Jerman Punya Bir, Korea Punya Kimchi: Siapa Lebih Sehat?

Jerman Punya Bir, Korea Punya Kimchi: Siapa Lebih Sehat?

Luthfiadesta Andiko Putranti - detikHealth
Kamis, 28 Jun 2018 17:42 WIB
Jerman Punya Bir, Korea Punya Kimchi: Siapa Lebih Sehat?
Urusan gaya hidup sehat, banyak yang bisa dibandingkan antara Jerman dan Korea Selatan. Pilih bir atau kimchi?
Jakarta - Jerman boleh kalah dari Korea Selatan dalam babak penyisihan grup di Piala Dunia 2018. Namun di luar sepakbola, ada banyak hal lain yang bisa diperbandingkan di antara keduanya.

Soal gaya hidup sehat, orang Jerman terkenal sebagai peminum bir. Di sisi lain, orang-orang Korea Selatan adalah penggemar kimchi, semacam sayuran fermentasi. Masing-masing punya dampak positif dan negatifnya sendiri bagi kesehatan.



ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini perbandingan gaya hidup sehat orang Jerman dan Korea Selatan.

Bir vs soju

Foto: Istock
Dahulu, orang-orang Jerman percaya bahwa bir lebih sehat dan lebih murah daripada air mineral. Rata-rata satu orang Jerman minum 20 liter bir per tahun.

Sedangkan bagi orang Korea Selatan, minum alkohol adalah budaya yang sudah mendarah daging dan jika menolak maka akan dianggap tidak sopan. Rata-rata satu orang Korea Selatan menghabiskan 100 botol bir atau 60 botol soju per tahun.

Sosis vs kimchi

Foto: iStock
Menurut Kathryn Sucher, Sc.D., R.D., profesor dari San Jose State University, orang Korea Selatan sehari-harinya makan sayuran dan sup yang mengenyangkan namun rendah kalori. Makanan yang berbahan dasar kimchi, ternyata mengandung banyak serat, fitonutrien, dan banyak bakteri baik yang membantu meningkatkan imun tubuh.


Sedangkan bagi orang-orang Jerman, daging dan kentang adalah makanan wajib untuk kesehariannya. Dikutip dari Livestrong, daging dalam bentuk wurst (sosis) adalah yang biasa dimakan oleh mereka. Walapun tinggi protein, makanan sehari-hari khas Jerman dinilai terlalu tinggi lemak jahat, gula, dan karbohidrat.

Sama-sama gila kerja

Foto: thinkstock
Ketepatan waktu dan privasi adalah yang terpenting bagi pekerja Jerman. Mereka biasanya tidak membangun hubungan dengan rekan kerja dan merasa rekan kerja adalah saingannya. Waktu bekerja per minggu rata-rata adalah 40 jam.

Dikutip dari IrishTimes, sebelum diturunkan menjadi 52 jam, Korea Selatan memiliki waktu jam kerja yang sangat tinggi, yaitu 68 jam per minggu. Waktu bekerja ini dianggap membuat kehidupan pekerja berkualitas rendah.

Sama-sama suka jalan kaki

Foto: ilustrasi/thinkstock
Kedua negara yang sudah maju ini memiliki kemiripan dalam urusan transportasi. Para penduduknya lebih memilih untuk menggunakan transportasi umum seperti, bus, kereta bawah tanah, dan kereta. Sistem transportasi umum di Jerman dan Korea Selatan sangat maju dan teratur.

Karena lebih banyak menggunakan transportasi umum, mau tidak mau penduduk kedua negara ini jadi lebih banyak berjalan kaki. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan aktivitas fisik dengan intensitas sedang seperti jalan kaki sekurang-kurangnya 30 menit sehari.

Kebiasaan merokok

Foto: ilustrasi/thinkstock
Menurut Global Tobacco Atlas, pada 2016 tercatat 18,42 persen kematian di Jerman terjadi karena penyakit yang berhubungan dengan rokok. Di Korea Selatan, angkanya tercatat 19,26 persen.

Soal kebiasaan merokok, data tahun 2015 menyebut 32,4 persen orang dewasa di Jerman mengonsumsi. Sedangkan di Korea Selatan, angkanya tercatat sebanyak 49,8 persen. Keduanya masih lebih rendah dibanding 76,2 persen orang dewasa di Indonesia yang merokok.

Halaman 2 dari 6
Dahulu, orang-orang Jerman percaya bahwa bir lebih sehat dan lebih murah daripada air mineral. Rata-rata satu orang Jerman minum 20 liter bir per tahun.

Sedangkan bagi orang Korea Selatan, minum alkohol adalah budaya yang sudah mendarah daging dan jika menolak maka akan dianggap tidak sopan. Rata-rata satu orang Korea Selatan menghabiskan 100 botol bir atau 60 botol soju per tahun.

Menurut Kathryn Sucher, Sc.D., R.D., profesor dari San Jose State University, orang Korea Selatan sehari-harinya makan sayuran dan sup yang mengenyangkan namun rendah kalori. Makanan yang berbahan dasar kimchi, ternyata mengandung banyak serat, fitonutrien, dan banyak bakteri baik yang membantu meningkatkan imun tubuh.


Sedangkan bagi orang-orang Jerman, daging dan kentang adalah makanan wajib untuk kesehariannya. Dikutip dari Livestrong, daging dalam bentuk wurst (sosis) adalah yang biasa dimakan oleh mereka. Walapun tinggi protein, makanan sehari-hari khas Jerman dinilai terlalu tinggi lemak jahat, gula, dan karbohidrat.

Ketepatan waktu dan privasi adalah yang terpenting bagi pekerja Jerman. Mereka biasanya tidak membangun hubungan dengan rekan kerja dan merasa rekan kerja adalah saingannya. Waktu bekerja per minggu rata-rata adalah 40 jam.

Dikutip dari IrishTimes, sebelum diturunkan menjadi 52 jam, Korea Selatan memiliki waktu jam kerja yang sangat tinggi, yaitu 68 jam per minggu. Waktu bekerja ini dianggap membuat kehidupan pekerja berkualitas rendah.

Kedua negara yang sudah maju ini memiliki kemiripan dalam urusan transportasi. Para penduduknya lebih memilih untuk menggunakan transportasi umum seperti, bus, kereta bawah tanah, dan kereta. Sistem transportasi umum di Jerman dan Korea Selatan sangat maju dan teratur.

Karena lebih banyak menggunakan transportasi umum, mau tidak mau penduduk kedua negara ini jadi lebih banyak berjalan kaki. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan aktivitas fisik dengan intensitas sedang seperti jalan kaki sekurang-kurangnya 30 menit sehari.

Menurut Global Tobacco Atlas, pada 2016 tercatat 18,42 persen kematian di Jerman terjadi karena penyakit yang berhubungan dengan rokok. Di Korea Selatan, angkanya tercatat 19,26 persen.

Soal kebiasaan merokok, data tahun 2015 menyebut 32,4 persen orang dewasa di Jerman mengonsumsi. Sedangkan di Korea Selatan, angkanya tercatat sebanyak 49,8 persen. Keduanya masih lebih rendah dibanding 76,2 persen orang dewasa di Indonesia yang merokok.

(up/up)

Berita Terkait