Bahas Obat Herbal, Pakar Kesehatan Kumpul di Malang

Bahas Obat Herbal, Pakar Kesehatan Kumpul di Malang

Tia Reisha - detikHealth
Senin, 07 Mei 2018 18:18 WIB
Bahas Obat Herbal, Pakar Kesehatan Kumpul di Malang
Foto: Pakar kesehatan bahas obat herbal (Dok. Sido Muncul)
Malang - Pakar kesehatan berkumpul di Malang, Jawa Timur. Mereka membahas tentang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi obat herbal.

Pakar kesehatan berasal dari Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang, Ikatan Dokter Indonesia, dan Ikatan Apoteker Indonesia.

Mereka yakni Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM, Dra. Rr. Maya Gustina Andarini, Apt., M.Sc, Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional Kemenkes, Dr. dr. Ina Rosalina, Sp.A(K), M.Kes., MH.Kes, Direktur PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat, Imunolog Peneliti Herbal Guru Besar Universitas Diponegoro, Prof. dr. Edi Dharmana, M.Sc., PhD, Sp.Park, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Ipang Djunarko, S.Si., M.Sc., Apt, dan dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, Dr. Husnul Khotimah, S.Si., M.Kes

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Pakar tersebut mengadakan seminar herbal pada Minggu (6/5/2018). Tema yang diusung pada seminar yang diadakan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, Ikatan Dokter Indonesia, dan Ikatan Apoteker Indonesia itu yakni 'Memanfaatkan Obat Herbal Menuju Indonesia Sehat'.

Seminar ini dibuka dengan sambutan dari Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, Dr. dr. Sri Andarini, M.Kes. Kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman Kerja Sama antara Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang dan Sido Muncul. Penandatanganan yang dilakukan oleh Sri dan Irwan tersebut membahas tentang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Selain itu, para pembicara juga menyampaikan berbagai materi tentang Kebijakan Obat Asli Indonesia, Kebijakan Pengobatan Tradisional Komplementer di Indonesia, Industri Herbal Berbasis Good Manufacturing Practices (GMP), Uji Manfaat Tolak Angin, dan Uji Toksisitas Subkronis Tolak Angin Cair. Pembahasan tersebut bertujuan agar penelitian tanaman herbal dapat terus dilakukan.


Menurut Irwan, melalui seminar herbal seperti ini pihaknya berharap akademisi kedokteran terdorong untuk terus melakukan penelitian tanaman obat secara ilmiah. Tidak hanya bergantung kepada obat modern yang berbasis kimia.

"Selain itu, kami juga ingin dunia kedokteran mendapat wawasan mengenai industri jamu. Penelitian yang kami lakukan untuk mengembangkan produk dan penggunaan jamu untuk pelayanan kesehatan," ujar Irwan, dalam keterangan tertulisnya, Senin (7/5/2018).

Selain itu, ia juga menambahkan produk Tolak Angin telah mendapat sertifikat Obat Herbal Terstandar (OHT) dari BPOM. Hal ini menunjukan bahwa produk tersebut sudah lolos dari berbagai tahapan penelitian.

Seperti halnya produk Tolak Angin, Sido Muncul telah melakukan berbagai penelitian, yaitu Uji Toksisitas dan Uji Khasiat dengan Universitas Sanata Dharma dan Universitas Diponegoro.

"Hasilnya, minum Tolak Angin dalam jangka panjang tidak menimbulkan efek samping jika diminum sesuai dosis anjuran (tidak menimbulkan efek toksik bagi organ tubuh). Tahun 2007, Tolak Angin telah mendapatkan sertifikat Obat Herbal Terstandar (OHT) dari BPOM," katanya.

Seminar ini dihadiri oleh 250 peserta dengan latar belakang kedokteran, peneliti, mahasiwa, dan masyarakat umum di Malang.

Seminar herbal yang diadakan di Malang ini merupakan seminar keempat puluh yang diselenggarakan oleh Sido Muncul sejak 2007. Kota-kota lain juga pernah dijadikan lokasi diadakannya seminar herbal ini, seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Ungaran, Yogyakarta, Medan, Lampung, Pekanbaru, Padang, Palembang, Solo, Makassar, Surabaya, Jombang, Batam, Magelang, Banjarmasin, dan Bali.

Seperti diketahui, Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbanyak di dunia. Dari 40 ribu spesies tanaman obat yang ada di bumi, sekitar 30 ribu di antaranya ditemukan di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 9.600 di antaranya memiliki khasiat untuk pengobatan namun baru sekitar 200 spesies saja yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional.

Menurut data WHO pada 2005, diperkirakan 75%-80% penduduk dunia pernah menggunakan obat-obatan herbal. Oleh karena itu, saat ini para praktisi medis dan farmasi terus melakukan penelitian lebih lanjut untuk mendalami dan membuktikan tingkat keberhasilan obat-obatan herbal yang disebut dengan herbal medik.

Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang herbal perlu terus dilakukan oleh pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat. Salah satunya dengan saintifikasi jamu yang berarti penelitian berbasis kesehatan.

(nwy/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads