Sabtu, 09 Jun 2018 04:30 WIB

Pelecehan Seksual, Salah Siapa?

Veronica Adesla - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Berikut ini adalah respons saya terhadap artikel di detikHealth berjudul 'Tips Menghindari Pelecehan Seksual'. Saya memahami banyak teman-teman pembaca yang kemudian menjadi resah dan bergelut hati dengan pernyataan saya dalam artikel tersebut. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, saya hendak meminta maaf bila terkesan bahwa saya menyalahkan korban.

Tampaknya, apa yang hendak saya sampaikan tidak terutarakan dengan baik. Oleh karena itu pada kesempatan ini saya hendak mengklarifikasi beberapa hal sebagai berikut:

1. Pembahasan saya dalam artikel tersebut lebih melihat pada hal-hal yang dapat disiasati dari sisi korban. Adapun hal ini didasarkan pada pertanyaan yang diajukan kepada saya. Pembahasan juga lebih terkait dengan kasus pelecehan seksual verbal di media sosial. Namun demikian, untuk mendapatkan gambaran menyeluruh atas persoalan pelecehan seksual verbal, harus dilihat dari kedua belah pihak, baik korban maupun pelaku. Oleh karenanya saya lengkapi bahasan dari sisi pelaku dengan beberapa poin yang ada di bawah ini.

2. Pelecehan seksual dapat terjadi pada siapapun tanpa pandang bulu. Bahkan sekalipun orang tersebut telah menjaga dan membawa dirinya dengan pintar dan baik di lingkungan. Oleh karena itu, perilaku menjaga dan membawa diri dilakukan sebagai langkah untuk meminimalisir terjadinya pelecehan seksual bukan untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya pelecehan seksual. Bagaimanapun pelaku harus bertanggung jawab penuh atas pelecehan seksual yang dilakukannya.

3. Saya memang meng-encourage atau mendukung penyelesaian masalah pada kasus pelecehan seksual pada perempuan dengan bersikap sebagai 'lady', namun hal ini bukan berarti bahwa sebagai 'lady' itu mati rasa, atau tidak mampu merasakan emosi apapun setelah peristiwa pelecehan yang dialami. Sebagai seorang 'lady', sangat wajar muncul perasaan tidak dihormati, marah, geram, dan benci ketika mengalami pelecehan seksual. Perasaan inilah yang kemudian diproses dan dikelola secara sehat menjadi tindakan yang strategis dan terencana dengan baik. Tujuannya untuk menuntut keadilan, kebenaran, menuntut pelaku, dan membuat efek jera.

4. Tindakan yang strategis dan terencana dengan baik ini dapat diwujudkan melalui:

a. Korban membuat pernyataan tegas secara personal kepada pelaku, yang bila tidak ditanggapi korban berhak membuat pernyataan tegas di media sosial tanpa perlu menyebutkan identitas pelaku, berikutnya bila masih tidak ditanggapi dengan baik, benar, dan serius maka dapat ditindaklanjuti kepada pengaduan ke jalur hukum.

b. Namun, khusus untuk kasus pelecehan seksual non-verbal, yaitu bertindak tidak senonoh, asusila, mempertontonkan bagian tubuh privat, meraba, mengintip, dan sebagainya, maka sanksi sosial dengan berteriak dan membuat pelaku malu, serta segera melaporkan kepada pihak berwenang (petugas hukum, satpam, polisi) adalah tindakan yang harus dilakukan, karena pada kasus demikian, membuat pernyataan tegas secara personal menjadi tidak efektif.

5. Pada kasus pelecehan verbal di media sosial, maka langkah membuat pernyataan tegas secara personal dan (bila tidak ditanggapi) berlanjut kepada penyataan tegas di medsos (tanpa mengungkapkan identitas pelaku), menurut saya adalah langkah yang tepat. Tindakan ini sangat beralasan dan tepat guna. Manfaat dari tindakan seperti ini adalah:

a. Membuat sekitar menjadi waspada terhadap kemungkinan terjadinya pelecehan seksual verbal seperti ini di media sosial.
b. Menjadi contoh yang baik tentang bagaimana harus bersikap tegas terhadap pelecehan seksual verbal demikian.
c. Meng-encourage sekitar untuk tidak memicu terjadinya penghakiman secara masal terhadap pelaku pelecehan seksual verbal. Hal ini dikarenakan bagaimanapun kita ini negara hukum, maka mari selesaikan secara hukum.

6. Penting untuk menambah edukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan adanya berbagai bentuk pelecehan seksual di media sosial. Pelecehan seksual merupakan tindakan yang sungguh tidak berakhlak. Tindakan demikian memiliki konsekuensi sanksi hukum dan sanksi sosial. Ketika Anda berhadapan dengan situasi demikian, bertindaklah secara tegas terhadap pelaku, agar tidak ada korban berikutnya.

7. Pelaku pelecehan seksual tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun. Mereka sungguh penjahat seksual yang pantas mendapat sanksi atas perbuatannya. Oleh karena itu PELAKU HARUS DITINDAK TEGAS baik melalui (a) pernyataan tegas dari korban yang menolak dan mengecam pelecehan seksual maupun (b) secara hukum, membuat pengaduan dan memproses sanksi terhadap pelaku. Pada kasus pelecehan seksual di media sosial, pengaduan dapat masuk melalui UU ITE yang saya bahas pada artikel detikHealth berjudul 'Jika Mengalami Pelecehan, Apa Yang Harus Dilakukan? Ini Saran Psikolog'.

Terima kasih atas masukan yang diberikan oleh teman-teman pembaca, saya sungguh menghormati dan menghargai masukan yang bersifat kritis seperti ini. Salam sejahtera untuk semuanya.

(Penulis merupakan seorang psikolog klinis di Personal Growth.) (up/up)
News Feed