Rabu, 23 Mei 2018 11:29 WIB

Mahasiswa ITS Kembangkan Alat Terapi Osteoporosis dan Stroke

Ongq Rifaldy Litualy - detikHealth
Inovasi ini terinspirasi repotnya antre di rumah sakit (Foto: Ongq Rifaldy Litualy) Inovasi ini terinspirasi repotnya antre di rumah sakit (Foto: Ongq Rifaldy Litualy)
Surabaya - Osteoporosis dan stroke, dua kondisi ini lazim ditemukan di Indonesia. Keduanya sama-sama bisa melumpuhkan fisik penderitanya. Namun dengan terapi fisik, dampak dari kedua penyakit ini setidaknya bisa dikurangi.

Adalah Muhammad Fauzan (23), mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang mengembangkan alat terapi fisik bagi penderita osteoporosis dan stroke untuk tugas akhirnya.

Oleh Fauzan, alatnya ini disebut dengan Medical Capture atau disingkat MedCap. Sebenarnya ia bukanlah orang pertama yang mengembangkan alat bantu terapi fisik ini.

"Saya hanya meneruskan berinovasi dari penelitian yang sudah ada dengan menambahkan sedikit dengan bantuan pembimbing saya," ujar Fauzan kepada detikHealth beberapa waktu lalu.


Cara kerja alat ini adalah dengan memberikan gambar gerakan visual yang nanti akan membantu pasien mengikuti gerakan yang ditampilkan pada gambar tersebut.

"Alat ini bekerja yaitu berupa gambar yang ditampilkan di monitor harus diikuti oleh pasien. Gerakan ini adalah gerakan aktif yaitu semua anggota tubuh akan bergerak," jelasnya sembari memberikan demonstrasi.

Pengguna tinggal mengikuti tiap perintah gerakan yang diberikan oleh alat ini di layar. Sejumlah gerakan yang ditampilkan dalam alat ini di antaranya tangan diangkat ke atas atau lengan kanan kiri di pinggang.

Setiap gambar yang diikuti akan memberikan angka penilaian, dan dari situ fisioterapis dapat menilai sejauh mana dampak osteoporosis maupun stroke yang dialami penggunanya.


Tampilan alat yang dikembangkan Fauzan.Tampilan alat yang dikembangkan Fauzan. Foto: Ongq Rifaldy Litualy


Mahasiswa jurusan Ilmu Komputer ITS ini pun berharap inovasi tersebut bisa membantu setiap orang dimana saja tanpa harus ke fisioterapis atau rumah sakit.

"Yang coba saya lakukan adalah bagaimana kita bisa mendapatkan terapi versi kita sendiri dibantu alat ini tanpa repot-repot antre ke rumah sakit", tutur Fauzan.

Meski demikian Fauzan menyadari jika alat ini masih belum siap untuk dipergunakan masyarakat. Ditambahkan pembimbing Fauzan, Supeno Mardi Susiki Nugroho, alat ini juga perlu diberi penambahan fitur, terutama untuk penyembuhan penyakit stroke.

"Nanti akan ditambahkan fitur baru untuk sensor 5 jari nya, namun saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut takutnya keduluan orang lain, soalnya ini berkaitan dengan paten juga kan," ungkap Suspeno.



Ditemui dalam kesempatan yang sama, pembimbing Fauzan yang lain, I Ketut Eddy Purnama menambahkan, untuk saat ini, alat tersebut masih sebatas purwarupa dan baru menjalani uji skala di laboratorium.

"Sebenarnya tidak mudah untuk langsung go public, karena masih harus ke komite etik dari rumah sakit dan beberapa tahapan dalam bidang medis sampai alat ini benar benar dikatakan layak untuk digunakan pasien nantinya," terangnya.

Pasien tidak perlu lagi repot-repot antre di rumah sakit.Pasien tidak perlu lagi repot-repot antre di rumah sakit. Foto: Ongq Rifaldy Litualy
(lll/up)
News Feed