlah orang yang meninggal, namun sifilis jadi salah satu penyakit pertama yang diketahui menular lewat hubungan seksual. Oleh sebab itu orang-orang memilih untuk menyembunyikannya karena malu.

Kolera adalah penyakit pencernaan yang dapat membuat pengidapnya muntah-muntah dan diare parah. Disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae penyakit ini menjadi masalah global hingga sekarang dengan estimasi korban meninggal sekitar 100 ribu jiwa per tahun.

Kolera disebarkan ketika seseorang meminum air yang terkontaminasi. Namun orang-orang di Inggris tahun 1830-an, tempat di mana kolera mewabah, masih percaya bahwa semua penyakit apapun itu disebabkan oleh udara yang buruk.

"Oleh sebab itu ketika seorang dokter bernama John Snow pada tahun 1854 melacak hampir semua korban terkena kolera setelah minum dari satu pompa air, tidak ada yang percaya," ungkap Stefan.

"Sampai ada seorang pejabat lokal yang ingin membuktikan John salah. Namun hal itu gagal karena laporan dia justru menemukan bukti bahwa wabah kolera disebabkan oleh tercemarnya air akibat popok bayi. John jadi dianggap sebagai bapak epidemiologi modern," lanjutnya.

Disebabkan oleh flavivirus, demam kuning populer ketika menjadi wabah di tahun 1818 saat Perancis membangun Terusan Panama. Saat itu orang-orang menyadari penyakit demam kuning tapi tidak tahu bagaimana ia disebarkan.

Lebih dari 200 ribu pekerja saat itu meninggal karena demam kuning atau malaria. Hal ini memaksa Perancis untuk menghentikan pekerjaannya di tahun 1889.

Sampai pada tahun 1900-an Amerika mengidentifikasi nyamuk sebagai penyebar penyakit dan menyelesaikan Terusan Panama.

"Mereka menguras air di kota dan rumah terdekat, tempat di mana nyamuk bertelur," kata Stefan.

Hemofilia adalah penyakit genetik di mana darah pengidapnya sulit untuk membeku bila terjadi luka. Kondisi ini meninggalkan sejarah karena pengidapnya banyak berasal dari kalangan bangsawan.

"Dalam sejarah para bangsawan di Eropa melakukan praktik pernikahan sesama kerabat untuk bisa tetap memiliki 'darah murni'. Nah ketika dua orang bersaudara memiliki anak, ada kemungkinan tinggi keduanya membawa genetik cacat," kata Stefan.

(fds/up)

Berita Terkait