Sering Multitasking? Ini Bahayanya Bagi Kesehatan Kamu

Sering Multitasking? Ini Bahayanya Bagi Kesehatan Kamu

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Selasa, 24 Jul 2018 12:14 WIB
Sering Multitasking? Ini Bahayanya Bagi Kesehatan Kamu
Sering multitasking ternyata tidak baik bagi kesehatan. Foto: thinkstock
Jakarta - Multitasking merupakan istilah ketika seseorang melakukan dua atau lebih pekerjaan dalam waktu bersamaan. Contoh gampangnya, saat kamu bermain ponsel sambil berjalan, itu sudah dikategorikan multitasking.

Padahal menurut pakar, multitasking tidak baik untuk kesehatan. Pakar mengatakan ada beberapa dampak negatif yang bisa terjadi jika kamu keseringan multitasking.

"Multitasking juga bisa menyebkan cemas sehingga kadar hormon stres, kortisol, meningkat. Ketika Anda stres, adrenalin meningkat hingga timbul kekacauan di otak," kata Prof Ealr Miller, ilmuwan saraf di Massachusetts Institute of Technology, dikutip dari Your Tango.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu, apa saja dampak negatif lainnya multitasking? Dirangkum dari berbagai sumber, berikut 5 di antaranya.



Sulit fokus

Foto: Getty Images
Sulit fokus tidak melulu terjadi karena lelah. Pakar mengatakan sulit fokus juga bisa terjadi karena jarang memusatkan perhatian akibat terlalu sering multitasking.

Multitasking membuat beberapa stimulus masuk bersamaan ke dalam otak. Hal ini membuat otak sulit mengambil keputusan, apakah mengerjakan hal A atau B terlebih dahulu, sehingga konsentrasi terbagi dan sulit fokus.

Menurunkan kemampuan mengingat

Foto: iStock
Multitasking juga tidak baik bagi pertahanan memori. Dalam artian, perhatian yang mudah terpecah mempercepat terjadinya penurunan daya ingat.

Tak hanya memori jangka pendek, kemampuan mengingat jangka panjang juga perlahan-lahan menurun jika kamu terlalu sering multitasking.

Bikin gemuk

Foto: Thinkstock
Salah satu kebiasaan multitasking yang buruk adalah makan sambil menonton TV atau membaca buku. Pakar mengatakan kebiasaan multitasking saat makan membuat seseorang lebih mudah gemuk.

Hal ini dikarenakan saat makan dilakukan sambil beraktivitas, fokus otak tidak 100 persen untuk makan. Otak bisa merasa tidak kenyang meskipun kebutuhan kalori tercukupi, yang membuat seseorang makan lebih banyak.

IQ turun

Foto: Daily Mail
Mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus menuntut otak bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menurunkan intelligence quotient (IQ) seseorang.

Bila kita terfokus pada satu pekerjaan di satu waktu, informasi yang didapatkan bisa disimpan dengan mudah dan rapi di dalam hippocampus atau perpustakaannya otak. Sebaliknya, multitasking membuat mekanisme kerja otak berantakan.

Merepotkan diri sendiri

Foto: thinkstock
Saat multitasking, otak juga diibaratkan bola ping pong yang beralih-alih tugas. Multitasking juga bisa meningkatkan dopamin yang justru membuat otak 'kecanduan' dengan kegiatan multitasking.

Dampak 'kecanduan' atau 'high' ini membuat seseorang bisa jadi lebih senang multitasking daripada mengerjakan hal satu per satu. Jika dibiarkan hal ini bisa merepotkan diri sendiri dan orang lain yang bekerja bersamanya.
Halaman 2 dari 6
Sulit fokus tidak melulu terjadi karena lelah. Pakar mengatakan sulit fokus juga bisa terjadi karena jarang memusatkan perhatian akibat terlalu sering multitasking.

Multitasking membuat beberapa stimulus masuk bersamaan ke dalam otak. Hal ini membuat otak sulit mengambil keputusan, apakah mengerjakan hal A atau B terlebih dahulu, sehingga konsentrasi terbagi dan sulit fokus.

Multitasking juga tidak baik bagi pertahanan memori. Dalam artian, perhatian yang mudah terpecah mempercepat terjadinya penurunan daya ingat.

Tak hanya memori jangka pendek, kemampuan mengingat jangka panjang juga perlahan-lahan menurun jika kamu terlalu sering multitasking.

Salah satu kebiasaan multitasking yang buruk adalah makan sambil menonton TV atau membaca buku. Pakar mengatakan kebiasaan multitasking saat makan membuat seseorang lebih mudah gemuk.

Hal ini dikarenakan saat makan dilakukan sambil beraktivitas, fokus otak tidak 100 persen untuk makan. Otak bisa merasa tidak kenyang meskipun kebutuhan kalori tercukupi, yang membuat seseorang makan lebih banyak.

Mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus menuntut otak bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menurunkan intelligence quotient (IQ) seseorang.

Bila kita terfokus pada satu pekerjaan di satu waktu, informasi yang didapatkan bisa disimpan dengan mudah dan rapi di dalam hippocampus atau perpustakaannya otak. Sebaliknya, multitasking membuat mekanisme kerja otak berantakan.

Saat multitasking, otak juga diibaratkan bola ping pong yang beralih-alih tugas. Multitasking juga bisa meningkatkan dopamin yang justru membuat otak 'kecanduan' dengan kegiatan multitasking.

Dampak 'kecanduan' atau 'high' ini membuat seseorang bisa jadi lebih senang multitasking daripada mengerjakan hal satu per satu. Jika dibiarkan hal ini bisa merepotkan diri sendiri dan orang lain yang bekerja bersamanya.

(mrs/up)

Berita Terkait