Jakarta -
Sering lihat mereka yang 'pintar' malah cenderung sering terlihat murung dan tampak tak berbahagia?
Bagi beberapa pakar, ternyata memang kecerdasan intelejensia kadang tak berbanding lurus dengan kecerdasan emosional. Ditambah lagi, biasanya orang cerdas cenderung overthinking.
Dirangkum dari berbagai sumber, inilah penyebabnya orang cerdas sering tampak murung:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jarang membuat keputusan rasional
Foto: thinkstock
|
Dalam kesehariannya, orang-orang cerdas juga sering membuat kesalahan. Hal ini dikarenakan tingkah mereka yang kadang tidak rasional dan lebih rentan berdelusi dan mengandalkan intuisi.
"Orang cerdas seharusnya lebih sering membicarakan masalahnya dengan posisi sebagai orang ketiga. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak emosional sendiri, mengurangi bias dan menyimpulkan hal-hal secara lebih bijak," kata ilmuwan bernama Igor Grossman dari University of Waterloo, seperti dilansir dari Bright Side.
Tak selalu sukses
Foto: ts
|
Menurut para ilmuwan, kecerdasan emosi, moral, dan fisik berperan besar dalam meraih kesuksesan finansial. Pemenang Nobel Prize, psikolog Daniel Kahneman, menyebutkan bahwa orang-orang lebih suka berbisnis dengan orang yang mereka sukai dan percayai, meski produk yang ditawarkan cukup mahal.
Orang yang cerdas, meski tingkat intelejensianya tinggi, biasanya berbanding terbalik dengan kecerdasan emosinya. Kecerdasan emosi diekspresikan dari seberapa pahamnya dirimu tentang apa yang kamu dan orang lain rasakan, sementara kecerdasan moral adalah apa yang kamu rasakan mengenai kewajibanmu dan kejujuranmu.
Kelewat sering stres
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Seorang ilmuwan asal Kanada menyimpulkan bahwa orang yang ber-IQ tinggi agak berlebihan menangani masalah sehari-hari sesimpel apapun. Mereka punya kebiasaan overthinking mengenai apa yang terjadi, termasuk hal-hal yang negatif, yang akhirnya membuat mereka super stres.
"Penting untuk mempelajari untuk menon-aktifkan perasaan negatif sementara ketika kita dihadapkan oleh masalah yang cukup banyak. Hal ini akan membantu kita menganalisa situasi secara tenang dan menemukan cara untuk keluar dari situasi yang sulit," saran psikolog Mihaly Csikszentmihalyi
Cenderung punya masalah kesehatan
Foto: Thinkstock
|
Makin cerdas orang, makin sering begadang, adalah kesimpulan yang ditarik oleh para ilmuwan mengenai para orang cerdas. Regimen ini diketahui akan menimbulkan serangan jantung, dan ditambah lagi, orang cerdas lebih sering menjadi peminum alkohol dan perokok berat karena adanya rasa cemas yang meningkat.
Jika kamu merasakan hal ini, ada baiknya mencoba untuk rileks. Misal dengan berlibur atau menyisihkan waktu untuk istirahat tiap harinya.
"Bahkan alokasikan waktumu untuk ngaso. Berolahragalah secara rutin, apapun yang kamu suka. Karena dalam melakukan kegiatan tersebut, tubuhmu akan membentuk "hormones of joy" yang lebih kita kenal sebagai endorfin yang dapat meningkatkan moodmu," kata Adam J. Jackson, seorang penulis, pebisnis, dan motivator.
Lebih nyaman sendirian
Foto: Thinkstock
|
Orang cerdas suka tidak nyaman jika harus sering kontak dengan orang lain, karena mereka terlalu fokus dalam meraih tujuan mereka. Sehingga bagi mereka berhubungan dengan orang lain akan membuang-buang waktu dan kesempatannya.
Jika kamu juga alami hal ini, tak masalah, namun jangan sampai kamu harus mengisolasi dirimu dari orang lain. Para psikolog telah membuktikan bahwa orang yang sering menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat mereka merasa lebih bahagia.
Dalam kesehariannya, orang-orang cerdas juga sering membuat kesalahan. Hal ini dikarenakan tingkah mereka yang kadang tidak rasional dan lebih rentan berdelusi dan mengandalkan intuisi.
"Orang cerdas seharusnya lebih sering membicarakan masalahnya dengan posisi sebagai orang ketiga. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak emosional sendiri, mengurangi bias dan menyimpulkan hal-hal secara lebih bijak," kata ilmuwan bernama Igor Grossman dari University of Waterloo, seperti dilansir dari Bright Side.
Menurut para ilmuwan, kecerdasan emosi, moral, dan fisik berperan besar dalam meraih kesuksesan finansial. Pemenang Nobel Prize, psikolog Daniel Kahneman, menyebutkan bahwa orang-orang lebih suka berbisnis dengan orang yang mereka sukai dan percayai, meski produk yang ditawarkan cukup mahal.
Orang yang cerdas, meski tingkat intelejensianya tinggi, biasanya berbanding terbalik dengan kecerdasan emosinya. Kecerdasan emosi diekspresikan dari seberapa pahamnya dirimu tentang apa yang kamu dan orang lain rasakan, sementara kecerdasan moral adalah apa yang kamu rasakan mengenai kewajibanmu dan kejujuranmu.
Seorang ilmuwan asal Kanada menyimpulkan bahwa orang yang ber-IQ tinggi agak berlebihan menangani masalah sehari-hari sesimpel apapun. Mereka punya kebiasaan overthinking mengenai apa yang terjadi, termasuk hal-hal yang negatif, yang akhirnya membuat mereka super stres.
"Penting untuk mempelajari untuk menon-aktifkan perasaan negatif sementara ketika kita dihadapkan oleh masalah yang cukup banyak. Hal ini akan membantu kita menganalisa situasi secara tenang dan menemukan cara untuk keluar dari situasi yang sulit," saran psikolog Mihaly Csikszentmihalyi
Makin cerdas orang, makin sering begadang, adalah kesimpulan yang ditarik oleh para ilmuwan mengenai para orang cerdas. Regimen ini diketahui akan menimbulkan serangan jantung, dan ditambah lagi, orang cerdas lebih sering menjadi peminum alkohol dan perokok berat karena adanya rasa cemas yang meningkat.
Jika kamu merasakan hal ini, ada baiknya mencoba untuk rileks. Misal dengan berlibur atau menyisihkan waktu untuk istirahat tiap harinya.
"Bahkan alokasikan waktumu untuk ngaso. Berolahragalah secara rutin, apapun yang kamu suka. Karena dalam melakukan kegiatan tersebut, tubuhmu akan membentuk "hormones of joy" yang lebih kita kenal sebagai endorfin yang dapat meningkatkan moodmu," kata Adam J. Jackson, seorang penulis, pebisnis, dan motivator.
Orang cerdas suka tidak nyaman jika harus sering kontak dengan orang lain, karena mereka terlalu fokus dalam meraih tujuan mereka. Sehingga bagi mereka berhubungan dengan orang lain akan membuang-buang waktu dan kesempatannya.
Jika kamu juga alami hal ini, tak masalah, namun jangan sampai kamu harus mengisolasi dirimu dari orang lain. Para psikolog telah membuktikan bahwa orang yang sering menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat mereka merasa lebih bahagia.
(Frieda Isyana Putri/up)