Kamis, 07 Jun 2018 15:20 WIB

Wanita Dirumorkan 'Hamil' Gara-gara Makan Cumi, Ini yang Sebenarnya Terjadi

Widiya Wiyanti - detikHealth
Seorang wanita dirumorkan hamil setelah makan cumi setengah matang. Foto: iStock Seorang wanita dirumorkan 'hamil' setelah makan cumi setengah matang. Foto: iStock
Jakarta - Seorang wanita di Korea merasakan sakit yang luar biasa di mulutnya setelah mengonsumsi cumi yang hanya disajikan setengah matang. Wanita berusia 63 tahun itu segera memeriksakan kondisinya ke dokter.

Dokter di Korea awalnya menjelaskan kondisi yang dialami wanita yang tak disebut namanya itu menemukan 12 organisme kecil yang berbentuk seperti serangga di pada lidahnya.

Ternyata setelah ditelusuri, dilaporkan oleh Journal of Parasitology, wanita itu mengonsumsi cumi yang belum dibersihkan spermanya. Meski ia telah memuntahkannya, sperma cumi tersebut tetap menempel di mulutnya.

Beberapa ahli menyatakan bahwa 12 organisme kecil itu merupakan bayi cumi yang terlahir di mulut wanita tersebut. Itu berasal dari kantung sperma yang dimakannya.

"Atas dasar morfologi (bentuk) mereka dan keberadaan kantung sperma, benda asing itu diidentifikasi sebagai spermatophora cumi-cumi," tulis para ilmuwan dikutip dari DailyMail.


Namun para ilmuwan membantah adanya impregnasi di dalam mulut wanita tersebut. Karena sperma cumi membutuhkan telur betina untuk dipupuk dan tumbuh menjadi bayi cumi-cumi.

Dikutip dari Science 2.0 pun tidak ada yang namanya pembuahan di dalam mulut wanita itu.

"Tidak ada yang pernah hamil karena makan cumi-cumi, atau dari kontak dengan cumi-cumi, dan lebih jauh lagi," tulisnya.

Namun, kasus serupa pernah didokumentasikan di masa lalu bahwa spermatophora cumi-cumi bisa menempel pada tubuh manusia secara mandiri.

Spermatophora menempelkan diri ke telur betina ketika cumi mereproduksi, dan para ilmuwan telah mengamati mereka bahwa bisa menyebabkan rasa sakit dengan melakukan hal yang sama pada mulut manusia ketika dimakan mentah, menurut laporan 2012 dalam jurnal Zoomorphology.

Laporan itu mengatakan bahwa proses tersebut bisa terjadi di luar tubuh cumi-cumi dan walau tanpa pasangan. Dan para ilmuwan mengatakan cara terbaik untuk menghindarinya adalah dengan membuang semua organ internal hewan sebelum memakannya.

(wdw/up)