Ditulis dalam jurnal Nature, peneliti menekankan bahwa terobosan ini bukan untuk mengkloning manusia atau hewan. Dr Nicolas Rivron dari Merlin Institute of Maastricht University mengatakan teknologi embrio sintetik ini akan dipakai untuk meneliti masalah kesuburan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sekarang bisa mendapatkan banyak embrio dan menelitinya secara detail. Ini bisa membantu kita untuk tahu misalnya kenapa beberapa embrio gagal untuk tertanam di rahim kemudian mengembangkan obatnya," ungkap Dr Nicolas seperti dikutip dari BBC, Jumat (4/5/2018).
Peneliti menyebut saat ini tidak ada rencana mengembangkan embrio buatan memakai sel punca manusia. Perlu ada peraturan dan persetujuan sebelum bisa dilakukan.
Dr Nicolas sendiri secara sederhana menjelaskan embrio dibuat dengan menggabungkan dua tipe sel punca tikus. Di bawah mikroskop embrio sintetik ini memiliki struktur serupa dengan embrio normal yang bisa berkembang menjadi bayi.
