Selasa, 08 Mei 2018 12:32 WIB

Thalassemia Tak Dapat Disembuhkan, Penyakit Apa Itu?

Widiya Wiyanti - detikHealth
Thalassemia merupakan kelainan sel darah merah yang mudah pecah. Foto: thinkstock Thalassemia merupakan kelainan sel darah merah yang mudah pecah. Foto: thinkstock
Jakarta - Saat mendengar Thalassemia, banyak orang yang masih sangat asing akan nama penyakit tersebut. Padahal, penyakit Thalassemia menempati urutan kelima kasus terbanyak di Indonesia. Dan pada setiap tanggal 8 Mei diperingati Hari Thalassemia Sedunia.

Thalassemia merupakan penyakit kelainan sel darah merah yang mana sel darah merah mudah pecah. Penyakit ini diturunkan oleh kedua orang tua dan pada umumnya terjadi sejak anak-anak.

"Sel darah merah dibentuk dari dua protein utama, alpha dan beta. Di Thalassemia, protein alpha atau beta-nya tidak terbentuk, jadi harusnya bulet tapi jadi pecah," ujar Kepala Divisi Hematologi Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr dr Pustika Amalia Wahidiyat, SpA(K), saat ditemui di Kementerian Kesehatan RI, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (8/5/2018).

Dokter yang disapa dr Lia ini mengatakan bahwa Thalassemia bukan merupakan penyakit menular dan dapat dicegah dengan skrining secara dini, seperti menghindari pernikahan pada sesama pembawa sifat Thalassemia. Namun sayangnya Thalassemia belum bisa disembuhkan dan harus dilakukan transfusi darah secara terus-menerus.

"Masalah dari sel darah merah yang mudah pecah akan terjadi anemia, dan itu nggak bisa menggunakan obat, makanya harus transfusi seumur hidup," tegas dr Lia.


Pada pasien Thalassemia mayor harus transfusi darah dan mengonsumsi obat seumur hidup, sedangkan pada pasien Thalassemia intermediet diharuskan transfusi darah tidak sesering pasien Thalassemia mayor.

Tanda fisik seseorang dengan Thalassemia yaitu pucat, perut membesar karena pembengkakan limpa dan hati, perubahan bentuk tulang muka, serta warna kulit menghitam.

"Di sel darah merah itu ada zat besi, kalau pecah itu (zat besi) akan keluar. Itu lah yang mewarnai kulit anak-anak Thalassemia yang bikin lebih hitam," jelas dr Lia.

Untuk mencegah bertambah banyaknya jumlah kasus Thalassemia, dr Lia mengharapkan skrining Thalassemia bisa masuk dalam program kesehatan di Indonesia.

(wdw/up)
News Feed