Senin, 11 Jun 2018 10:16 WIB

Ini Tiga Cara Kontrol Gula Darah bagi Penyandang Diabetes

Akfa Nasrulhaq - detikHealth
Foto: shutterstock Foto: shutterstock
Jakarta - Penyakit diabetes memang tidak dapat disembuhkan, tapi masih bisa dikontrol agar tidak bertambah parah. Umumnya penyakit gula ini disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat, pola makan yang kurang tepat, kurang gerak, stres, dan faktor keturunan.

Agar diabetes tidak bertambah parah, berikut tiga cara mengontrol gula darah yang bisa dilakukan oleh penyandang diabetes.


Terapi Nutrisi Medis atau Pengaturan Pola Makan

Menurut Head of Medical Marketing Kalbe Nutritionals, dr. Ervina Hasti W, pola makan 3J sangat penting dalam mengontrol diabetes. Adapun pola makan 3J adalah memperhatikan jenis makanan, jumlah kalori, dan jadwal makan.

Pilih jenis makanan yang tinggi serat dan rendah indeks glikemik. Setelah itu, perhatikan jadwal makan dengan memastikan makan besar selama 3 kali sehari dan beberapa kali makan selingan. Dengan catatan, tetap memperhatikan jenis dan jumlah asupan kalori harian.

"Konsumsi makanan yang sehat, tinggi serat, dan karbohidrat dengan indeks glikemik rendah. Kurangi makanan berlemak, makanan cepat saji, atau makanan yang digoreng. Batasi asupan gula sukrosa, sebagai alternatif dapat digunakan gula rendah kalori seperti sukralosa," ujar dr. Ervina pada detikHealth.

Adapun rekomendasi komposisi makanannya adalah yang mengandung karbohidrat 45-65% dari total asupan energi, terutama yang tinggi serat. Kemudian protein 10-20% dari total asupan energi dan lemak 20-25% dari total asupan energi.

Sebagai pilihan asupan yang praktis dengan nutrisi lengkap dan kalori terukur, penyandang diabetes bisa mengonsumsi susu Diabetasol yang dapat membantu mencegah lonjakan gula darah memberikan rasa kenyang lebih lama. Sebagai selingan, Diabetasol Bar dan Diabetasol Sereal juga dapat menjadi alternatif pilihan untuk memenuhi pola makan 3J.

Rutin Melakukan Aktivitas Fisik

Bergerak secara aktif bisa membantu penyandang diabetes untuk memperbaiki sensitivitas insulin dan menurunkan risiko kardiovaskular. Perlu diingat, gaya hidup sedenter atau gaya hidup yang tidak aktif juga berperan dalam mengembangkan risiko diabetes.

"Jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang merupakan latihan yang dianjurkan. Frekuensi latihan dilakukan minimal 30-45 menit per hari dan 3-5 kali per minggu," kata dr. Ervina.


Perhatikan Konsumsi Obat-Obatan

Pemberian obat hipoglikemik oral (OHO) atau obat untuk menurunkan gula darah dipertimbangkan bila penyandang diabetes tidak dapat mencapai kadar glukosa darah yang normal atau mendekati normal. Namun dengan pengaturan pola asupan makan dan olahraga teratur.

dr. Ervina menjelaskan OHO terbagi dalam 2 kelompok, yaitu obat yang memperbaiki kerja insulin dan obat yang meningkatkan produksi insulin. Obat-obatan seperti metformin, glitazone, dan akarbose-adalah obat-obatan kelompok pertama. Mereka bekerja pada hati, otot, jaringan lemak, dan usus yang merupakan tempat di mana terdapat insulin yang mengatur glukosa darah.

Sementara sulfonil, repaglinid, nateglinid, dan insulin yang disuntikkan adalah obat-obatan kelompok kedua. Obat-obatan ini meningkatkan pelepasan insulin yang disuntikkan dan menambah kadar insulin di sirkulasi darah.

Ia pun mengingatkan mekanisme kerja dari obat-obat tersebut berbeda dan pemilihannya akan disesuaikan.

"Dengan pertimbangan kadar gula darah awal dan kadar gula darah yang diinginkan, usia dan berat badan penyandang diabetes, adanya penyakit penyerta, kemungkinan kontraindikasi terhadap pengobatan, kemampuan penyandang diabetes untuk merawat dirinya sendiri, tingkat pengetahuan penyandang diabetes akan diabetes, maupun tingkat motivasi penyandang diabetes menjadi pertimbangan obat-obatan diabetes," tegasnya. (ega/up)
News Feed